Tekanan Makin Panas: Rupiah Tembus Rp17.800 Jadi Ujian Berat, BI Tak Henti Intervensi

Jumat, 29 Mei 2026, 16:45 WIB

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah dengan kombinasi kebijakan stabilisasi di pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter.

Intervensi dilakukan secara terukur melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian/ penjualan surat berharga negara di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan likuiditas valas dan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

Ket. Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hasrul Said.

Di sisi kebijakan suku bunga, BI tetap menjaga ruang fleksibilitas BI-Rate untuk memastikan selisih imbal hasil (yield spread) tetap menarik bagi arus modal asing, tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Langkah ini diperkuat dengan koordinasi kebijakan bersama pemerintah, termasuk optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri.

Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar rupiah terus dijaga selama 24 jam di pasar global meski pasar domestik libur, merespons pelemahan nilai tukar yang kini mencetak rekor baru pada kisaran Rp17.800 per dolar AS.

Untuk diketahui, rupiah di pasar offshore bergerak melemah hingga melewati level Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5) dan Kamis (28/5). Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), nilai tukar tercatat Rp17.883 per dolar AS, merujuk kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

“Sebagaimana disampaikan Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (29/5).

Ramdan menambahkan, komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.

Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.

Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas.

Selain itu, kata Ramdan, BI terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.

Dari sisi permintaan dolar AS, BI juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” katanya.

Ramdan pun menegaskan bahwa bank sentral akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.