Bukan Garam Biasa, Intip Mewahnya 'Ladang Kristal' Indramayu yang Harganya Tembus Rp60 Ribu
Minggu, 10 Mei 2026, 16:40 WIBINDRAMAYU -Â Pesisir Desa Juntinyuat, Indramayu, kini tidak lagi sekadar menjadi saksi bisu terik matahari yang menyengat.
Kendati demikian, suasana berbeda justru terlihat di dalam tunnel garam di kawasan itu. Para petani tampak asyik menyerok kristal-kristal putih, komoditas yang sudah lama mereka dambakan.
Hamparan geomembran hitam membuat warna garam semakin putih, nyaris tanpa semburat kecokelatan yang lazim terlihat pada garam tambak tradisional.
Kilau kecil memantul ke mana-mana saat cahaya matahari masuk dari sela plastik, menyulap tunnel itu seperti ladang kristal.
Di area tersebut, Sujitno berdiri sambil menunjuk endapan garam yang mulai mengeras di dasar petak produksi.
Butir keringat pun mengalir di pelipisnya. Wajahnya tampak tenang, meski usaha yang sedang dilakoninya sebenarnya masih sangat baru.
Beberapa bulan lalu, lelaki tersebut lebih banyak menghabiskan waktu sebagai petani padi dan peternak.
Ide membuat garam muncul, seusai dirinya mendapat dorongan dari beberapa rekannya yang melihat potensi di kawasan pesisir.
âKawasan Juntinyuat itu bagus. Ada sawah, ada laut, ada peternak juga bisa,â kata Sujitno saat berbincang dengan ANTARA.
Ia lalu membangun tunnel bersama teman-temannya secara bertahap. Pengerjaannya tidak dilakukan sekaligus karena mereka harus mengurus sawah.
Satu tunnel, membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk selesai dibangun dengan biaya sekitar Rp40 juta.
Ia melihat usaha garam sebagai investasi jangka panjang, karena sistem produksinya bisa terus digunakan setelah selesai dibangun.
Produksi perdana mereka baru berjalan sekitar setengah bulan. Hasil panen garam mencapai sekitar lima kuintal atau setara 10 karung.
Kristal garam yang sudah dipanen, nantinya akan dijemur kembali sebelum dikemas untuk dipasarkan.
Sujitno mengatakan garam dari lokasi tersebut mulai dilirik untuk kebutuhan konsumsi, karena warnanya lebih putih dan bersih dibanding garam biasa.
Bahkan, kata dia, ada permintaan dari pengolah teri nasi di kawasan Dadap, Indramayu, karena kualitas garam dianggap mampu menjaga warna ikan tetap cerah.
Ia meyakini di tengah perubahan cuaca yang makin sulit ditebak dan biaya pertanian yang terus naik, garam memberi warga pesisir pilihan baru untuk mendulang rezeki.
Inovasi
Di dekat area tunnel, suara mesin diesel meraung pendek. Selang-selang air menjulur menuju bak penampungan berwarna gelap. Di sanalah Afwan (19) bekerja.
Pemuda itu menjadi operator mesin sea water reverse osmosis atau SWRO, yang digunakan untuk menyaring air laut sebelum masuk ke petak garam.
Afwan menjelaskan proses itu dengan santai. Mulanya, air dari laut didiamkan hingga lima hari agar kotorannya mengendap sebelum masuk ke mesin penyaring.
Setelahnya, alat SWRO membelah air laut menjadi dua bagian yakni air tawar dan air tua berkadar garam tinggi.
Penggunaan mesin ini membuat hasil produksi jauh lebih bersih dibanding metode manual, karena seluruh aliran air sudah melalui tahap penyaringan. Sehingga tidak tercemar lumpur atau kotoran.
Afwan mengaku baru sekitar dua bulan bekerja di usaha garam tersebut. Meski demikian, ia optimistis aktivitas ini punya prospek yang baik.
Hal tersebut karena harga garam berkualitas tinggi, bisa mencapai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram dengan kadar natrium klorida (NaCl) mencapai 98 persen.
Dari penjelasan Afwan, proses produksi garam kristal di Juntinyuat memerlukan beberapa tahapan, hingga butiran garam terbentuk sempurna.
Ketua Koperasi Sae Nalendra Darma Raga Carmadi kemudian memaparkan metode SWRO yang digunakan di lokasi tersebut, secara lebih teknis.
Pria yang akrab disapa Dadi itu mengatakan dalam satu jam, mesin tersebut mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air, dengan sekitar 1.000 liter di antaranya menjadi bahan kristalisasi garam.
