Dari Dapur Minang ke Panggung Dunia, Menekraf Kawal Ekspansi Gastronomi Padang

Jumat, 08 Mei 2026, 08:55 WIB

JAKARTA – Optimalisasi kekayaan gastronomi daerah tidak hanya berkaitan dengan pelestarian kuliner tradisional, tetapi juga menjadi strategi penguatan ekonomi lokal dan identitas budaya.

Keunikan bahan pangan, teknik memasak, hingga cerita historis di balik setiap hidangan dapat menjadi daya tarik wisata yang bernilai tinggi.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pelaku UMKM menunjukkan aneka rendang khas Kota Padang, Sumatera Barat. — Sumber: ANTARA/ Muhammad Zulfikar

Jika dikelola secara terintegrasi, gastronomi daerah mampu menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan petani, pelaku UMKM, industri kreatif, hingga sektor pariwisata.

Namun, tantangan utama masih terletak pada standardisasi kualitas, inovasi produk, dan promosi yang belum maksimal. Banyak kuliner khas daerah memiliki potensi besar, tetapi kalah bersaing karena minim branding dan adaptasi terhadap pasar modern.

Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal untuk memperkuat sertifikasi, digitalisasi pemasaran, serta pengemasan produk tanpa menghilangkan autentisitas rasa dan nilai budaya yang menjadi kekuatannya.

Menteri Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya berkomitmen mengawal visi kota Padang sebagai pusat kuliner nasional dan memperkuat jati diri daerah sebagai wilayah dengan keberagaman gastronomi.

“Melalui kolaborasi ini, kita ingin memastikan bahwa kekayaan gastronomi Minangkabau tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga mampu memenuhi standar global dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat," ujar Menteri Ekraf dalam keterangan pers, Kamis (8/5).

Kota Padang sedang bersiap mewakili Indonesia sebagai kandidat City of Gastronomy UNESCO tahun 2027. Dalam hal ini, pemerintah pusat berkomitmen mendampingi mengoptimalkan identitas kreatif dari daerah guna mendongkrak reputasi ekonomi kreatif nasional di kancah dunia.

Inisiatif ini juga sejalan dengan penguatan ekonomi kreatif, khususnya subsektor kuliner.

Sinergi ini adalah komitmen kita bersama untuk mengawal seleksi nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027. Kami akan mendampingi Pemerintah Kota Padang agar persiapan teknis serta dokumen yang disusun sesuai dengan standar internasional UNESCO," tegas Riefky.

Wali Kota Padang, Fadly Amran mengatakan kekuatan warisan budaya (cultural heritage) seperti rendang, sate padang, hingga gulai dan sambal lado, juga tradisi sosial makan bajamba, serta akulturasi budaya urang padang jalan barampek sebagai modal utama menjadi City of Gastronomy.

Jika berhasil masuk dalam jaringan UCCN, Padang akan menyusul kota-kota kreatif Indonesia lainnya yang telah diakui UNESCO, seperti Pekalongan, Surakarta dan Ponorogo (kota kerajinan dan kesenian), Bandung (kota desain), Ambon (kota musik), Jakarta (kota literasi), serta Malang (kota kreatif seni media).

“Kementerian Ekraf memberikan dukungan yang sangat krusial bagi kami untuk meningkatkan standar ekosistem kuliner berkelanjutan, mengingat Padang memiliki kekayaan kuliner yang lengkap dan telah diakui oleh dunia,” ungkap Fadly.

Audiensi Kementerian Ekraf bersama Pemkot Padang mencakup permohonan pendampingan untuk mengikuti tahapan seleksi UCCN 2027, mulai dari sosialisasi, pengisian dossier, hingga seleksi administrasi dan substansi.

Pertemuan ini juga bertujuan untuk melakukan koordinasi pasca-adendum Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) Kota Padang yang kini berfokus pada subsektor kuliner per Februari 2026.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.