Manusia Memiliki Kemampuan Memperbaiki Diri
Rabu, 13 Mei 2026, 07:12 WIBKEMAMPUAN menumbuhkan kembali anggota tubuh yang hilang selama ini dianggap mustahil bagi manusia. Berbeda dengan salamander atau beberapa spesies amfibi lain yang mampu meregenerasi kaki, ekor, bahkan bagian organ tubuh, manusia dan mamalia umumnya hanya dapat menyembuhkan luka melalui pembentukan jaringan parut.
Namun, penelitian terbaru dari Texas A&M College of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences (VMBS) membuka kemungkinan baru. Para peneliti menemukan bahwa mamalia sebenarnya mungkin masih memiliki kemampuan regeneratif tersembunyi yang selama ini âterkunciâ di dalam mekanisme penyembuhan tubuh.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan dinilai sebagai salah satu langkah penting dalam pengembangan pengobatan regeneratif di masa depan. Penelitian dipimpin oleh Profesor Ken Muneoka dari Department of Veterinary Physiology and Pharmacology VMBS yang selama puluhan tahun mempelajari regenerasi jaringan pada mamalia.
âMengapa beberapa hewan dapat beregenerasi dan yang lain, khususnya manusia, tidak dapat beregenerasi adalah pertanyaan besar yang telah diajukan sejak zaman Aristoteles,â kata Muneoka dikutip dari Science Daily. Ia menjelaskan bahwa selama ini para ilmuwan menganggap ketidakmampuan mamalia untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh sebagai batas biologis permanen. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan tersebut mungkin sebenarnya masih ada, hanya tidak aktif dalam proses penyembuhan normal.
Dalam studi tersebut, para peneliti berhasil meregenerasi jaringan tulang dan jaringan ikat pada mamalia melalui metode perawatan dua langkah menggunakan faktor pertumbuhan tertentu. Meski jaringan baru yang terbentuk belum sepenuhnya sempurna, hasil tersebut menunjukkan adanya potensi nyata untuk mengarahkan proses penyembuhan tubuh menuju regenerasi, bukan sekadar pembentukan bekas luka.
Ketika mamalia mengalami cedera serius, tubuh biasanya merespons dengan fibrosis, yaitu proses pembentukan jaringan parut. Dalam proses ini, sel fibroblast bergerak cepat untuk menutup luka demi melindungi tubuh dari infeksi.
Namun, proses cepat tersebut justru menghentikan kemungkinan pembentukan kembali struktur tubuh yang hilang. Sementata itu pada hewan regeneratif seperti salamander, sel-sel serupa justru membentuk blastema, yaitu struktur sementara yang menjadi dasar pertumbuhan jaringan baru. âSeolah-olah sel-sel ini dapat bergerak ke dua arah yang berbeda,â ujar Muneoka. âMereka dapat membuat bekas luka atau membuat blastema,â tambahnya.
Menurutnya, penelitian tersebut berfokus pada upaya mengalihkan perilaku fibroblast agar memilih jalur regenerasi dibanding pembentukan jaringan parut. Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti mengembangkan terapi dua tahap menggunakan dua faktor pertumbuhan yang telah lama dipelajari dalam dunia biologi.
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah regenerasi ternyata tidak selalu membutuhkan penambahan sel punca dari luar tubuh. Selama ini, banyak pendekatan pengobatan regeneratif berfokus pada transplantasi stem cell atau sel punca sebagai cara memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. hay
- Salamander
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.