Arsenal Gagal di Final Liga Champions, Arteta Serukan Pembenahan Tim
Senin, 01 Jun 2026, 05:00 WIBBUDAPEST â Dua dekade menunggu kesempatan kembali ke final Liga Champions berakhir dengan kekecewaan bagi Arsenal. Setelah kalah pada final pertama mereka 20 tahun lalu, The Gunners kembali gagal mengangkat trofi paling prestisius di Eropa usai takluk dari Paris Saint-Germain melalui adu penalti di Puskas Arena, Budapest, Minggu (31/5) dini hari WIB.
Meski demikian, musim ini tetap menjadi bukti bahwa Arsenal telah kembali ke jajaran elite sepak bola Eropa. Setelah menjuarai Liga Inggris untuk pertama kalinya dalam 22 tahun, tim asuhan Mikel Arteta berhasil menembus final Liga Champions. Namun kekalahan dari PSG juga memperlihatkan bahwa masih ada celah yang harus diperbaiki jika ingin benar-benar menjadi kekuatan dominan di benua biru.
Arteta menegaskan Arsenal harus berkembang lebih cepat dan lebih cerdas agar mampu mengakhiri kutukan mereka di kompetisi Eropa. Kekalahan dari PSG menjadi yang kelima secara beruntun bagi Arsenal dalam partai final kompetisi antarklub Eropa.
"Kami ingin mencapai level berikutnya dan kami harus menunjukkan ambisi itu. Kami sangat mampu melakukannya, tetapi itu membutuhkan ambisi yang besar, tindakan yang cepat, dan keputusan yang cerdas," ujar pelatih asal Spanyol tersebut.
Momen para pemain Arsenal berjalan melewati trofi Liga Champions yang gagal mereka raih saat menerima medali runner-up menjadi gambaran pahit malam itu. Kegagalan penalti dari Eberechi Eze dan Gabriel setelah skor 1-1 bertahan selama 120 menit mengubur impian mereka mencatat sejarah baru bagi klub.
Perayaan gelar Liga Inggris yang akan digelar di London memang tetap menjadi momen membanggakan. Namun, keberhasilan domestik itu kini dibayangi rasa penasaran atas peluang emas yang terlewat di panggung Eropa.
Arteta secara terbuka mengakui kualitas lini depan PSG menjadi salah satu faktor pembeda utama dalam laga final. Menurutnya, Arsenal masih tertinggal dalam hal kemampuan individu pemain menyerang dibandingkan juara Eropa tersebut.
"Apa yang mereka mampu lakukan dengan bola, melalui aksi individu, belum pernah saya lihat sebelumnya," kata Arteta.
Pernyataan itu secara tidak langsung menjadi sinyal bahwa Arsenal perlu memperkuat sektor serangan pada bursa transfer musim panas jika ingin menyaingi PSG yang kini menjadi penguasa baru Eropa.
Arteta juga mengungkapkan beberapa pemainnya tidak berada dalam kondisi fisik terbaik setelah menjalani musim yang sangat panjang. Selama musim ini, ia banyak mengandalkan kelompok inti pemain yang relatif terbatas.
Padahal Arsenal telah mendatangkan sejumlah pemain baru pada musim lalu, termasuk Eberechi Eze, Viktor Gyokeres, Martin Zubimendi, dan Noni Madueke. Namun keempat pemain tersebut justru memulai final dari bangku cadangan.
Selama enam setengah tahun memimpin Arsenal, Arteta lebih banyak membangun tim melalui pengembangan pemain muda seperti Bukayo Saka dibandingkan belanja besar-besaran.
Di lini depan, Kai Havertz memang berhasil mencetak gol dan kembali menunjukkan kemampuannya tampil di laga besar. Namun Arsenal masih membutuhkan opsi serangan yang lebih tajam untuk mendampingi Saka.
