Rekening Anak Sekolah Makin Gemuk, OJK Catat Tabungan Pelajar Rp29,1 Triliun

Minggu, 24 Mei 2026, 18:10 WIB

JAKARTA – Tabungan pelajar tidak lagi sekadar produk perbankan untuk menyimpan uang saku, tetapi mulai dipandang sebagai instrumen penting dalam membangun budaya literasi dan inklusi keuangan sejak dini.

Di tengah meningkatnya transaksi digital dan pola konsumsi generasi muda yang semakin impulsif, keberadaan tabungan pelajar menjadi sarana edukasi agar anak memahami konsep menabung, mengelola pengeluaran, hingga mengenal sistem keuangan formal.

Ket. Foto: Ilustrasi-Sejumlah pelajar antre mengisi persyaratan membuka rekening tabungan di SMP Kartika VI-I Jayapura, Papua. — Sumber: ANTARA FOTO/ Indrayadi TH

Dari sisi ekonomi, perluasan kepemilikan tabungan pelajar juga berpotensi memperkuat basis dana murah perbankan dalam jangka panjang.

Semakin banyak pelajar yang terbiasa menggunakan layanan keuangan formal, semakin besar peluang terciptanya generasi produktif yang akrab dengan investasi, pembayaran digital, dan perencanaan keuangan.

Namun, tantangannya terletak pada konsistensi edukasi serta rendahnya budaya menabung di sebagian keluarga, sehingga program tabungan pelajar perlu dibarengi pendekatan yang lebih menarik, digital, dan dekat dengan keseharian anak muda.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat simpanan tabungan pelajar mencapai Rp29,13 triliun pada kuartal I 2026 dengan 59,03 juta rekening.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Dicky Kartikoyono mengatakan pencapaian tabungan pelajar hingga kuartal I 2026 menunjukkan perkembangan positif dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Hal itu juga sejalan dengan program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar) yang mencapai 88,36 persen.

"Secara tren, jumlah rekening pelajar juga terus menunjukkan peningkatan, yakni tumbuh sebesar 1,25 persen secara tahunan atau year on year (yoy)," kata Dicky dalam jawaban tertulis dari OJK di Jakarta, Minggu (24/5).

Peningkatan jumlah tabungan pelajar, kata Dicky, mengindikasikan semakin luasnya akses dan partisipasi pelajar dalam sistem keuangan formal. Dari sisi nominal simpanan, OJK mengakui memang terdapat fluktuasi dalam jangka pendek, namun secara umum masih menunjukkan tren yang positif dan sejalan dengan karakteristik tabungan pelajar yang dinamis.

Tanpa merinci spesifik, Dicky menyebut kontribusi simpanan pelajar terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih relatif terbatas. Namun, dia menekankan bahwa tabungan pelajar memiliki nilai strategis dalam memperluas basis nasabah perbankan di masa depan sekaligus membangun budaya menabung sejak dini.

"OJK optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, didukung oleh penguatan Program Kejar, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan," kata dia.

Dengan program Kejar, kata Dicky, diharapkan kebiasaan menabung dapat semakin tertanam di kalangan pelajar sejak usia dini. Ke depan, Dicky menjelaskan, fokus penguatan akan diarahkan pada perluasan akses, peningkatan pemanfaatan rekening yang lebih aktif, serta penguatan edukasi keuangan bagi pelajar, sehingga dapat mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan baik dari sisi jumlah rekening maupun nominal simpanan.

Program Kejar merupakan inisiatif OJK yang diluncurkan pada 2020 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Indonesia Menabung untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar. Program ini bertujuan agar setiap pelajar di Indonesia memiliki rekening tabungan yang dapat digunakan untuk menabung dan belajar mengelola keuangan sejak dini.

  • OJK
  • Tabungan Pelajar

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.