Era Baru Tenaga Kerja, Adaptasi dan Inovasi Perkuat Daya Saing Pekerja

Selasa, 19 Mei 2026, 17:40 WIB

JAKARTA – Penguatan adaptasi dan inovasi bagi pekerja menjadi faktor kunci dalam menghadapi perubahan struktur ekonomi yang semakin cepat, terutama akibat digitalisasi dan otomatisasi.

Tenaga kerja dituntut tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan belajar berkelanjutan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik Sari Warna Solo, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA/ Maulana Surya

Di sisi lain, dorongan inovasi di lingkungan kerja mendorong terciptanya produktivitas yang lebih tinggi serta efisiensi proses bisnis. Namun, tantangan utama terletak pada kesenjangan keterampilan dan akses pelatihan yang belum merata.

Karena itu, penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan menjadi penting untuk memastikan transformasi tenaga kerja berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan kepada para pekerja agar terus adaptif dan menjaga semangat berinovasi di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global, serta pesatnya perkembangan teknologi.

“Produktivitas kita mungkin sudah baik, tetapi filosofi seorang pekerja yang inovatif adalah selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan dan inovasi,” kata Menaker Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5).

Lebih lanjut, ia mengatakan perkembangan teknologi seperti komputer, kecerdasan buatan (AI), hingga sensor digital harus dipandang sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.

“Saya belajar cukup lama di bidang teknik industri dan banyak belajar dari budaya kerja Jepang tentang continuous improvement atau perbaikan secara berkelanjutan,” kata Menaker.

“Selalu ada pertanyaan, bulan depan apa cara yang lebih baik yang bisa dilakukan agar pekerjaan menjadi lebih produktif dan berkualitas,” ujarnya menambahkan.

Selain inovasi, Yassierli juga menegaskan pentingnya agar pekerja tetap relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. “Inovasi dan produktivitas membutuhkan kompetensi baru. Karena itu, semangat untuk terus belajar harus selalu dijaga,” kata dia.

Menaker juga menambahkan bahwa di tengah perubahan global, prinsip no one left behind harus menjadi perhatian. Semua pekerja harus antusias dan aktif dalam menyongsong berbagai perubahan.

“Jangan sampai ada satu pun karyawan yang tertinggal. Semua berhak mendapatkan upskilling dan reskilling,” ujar Menaker.

Lebih lanjut, Menaker Yassierli meyakini semangat inovasi di lingkungan kerja termasuk industri elektronik seperti Panasonic telah tumbuh dengan baik dan perlu terus diperkuat secara lebih masif dengan melibatkan seluruh unsur perusahaan, termasuk serikat pekerja.

“Ada budaya dan semangat untuk tumbuh bersama menuju tujuan bersama. Kombinasi disiplin ala Jepang dan kekeluargaan ala Indonesia ini sangat bagus dan melahirkan berbagai inovasi secara kultural,” ujar dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.