Satu tunnel produksi memiliki ukuran sekitar 25 meter x 4 meter dengan tinggi air sekitar 20 sentimeter. Air hasil penyaringan itu kembali diendapkan selama 21 hari sebelum diuji laboratorium.
Untuk menghasilkan garam standar industri dengan kadar NaCl mendekati 98 persen, proses pengendapan bahkan bisa mencapai 40 hari.
âKalau konsumsi rumah tangga sekitar 30 hari sudah cukup, tetapi kalau mau masuk industri pangan, waktunya lebih panjang,â katanya.
Saat ini, terdapat 11 tunnel di Juntinyuat, dengan satu unit mampu menghasilkan sekitar tiga ton garam per bulan.
Sistem produksi tersebut, membuat petani tidak terlalu bergantung pada musim panas seperti pola tambak garam tradisional.
âMereka belajar, dapat ilmu, sekaligus dapat penghasilan,â katanya.
Wujudkan gagasan
Dadi mengaku ide pengembangan garam kristal itu muncul setelah mencoba mencari tahu potensi pengolahan air laut melalui internet.
Dari situ, ia mulai mempelajari sistem penyaringan air hingga akhirnya merakit mesin SWRO bersama mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra), dan beberapa teknisi.
Sebelum memulai produksi, ia sempat mengkaji kualitas air laut di beberapa titik pesisir Indramayu, seperti kawasan Tirtamaya.
Dari sejumlah lokasi itu, Juntinyuat dinilai paling memenuhi syarat karena tingkat kepekatan air laut atau Baume (BE) cukup bagus sebagai bahan baku garam kristal.
Koperasi tersebut kini telah memiliki tujuh anggota utama, termasuk Sujitno, yang masing-masing memiliki tunnel produksi sendiri.
Dadi mengatakan koperasi sengaja dibentuk dengan pola berbagi hasil agar anggotanya ikut memiliki usaha, bukan sekadar pekerja.
Dalam industri garam rakyat, kata dia, tidak ada istilah petani senior maupun junior karena yang menentukan hasil adalah teknik pengolahan.
Diakuinya pula pengembangan garam kristal itu berangkat dari kegelisahaan, melihat Indonesia masih melakukan impor garam.
Pasar garam kristal di Indramayu cukup besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa, kebutuhan garam rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar 10 ton per hari.
âKenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya jelas. Sayang kalau potensi alam di Indramayu tidak dilirik. Kejar swasembada itu benar dan bisa terealisasi,â ujarnya.
Permintaan garam industri pun sangat menjanjikan. Ia mengaku pernah menerima permintaan hingga 200 ribu ton dari luar daerah.
Saat ini, garam kristal yang diproduksi anggota koperasinya sudah diminati pembeli dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram. Namun, angka tersebut belum mencerminkan kualitas produk yang dihasilkan.
Oleh karenanya, koperasi mulai menyiapkan hilirisasi produk melalui pengemasan ukuran kecil agar nilai jual meningkat di pasar ritel.
Ia memperkirakan satu kemasan 250 gram dapat dijual sekitar Rp3.000, sehingga nilai satu kilogram garam bisa mencapai Rp12.000 di tingkat konsumen.
âMaka koperasi harus bertanggung jawab mengemas. Dari petani Rp3.000, koperasi olah lagi, distribusi lagi, itu masih untung,â katanya.
Selain garam konsumsi, koperasinya mulai mengembangkan garam spa setelah hasil laboratorium menunjukkan produknya memenuhi syarat untuk kebutuhan tersebut.
Harga garam spa dapat mencapai Rp60 ribu per kilogram. Bahkan di lokapasar, untuk kemasan 250 gram bisa dijual Rp30 ribu-Rp40 ribu.
Komoditas garam pun memiliki banyak turunan industri, mulai dari kebutuhan tekstil, minyak dan gas, hingga bahan baku cairan infus.
Ditegaskannya, seluruh proses itu harus berputar di lingkungan koperasi dan warga sekitar.
Istri para anggota koperasi dapat dilibatkan dalam proses pengemasan produk. Anak-anak muda desa pun diharapkan ikut masuk ke industri garam modern.
Dilanjutkan
Inovasi yang dikembangkan di Indramayu menghadirkan asa baru, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang menggantungkan hidup dari butiran garam.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, mengatakan inovasi tersebut menjadi terobosan penting, di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi garam nasional.
Menurutnya, selama ini produksi garam di Indonesia masih didominasi metode penguapan konvensional dengan produktivitas sekitar 70 ton per hektare per tahun.
