Berpotensi Kembali Tertekan, 18 Mei 2026

Senin, 18 Mei 2026, 07:50 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan mengha­dapi tekanan dalam perdagangan setelah libur panjang akhir pekan, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membebani pasar. Dari eksternal, perkembangan konflik di Timur Tengah mendorong sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko, sehingga mem­perkuat arus dana ke aset safe haven dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati pele­mahan sektor manufaktur yang dinilai mencerminkan perlambatan aktivitas industri dan permintaan. Selain itu, laporan dari MSCI turut menjadi perhatian karena berpo­tensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pa­sar keuangan Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi melihat pelaku pasar masih menyoroti sejumlah risiko domestik, mulai dari pelemahan sektor manufaktur, ketidakpastian kebijakan ro­yalti tambang, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah di tengah tingginya belanja negara. “Selain itu, komentar Presiden Prabowo Subianto yang menegur Guber­nur BI Perry Warjiyo terkait pelemahan rupiah turut meme­ngaruhi sentimen pasar,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan investor juga mencermati penurun­an bobot Indonesia dalam indeks global MSCI yang dikha­watirkan dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik. Karenanya Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Senin (18/5), bergerak di kisaran 17.420 hingga 17.650 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Seperti diketahui kurs rupiah melemah 705 poin atau sekitar 4,20 persen sepanjang tahun ini. nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (13/5), berada di level 17.476 rupiah per dollar AS atau jauh melampaui posisi terakhir pada 2025 di level 16.771 rupiah per dollar AS. Kurs rupiah saat ini berada di atas target da­lam APBN 2026 sebesar 16.500 rupiah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa me­nilai penguatan rupiah disebabkan aksi ambil untuk terha­dap dollar AS pasca mengalami penguatan cukup tajam.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.