Ekonomi Global Sedang Tak Baik-Baik Saja, Ini Penjelasan Ekonom Bank Mandiri
Senin, 11 Mei 2026, 19:20 WIBJAKARTA â Situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian memberikan dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri, terutama melalui jalur perdagangan, investasi, nilai tukar, dan arus modal.
Ketika pertumbuhan ekonomi dunia melambat atau tensi geopolitik meningkat, permintaan ekspor dapat melemah sementara volatilitas pasar keuangan global cenderung menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.
Kondisi ini membuat pelaku usaha dan investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis maupun investasi.
Di sisi lain, perubahan kebijakan moneter negara-negara besar, terutama kenaikan atau penurunan suku bunga global, turut memengaruhi biaya pendanaan dan aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia.
Meski fundamental ekonomi domestik relatif kuat, tekanan eksternal tetap berpotensi memicu inflasi impor, mempersempit ruang fiskal, serta menahan laju konsumsi dan investasi.
Karena itu, stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan otoritas moneter menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas pasar keuangan.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan situasi ekonomi global sangat tidak menentu.
âBahkan kalau kita membuat skenario saat ini, kita di internal Bank Mandiri Group, kita merasakan bahwa skenario yang kita lakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat, karena kita menghadapi banyak tantangan dan banyak faktor atau variabel yang mempengaruhi kondisi atau bottom line dari perusahaan kita atau bahkan perekonomian kita,â katanya dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, Senin (11/5).
Melihat kondisi ekonomi global, konflik AS dengan Iran belum menemui titik temu yang berimplikasi terhadap disrupsi di Selat Hormuz yang menjaga risiko pasokan energi tinggi dengan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Dalam konteks ini, sentimen risk-off menguatkan dolar AS dan menekan aset emerging markets (EM).
Outlook International Monetary Fund (IMF) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.
Kemudian, pasar memproyeksikan Fed Fund Rate (FFR) tak turun sepanjang tahun ini di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan 350-375 basis points (bps) dominasi hingga akhir tahun.
Adapun arus inflow ke EM tertahan dan berpotensi berubah menjadi outflow, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya risk aversion (penghindaran risiko) global.
Pihaknya menilai risiko yang perlu diwaspadai mencakup disrupsi Selat Hormuz dan eskalasi AS-Iran-Lebanon yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak, dan meningkatnya beban fiskal akibat naiknya subsidi energi.
Kedua, harga energi yang meningkat mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga mengurangi ruang pelonggaran moneter bank sentral EM, termasuk Bank Indonesia (BI).
Berikutnya yaitu sentimen risk-off mendorong depresiasi rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), dan tekanan terhadap bursa saham. Terakhir adalah risiko meningkatnya suku bunga (market rate), serta terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.
Dalam keadaan ini, Indonesia berpeluang memperoleh windfall komoditas eksportir crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel, yang mengalami kenaikan harga, sehingga memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.
Relokasi rantai pasok global turut membuka peluang penanaman modal asing ke negara EM, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif.
Selain itu, penguatan kebijakan hilirisasi meningkatkan nilai tambah ekspor dengan adanya pergeseran dari raw material ke produk olahan (smelter, katoda, battery grade).
Transasi energi global turut memicu momentum investasi di kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan, dimana Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci ekosistem baterai dan listrik global.
âJangan lupa bahwa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia,â ungkap Andry Asmoro.
- Gejolak Ekonomi Global
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BPS: Tarif Listrik Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Februari 2026
-
Presiden Prabowo Ajak Ulama dan Ormas Islam Bahas Ketahanan Nasional dan Konflik Global
-
Menteri HAM: Penolakan MBG di Papua Salah Satunya Terkait Manajemen
-
Rubio Sebut Sanksi Baru Bisa Diberlakukan ke Russia Jika Tak Serius Berunding
-
Program Makanan Bergizi Gratis bagi Sekolah Rakyat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.