Dalam 10 tahun terakhir, kata dia, pemerintah telah mencoba sejumlah teknologi lain seperti geomembran dan teknik ulir, yang mampu meningkatkan hasil hingga sekitar 120 ton per hektare per tahun.
Ia melihat banyak teknologi hanya ramai pada awal penerapan, lalu perlahan ditinggalkan karena tidak memiliki kesinambungan ekonomi. Maka inovasi yang dilakukan di Indramayu perlu dipertahankan.
âMudah-mudahan inovasi yang sangat baik ini akan sustain, akan berkelanjutan,â ujarnya.
Ia mengungkapkan penerapan teknologi serupa di Indramayu masih terbatas dan belum masif. Oleh karena itu, inovasi garam yang berkembang di Juntinyuat tidak boleh berhenti pada tahap uji coba lapangan.
Dukungan pemerintah dan keterlibatan industri jadi faktor penting, agar teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas lagi.
Perhatian
Indramayu telah lama tersohor sebagai daerah penghasil garam rakyat di pesisir utara Jawa Barat. Bahkan, nama daerah ini, berkali-kali muncul dalam arsip surat kabar Hindia Belanda.
Selama masa penjajahan, komoditas garam di Indramayu menjadi sumber ekonomi penting, sampai peredarannya diawasi ketat oleh pihak kolonial.
Menilik peristiwa pada 1913, sebagaimana dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, pejabat gudang garam di Indramayu diadili karena menggelapkan dana hasil penjualan garam mencapai 1.400 gulden.
Upaya pengawasan tak berhenti di situ. Pihak kolonial membentuk satuan âpolisi garamâ untuk menekan maraknya aktivitas produksi garam ilegal. Warga di Indramayu berulang kali ditangkap akibat kebijakan tersebut.
Pada periode 1930-an, krisis ekonomi membuat warga memproduksi garam ilegal. Aktivitas ini berdampak pada pendapatan pihak kolonial yang kala itu menerapkan sistem monopoli pasar.
Laporan dari De Indische Courant, menunjukkan penurunan drastis dalam penjualan garam di Jawa Barat hingga 25 persen.
Di Indramayu, penjualan garam anjlok dari sekitar 13.000 kemasan pada 1932 menjadi hanya sekitar 4.000 kemasan di awal tahun 1933.
Berkat pengawasan ketat, kondisi penjualan komoditas ini kembali membaik. Menariknya, pihak kolonial mulai mengubah pendekatan dari represif menjadi lebih struktural melalui reorganisasi distribusi garam.
Catatan sejarah tersebut, menjadi penanda bahwa komoditas garam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir di Indramayu.
Tak mengherankan, kalau pemerintah menaruh perhatian besar terhadap sektor pergaraman di daerah tersebut.
Sebagai contoh, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menjalankan sejumlah program untuk memperkuat sektor garam rakyat, melalui intensifikasi dan penerapan teknologi modern di daerah sentra produksi, termasuk Indramayu.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung target swasembada garam nasional pada 2027, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.
Untuk di Indramayu, program intensifikasi mencakup revitalisasi tambak, perbaikan saluran air hingga penguatan sarana produksi garam rakyat.
KKP pun membangun gudang rakyat berkapasitas 100 ton serta gudang garam berkapasitas 2.000 hingga 7.000 ton di kawasan program intensifikasi.
Pengembangan sektor garam di Indramayu pun, dilakukan melalui penerapan berbagai inovasi teknologi seperti tunnel yang dipadukan dengan sistem SWRO.
Metode tersebut, seperti di Juntinyuat, membantu petani menjaga produksi tetap berjalan meski musim hujan berlangsung lebih panjang.
Upaya itu bisa membantu agar garam rakyat memenuhi standar industri nasional, yakni kualitas K1 dengan kandungan NaCl minimal 97 persen.
Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Indramayu Edi Umaedi mengatakan dukungan pemerintah pusat melalui program intensifikasi tambak telah membantu peningkatan kualitas garam di daerahnya.
Keberadaan fasilitas tersebut sangat penting untuk menjaga kualitas garam setelah panen, sekaligus memperlancar distribusi hasil produksi.
Penerapan teknologi tunnel-SWRO di tambak garam Indramayu, mulai menunjukkan hasil yang positif karena mempercepat peningkatan kadar garam dan menjaga mutu produksi.
Dengan dukungan teknologi serta pembangunan infrastruktur tersebut, Indramayu dapat menjadi salah satu motor penggerak dalam mewujudkan target swasembada garam nasional pada 2027.
Panen perdana garam di Juntinyuat pun, merupakan pintu masuk untuk merealisasikannya.
- garam indramayu
- juntinyuat
- teknologi swro
- swasembada garam
- garam kristal
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.