Perbandingan dengan lini depan PSG terasa sangat mencolok. Klub Prancis itu memiliki pemenang Ballon d'Or Ousmane Dembele, bintang Georgia Khvicha Kvaratskhelia, serta talenta muda Prancis Desire Doue.
Ketiganya menjadi bagian penting dari produktivitas PSG yang mencetak 45 gol di Liga Champions musim ini, menyamai rekor sepanjang masa yang sebelumnya dibuat oleh FC Barcelona pada musim 1999/2000.
Selain kualitas pemain, Arsenal juga diyakini perlu melakukan penyesuaian terhadap pendekatan permainan mereka.
Musim ini The Gunners tampil sangat solid secara defensif. Sebelum final, mereka tidak terkalahkan dalam satu pertandingan pun di Liga Champions dan hanya kebobolan tujuh gol, termasuk penalti Dembele yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Namun statistik final menunjukkan sisi lain yang menjadi perhatian. Arsenal hanya menguasai 25 persen penguasaan bola dan mencatatkan satu tembakan tepat sasaran selama 120 menit.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang membawa mereka hampir meraih gelar memang bisa menghasilkan kesuksesan, tetapi belum tentu menjadi formula terbaik untuk mendominasi kompetisi dalam jangka panjang.
Gelandang PSG, Joao Neves, bahkan menilai timnya menjadi satu-satunya pihak yang benar-benar berusaha memainkan sepak bola menyerang dalam final tersebut.
"PSG adalah satu-satunya tim yang ingin bermain," ujarnya.
Arsenal juga diuntungkan oleh jalur menuju final yang relatif lebih ringan dibandingkan PSG. Ke depan, lawan-lawan mereka akan semakin memahami cara meredam kekuatan Arsenal, terutama ancaman bola mati yang selama ini menjadi senjata utama tim London Utara tersebut.
Sepak bola terus berkembang, dan klub yang berhenti beradaptasi akan segera tertinggal. Hal itu juga disadari PSG meski mereka baru saja mencapai puncak.
"Mungkin status itu tidak akan bertahan lama. Sepak bola seperti ini, hari ini benar, besok bisa menjadi kebohongan. Namun hari ini kami bisa mengatakan bahwa kami adalah yang terbaik di Eropa," kata Vitinha.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa bahkan tim terbaik pun harus terus berkembang.
Arteta memahami kenyataan itu. Meski sempat menyinggung beberapa keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya, ia menolak menjadikan faktor tersebut sebagai alasan utama kegagalan.
"Kami harus menjadi lebih baik. Kami harus berkembang dan menemukan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan," tegasnya.
Arsenal tidak membutuhkan revolusi besar-besaran. Namun setelah begitu dekat dengan trofi Liga Champions, mereka memerlukan koreksi arah yang tepatâmeningkatkan ancaman dari permainan terbuka tanpa kehilangan kekuatan bertahan yang telah menjadi fondasi kesuksesan mereka musim ini.
Jika proses evolusi itu berjalan sesuai rencana, Arsenal mungkin tidak perlu menunggu 20 tahun lagi untuk mendapatkan kesempatan berikutnya menaklukkan Eropa.
- Mikel Arteta
- Arsenal
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Alarm untuk PSG: Luis Enrique Kecewa Berat Jelang Final Liga Champions
-
Tanpa Izin Laik Fungsi, Gedung Akan Disegel
-
Arteta vs Luis Enrique: Sahabat Lama, Rival di Final Liga Champions
-
Investasi PMDN dan PMA di Lebak Tembus Rp580 Miliar, Serap 2.856 Tenaga Kerja
-
Masa Depan Leandro Trossard di Arsenal Masih Abu-Abu, Besiktas Ajukan Tawaran Verbal 322 Miliar Rupiah
-
Hasil Liga Champions: Arsenal ke final Liga Champions setelah singkirkan Atletico 1-0
-
Punya Agensi Sendiri, Jennie BLACKPINK Makin Kaya, Segini Pendapatannya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.