KPU Banyumas Sosialisasikan Pemilu Inklusif Bagi Siswa Disabilitas

Kamis, 06 Agu 2026, 16:21 WIB

PURWOKERTO - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyumas menyosialisasikan pemilu inklusif kepada siswa penyandang disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) B Yakut Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, guna meningkatkan literasi politik dan partisipasi pemilih pada Pemilu 2029.

“Pendidikan politik tersebut bertujuan memperkuat pemahaman penyandang disabilitas mengenai hak politik, tahapan pemilu, dan tata cara memberikan suara sehingga mereka lebih siap berpartisipasi dalam Pemilu 2029 secara mandiri, percaya diri, dan setara,” kata anggota KPU Kabupaten Banyumas Sufi Sahlan Ramadhan di Purwokerto, Kamis.

Ket. Foto: Salah seorang siswi disabilitas mempraktikkan pemungutan suara dalam kegiatan pendidikan politik yang digelar KPU Kabupaten Banyumas di SLB B Yakut Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (6/8). — Sumber: ANTARA/Sumarwoto

Ia mengatakan tingkat partisipasi pemilih penyandang disabilitas pada Pemilu 2024 di Banyumas baru mencapai sekitar 33 persen dari sekitar 10 ribu penyandang disabilitas yang terdata.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian KPU Banyumas untuk terus memperluas pendidikan pemilih, khususnya kepada kelompok rentan dan calon pemilih pemula.

Oleh karena itu, kata dia, pendidikan politik merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan pemilu yang inklusif dengan memastikan seluruh warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam menggunakan hak pilih tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun kondisi disabilitas.

"Kami mempersiapkan untuk mewujudkan pemilu yang inklusif yang terbuka untuk siapa saja, baik suku, agama, ras maupun pemilih penyandang disabilitas punya hak yang sama dan setara untuk memperkuat literasi dan pemahaman adik-adik khususnya yang di SLB B Yakut Purwokerto," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, kata dia, para siswa menerima materi mengenai demokrasi, hak memilih, serta pentingnya berpartisipasi dalam pemilu.

Setelah itu, mereka mengikuti simulasi pemungutan suara mulai dari mengambil surat suara, memasuki bilik suara, mencoblos, memasukkan surat suara ke dalam kotak suara, hingga mencelupkan jari ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak pilih.

Ia mengatakan simulasi tersebut dirancang agar para peserta memperoleh pengalaman secara langsung mengenai proses pemungutan suara sehingga lebih memahami setiap tahapan dan tidak merasa kesulitan ketika mengikuti Pemilu 2029.

Ia menegaskan penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menyalurkan hak pilihnya.

“Melalui sosialisasi dan pendidikan politik yang berkelanjutan, kami berharap partisipasi pemilih disabilitas pada Pemilu 2029 meningkat sehingga penyelenggaraan pemilu semakin inklusif, setara, dan demokratis,” kata Sufi.

Sementara itu, Kepala SLB B Yakut Purwokerto Wiwik Kusmiati mengatakan kegiatan tersebut sangat membantu para siswa penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara dalam memahami proses pemilu karena dipadukan dengan praktik secara langsung.

Menurut dia, sebanyak 31 siswa berusia 16 hingga 20 tahun mengikuti kegiatan tersebut karena mereka diproyeksikan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029 sehingga pembekalan sejak dini dinilai penting untuk menumbuhkan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara.

"Hari ini (6/8) sangat baik sekali karena memang mengajarkan anak-anak itu lebih tahu tentang pemilu, apalagi ada praktiknya langsung jadi anak-anak antusias. Ini baru pertama kali KPU datang ke sekolah kami. Ini memang dari bulan kemarin baru terealisasi di bulan Agustus ini," kata Wiwik.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.