Kementan dan Pemda Gunungkidul Perkuat Mitigasi Hadapi Kekeringan Ekstrem

Minggu, 10 Mei 2026, 18:19 WIB

JAKARTA– Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah (pemda) terus memperkuat mitigasi menghadapi ancaman kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi berlangsung sampai Oktober 2026. Langkah ini untuk menjaga produksi pangan nasional, terutama di sentra padi tadah hujan.

Salah satu aksi nyata terlihat dari monitoring ketat pertanaman padi musim tanam kedua (MT2) di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Meski masuk musim kering, ribuan hektare padi di Kapanewon Semin dan Ngawen dipastikan aman dan siap panen.

Ket. Foto: Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah (pemda) terus memperkuat mitigasi menghadapi ancaman kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi berlangsung sampai Oktober 2026 — Sumber: istimewa

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul bersama penyuluh pertanian terus memantau kondisi tanaman dan ketersediaan air di lapangan. Tujuannya, memastikan produksi tetap optimal di tengah perubahan iklim tahun ini.

Di Semin, 2.924 hektare padi yang ditanam Februari-Maret 2026 dalam kondisi aman hingga panen. Stok air masih cukup ditambah curah hujan yang baik sampai April lalu. Panen raya MT2 di sana diprediksi mulai pekan ketiga Mei 2026.

Penyuluh Pertanian Lapangan BPP Semin, drh. Rumini, menyebut petani Semin sudah adaptif menghadapi kemarau dengan memakai varietas padi umur pendek atau genjah yang lebih tahan air terbatas.

“Sekarang hamparan padi di Semin mulai menguning dan siap panen sebentar lagi. Petani banyak pakai varietas genjah seperti Pajajaran, M70D, dan Trisakti biar lebih siap musim kering,” ujar Rumini, Jumat (8/6).

Kondisi optimistis juga terjadi di Ngawen, salah satu sentra padi Gunungkidul. Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Danang Sutopo, mencatat luas tanam padi MT2 di Ngawen mencapai 8.756 hektare. Panen diperkirakan mulai akhir Mei sampai awal Juni 2026.

“Kami prediksi panen di Ngawen berlangsung dari minggu ketiga Mei hingga awal Juni 2026. Harapannya air tetap cukup sampai panen selesai, apalagi sudah pakai varietas umur pendek yang lebih tahan kekeringan,” kata Danang.

Langkah antisipatif pemda, penyuluh, dan petani ini sejalan dengan strategi Kementan memperkuat adaptasi iklim lewat pengawalan tanam, manajemen air, pemakaian varietas adaptif, dan monitoring rutin.

Kementan mendorong daerah melakukan mitigasi dini potensi kekeringan agar produksi pangan nasional aman dan target peningkatan produksi tercapai meski iklim ekstrem.

*Perkuat Infrastruktur Pengairan*

Di kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat infrastruktur pengairan untuk menahan dampak kekeringan dan mengamankan produksi pangan.

“Kami sudah perintahkan seluruh jajaran percepat antisipasi kekeringan, mulai rehabilitasi irigasi, optimasi pompanisasi, sampai penyediaan sumur dangkal dan sumur dalam di daerah rawan kering. Air itu kunci pertanian, jadi pengelolaannya wajib optimal,” kata Mentan Amran.

Mentan juga meminta pemda memetakan wilayah rawan kekeringan dan mengawal pertanaman agar petani tetap bisa produksi saat iklim ekstrem.

“Jangan tunggu terdampak dulu. Mitigasi harus dari awal biar produksi aman dan petani nggak rugi pas kemarau panjang,” tegasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.