Perkuat Stabilitas Fiskal dan Moneter serta Amankan Pasokan Energi
Kamis, 05 Mar 2026, 01:15 WIBFitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi mempengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.
JAKARTA - Revisi outlook peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi negatif merupakan sinyal yang perlu dicermati secara serius, meskipun kondisi pasar keuangan global saat ini masih relatif terkendali.
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) Iyuk Wahyudi menilai perubahan outlook tersebut mencerminkan peningkatan kehati-hatian lembaga pemeringkat terhadap ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Ia mengatakan, sejauh ini sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs menilai reaksi pasar terhadap konflik Timur Tengah masih tergolong âjinakâ atau terkendali. Namun kondisi tersebut bisa berubah dengan cepat apabila konflik meluas atau berlangsung lebih lama, terutama jika berdampak pada jalur distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara pengimpor energi perlu mewaspadai skenario terburuk apabila konflik berkepanjangan. Lonjakan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar rupiah, memperbesar beban subsidi energi dalam APBN, serta mendorong kenaikan inflasi domestik yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.
Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif sejak dini, mulai dari penguatan stabilitas fiskal dan moneter hingga pengamanan pasokan energi. Ia menegaskan bahwa kewaspadaan menjadi kunci, sebab ketidakpastian global saat ini menuntut Indonesia siap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar.
Pimpinan Goldman Sachs Group Inc. David Solomon menilai reaksi pasar keuangan terhadap konflik Timur Tengah masih relatif terkendali. Ia mengaku terkejut melihat respons yang dinilainya âjinakâ, meski ketidakpastian geopolitik masih tinggi.
âSangat sulit untuk berspekulasi karena ada begitu banyak hal yang belum diketahui saat ini,â kata Solomon dalam Australian Financial Review Business Summit di Sydney, Rabu (4/3).
Investor tambahnya tengah mencermati apakah konflik akan berlangsung lama dan mulai memukul konsumsi. âSaya melihat reaksi pasar dan saya justru terkejut,â ujarnya. Terbilang Jinak
Seperti dikutip dari Bloomberg, jaminan ASuntuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran pasar. Namun eskalasi terus berlangsung. Israel kembali melancarkan serangan ke Teheran, sementara Iran menembakkan rudal ke Qatar, Bahrain, dan Oman.
Indeks S&P 500 turun kurang dari 1 persen pada awal pekan, ditopang saham teknologi berkapitalisasi besar. Sebaliknya, saham Eropa dan pasar berkembang lebih tertekan akibat risiko kenaikan harga energi. Di Asia, MSCI Asia Pacific Index anjlok 3,2 persen, sedangkan Kospi mendekati fase koreksi.
Instrumen lindung nilai bergerak terbatas. Obligasi pemerintah AS melemah karena kekhawatiran inflasi akibat lonjakan energi yang dapat menunda pemangkasan suku bunga. Dollar AS menguat setelah periode pelemahan panjang. Solomon mengatakan kenaikan VIX Index sejalan dengan peningkatan risiko.
âButuh beberapa pekan bagi pasar untuk benar-benar mencerna implikasinya,â kata Solomon. Harga minyak menjadi fokus utama. Minyak acuan Brent naik di atas 82 dollar AS per barel setelah melonjak sekitar 12 persen dalam dua hari, kenaikan terbesar sejak 2020.
Solomon juga menyoroti gejolak di pasar kredit swasta senilai 1,8 triliun dollar AS. Meski ada âsejumlah kecilâ masalah spesifik, ia menilai belum terlihat pelemahan kualitas kredit secara luas.
âJika melihat kinerja kredit yang mendasari di banyak portofolio tersebut, hingga saat ini belum terlihat penurunan yang meluas,â ujarnya.
Ia pun menambahkan bahwa ekonomi AS masih solid, sehingga risiko kredit berlebihan belum terlihat jelas. âKetika siklus kredit terjadi, atau terjadi perlambatan, atau resesi, Anda akan memiliki visibilitas lebih besar terhadap area-area di mana standar pinjaman melemah.
Kekhawatiran Meningkat
Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB atau layak investasi (investment grade).
Revisi outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan pemerintah.
Fitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi mempengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.
Namun demikian, penegasan peringkat di level BBB didukung rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang cukup baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif moderat, serta cadangan devisa (cadev) yang memadai.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan
perubahan outlook itu memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan.
Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, Hendra mengatakan perubahan outlook menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual (net sell), khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro.
Dalam periode penuh ketidakpastian seperti saat ini, menurutnya, kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar momentum jangka pendek.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Latihan Timnas Indonesia jelang final ASEAN U-23 Championship
-
Pemerintah Kabupaten Subang Usulkan Pemekaran Desa untuk Efisiensi Pelayanan
-
Dari Deteksi hingga Prediksi: AI Mengubah Cara Indonesia Hadapi Serangan Siber
-
Pasar Tak Bergairah, IHSG Terkoreksi Meski Tipis Sepekan Ini
-
Aksi Kader Jumantik Garda Terdepan Pencegahan Wabah DBD
-
Masjid di Sleman Borong 11 Ton Singkong, Bantu Petani Gunungkidul Terselamatkan dari Harga Anjlok Cuma Rp500/Kg
-
Mahfud MD Nilai Polri Berkinerja Baik, Jamin Rasa Aman dan Nyaman di Masyarakat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.