Indef: Omzet Kurban Rp26 Triliun, Peternak Jadi Motor Utama Ekonomi Musiman
Jumat, 29 Mei 2026, 19:00 WIBJAKARTA â Omzet transaksi hewan kurban yang cukup besar menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi musiman masih menjadi salah satu penggerak signifikan di sektor peternakan dan perdagangan komoditas riil.
Peningkatan permintaan menjelang Iduladha mendorong perputaran uang di tingkat peternak, pedagang, hingga rantai distribusi, yang pada gilirannya memberikan efek pengganda terhadap ekonomi lokal.
Dari sisi penawaran, stabilitas pasokan ternak dan kesiapan logistik menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran pasar, sekaligus menahan lonjakan harga yang terlalu ekstrem.
Sementara itu, dari sisi permintaan, peningkatan daya beli dan tradisi keagamaan turut memperkuat volume transaksi secara tahunan.
Secara keseluruhan, tingginya omzet transaksi hewan kurban tidak hanya mencerminkan aspek religius dan sosial, tetapi juga berkontribusi pada dinamika ekonomi sektor riil, khususnya dalam memperkuat sirkulasi ekonomi di daerah pedesaan dan sentra peternakan.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai omzet transaksi hewan kurban yang diproyeksikan mencapai Rp26 triliun pada Idul Adha 2026 memberikan dampak besar terhadap industri peternakan dan perputaran ekonomi peternak kecil.
âSecara umum, Idul Adha memberikan dampak multidimensi pada industri ternak, bertindak sebagai motor penggerak ekonomi yang memberikan lonjakan pendapatan signifikan bagi peternak kecil," kata Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Jumat (29/5).
Ia menyebutkan, total omzet nasional hewan kurban pada 2026 diprediksi mencapai sekitar Rp26 triliun, yang menunjukkan besarnya perputaran ekonomi dari aktivitas penjualan hewan kurban, baik sapi maupun kambing di berbagai daerah.
"Total omzet nasional hewan kurban tahun 2026 diprediksi sekitar Rp26 triliun," kata dia.
Sementara itu, total transaksi atau omzet nasional hewan kurban pada 2025 diperkirakan mencapai Rp27,1 triliun. Angka tersebut menurun dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar Rp28,3 triliun.
Meski mengalami penurunan, menurut dia, momentum Idul Adha tetap menjadi penopang penting bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat dan ekosistem industri ternak nasional.
Ia menambahkan, dampak ekonomi dari Idul Adha tidak hanya dirasakan peternak, tetapi juga pelaku usaha lain dalam rantai pasok, mulai dari pedagang pakan, jasa transportasi, hingga platform digital penjualan hewan kurban.
"Momen ini memicu efek berganda/multiplier effect yang mendorong perputaran rantai pasok dan mempercepat adopsi digitalisasi dalam tata niaga peternakan,â kata Esther.
- hewan kurban
- industri peternakan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ribuan Massa Tumpah di Monas, Pengunjung Pantai Pandan Tapanuli Anjlok
-
Hasil Tak Dapat Malah 11 Pemeras Ditangkap di Kendari
-
Kebijakan WFA ASN Mulai April 2026, Fokus Efisiensi Anggaran dan BBM
-
Arus Mudik Mewarnai H+1 Idul Fitri di Jakarta
-
Play-off Kualifikasi Piala Dunia: Italia Jaga Asa, Wales dan Irlandia Tersingkir Dramatis Lewat Adu Penalti
-
Cuaca Hari Ini, BMKG: Mayoritas Kota Besar di Indonesia Berawan hingga Hujan
-
Aldila Gagal Melaju ke Babak Ketiga Miami Open 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.