Hoaks Menargetkan Kesehatan Presiden Marcos Jr

Rabu, 13 Mei 2026, 02:40 WIB

MANILA – Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, pada April lalu terpantau secara spontan sedang berlari kecil keluar dari kantornya dan melakukan gerakan senam lompat-lompat dalam upaya untuk menepis rumor bahwa ia lumpuh, sekarat karena kanker stadium lanjut, atau bahkan telah meninggal.

Meskipun sebagian besar dimaksudkan sebagai lelucon, pemerintah mengajukan pengaduan terhadap beberapa akun Facebook dan memperingatkan raksasa teknologi Meta bahwa mereka akan menghadapi tindakan hukum jika gagal mengekang disinformasi yang mereka sebut sebagai ancaman yang meningkat terhadap keamanan nasional.

Ket. Foto: Ferdinand Marcos Jr — Sumber: AFP/EZRA ACAYAN

Sejak pemimpin berusia 68 tahun itu dirawat di rumah sakit pada Januari lalu karena peradangan di usus besar (divertikulitis), media sosial dipenuhi spekulasi bahwa ia sebenarnya kesehatannya lebih buruk daripada yang dipublikasikan.

Unggahan tersebut telah beredar luas di kalangan pendukung saingan berat Marcos Jr dan kandidat presiden 2028, Wakil Presiden Sara Duterte, yang pemakzulannya pada Senin (11/5) lalu telah menimbulkan keraguan terhadap pencalonan pada pilpres mendatang.

Para pemeriksa fakta telah melacak ratusan unggahan di Facebook, TikTok, dan X dimana beberapa di antaranya mendapatkan puluhan ribu kali dibagikan baik berupa visual lama atau yang diedit, sebagai bukti kesehatan presiden yang memburuk.

“Narasi tersebut telah menabur benih ketidakstabilan dalam masa kepresidenannya dan sebagian besar menguntungkan (Wapres) Duterte,” ucap Jean Franco, profesor ilmu politik di Universitas Filipina.

“Narasi tersebut, yang diulang di berbagai halaman Facebook, dimaksudkan untuk semakin mengikis kepercayaan pada media yang sah," kata Dr Yvonne Chua, yang mengajar jurnalisme di Universitas Filipina. “Mereka memperkuat narasi yang lebih luas bahwa media arus utama tidak dapat dipercaya dan berpihak pada mereka yang berkuasa,” imbuh dia.

Hal ini juga sangat bergantung pada sejarah keluarga Marcos yang penuh dengan kerahasiaan medis. Ayah presiden yang memiliki nama sama, yang menderita penyakit ginjal selama tahun-tahun terakhir kediktatorannya, pernah mengangkat bajunya di televisi nasional untuk menunjukkan bahwa ia tidak memiliki bekas luka transplantasi.

Jaminan bahwa diagnosis Presiden Marcos Jr tidak mengancam jiwa ternyata tidak banyak meredakan rumor tersebut. Ketika ia absen dari sebuah acara pada awal April, spekulasi bahwa ia sakit atau meninggal, termasuk foto lama bendera Filipina yang dikibarkan setengah tiang, membanjiri media sosial.

Foto bendera tersebut dibagikan oleh mantan penyiar yang kini menjadi tokoh media sosial, Jay Sonza, yang saat ini secara eksklusif mendukung wakil presiden. Sonza ditangkap oleh Biro Investigasi Nasional sekitar dua pekan kemudian atas tuduhan pencemaran nama baik melalui internet dan publikasi ilegal, karena diduga memalsukan catatan medis tentang presiden.

Setelah kliennya bebas dengan jaminan, pengacara Sonza menyebut penahanan kliennya itu sebagai intimidasi. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.