Bukan Sekadar Teknologi, Indonesia Bangun Kekuatan AI Lewat Kolaborasi

Jumat, 08 Mei 2026, 09:05 WIB

JAKARTA – Pendekatan kolaboratif dalam membangun industri kecerdasan artifisial atau AI menjadi semakin penting karena pengembangan teknologi ini tidak bisa hanya bertumpu pada satu pihak.

Pemerintah, industri, akademisi, hingga komunitas digital perlu bergerak bersama agar ekosistem AI berkembang lebih cepat sekaligus tetap terkendali.

Ket. Foto: An AI-generated illustration. — Sumber: Antara/ Microsoft Copilot-as.

Kolaborasi dibutuhkan mulai dari penyediaan talenta digital, riset dan inovasi, pembangunan infrastruktur data, hingga penyusunan regulasi yang mampu menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan publik.

Di sisi lain, persaingan global di sektor AI membuat negara yang mampu membangun sinergi lintas sektor memiliki peluang lebih besar menjadi pemain utama ekonomi digital.

Pendekatan kolaboratif juga dapat mempercepat adopsi AI di berbagai sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, manufaktur, dan layanan keuangan.

Dengan kerja sama yang kuat, pengembangan AI tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan bahwa Indonesia memprioritaskan pendekatan kolaboratif dalam membangun industri kecerdasan artifisial (AI) di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

Di saat negara-negara besar memperkuat kontrol terhadap teknologi, Indonesia mengambil posisi mendorong keseimbangan antara peran negara dan kolaborasi lintas sektor guna membangun ekosistem AI yang terbuka, inklusif, dan berdaya saing.

“Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga mendorong seluruh sektor industri dan pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam satu ekosistem membangun industri AI agar memberikan akses yang luas,” ujar Nezar dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (8/5).

Nezar menegaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi pilihan strategis Indonesia di tengah kecenderungan global yang mendorong dominasi negara atas teknologi.

Pendekatan yang saat ini diambil oleh banyak negara tersebut, menurut Nezar merupakan pendekatan berisiko dan akhirnya menciptakan ekosistem yang tertutup dan tidak sehat bagi inovasi.

“Jika melihat tren global saat ini, termasuk di Amerika Serikat, terdapat pandangan bahwa negara perlu mengambil kendali lebih besar terhadap teknologi dan perusahaan teknologi. Namun, itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia karena berpotensi mengarah pada apa yang disebut sebagai fasisme teknologi,” jelasnya.

Membahas konteks geopolitik global, Nezar menyoroti bahwa industri semikonduktor kini menjadi arena utama perebutan pengaruh antarnegara. Pergeseran ini menandai perubahan besar dari era energi fosil menuju era teknologi berbasis chip.

Ia mengatakan negara-negara adidaya saat ini tengah berupaya untuk saling menetapkan posisi dalam perang chip dan penguasaan pabrik semikonduktor.

Adapun dalam kondisi ini, Indonesia masih belum masuk dalam rantai pasok global industri AI dan semikonduktor. Namun potensi yang dimiliki cukup besar dan memberikan peluang yang menjanjikan.

“Indonesia memiliki sejumlah mineral penting, seperti emas, kobalt, dan nikel, yang digunakan dalam proses pembuatan semikonduktor. Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen yang dibutuhkan industri,” ujar Nezar.

Selain sumber daya alam, ada juga aspek sumber daya manusia yang saat ini menjadi keunggulan Indonesia agar bisa masuk dalam rantai pasok AI. Kondisi Indonesia saat ini memiliki kelompok usia produktif dan dapat menjadi pilar mendukung pengembangan industri AI.

Maka dari itu, untuk menyiapkan SDM unggul dan berdaya saing sebagai talenta digital, pemerintah secara konsisten membuat program-program strategis untuk pengembangan sumber daya manusia.

“Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan program AI Talent Factory dengan melibatkan perguruan tinggi, pusat riset, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan AI,” kata Nezar.

Dengan mengintegrasikan kekuatan sumber daya alam dan talenta digital, Nezar optimistis Indonesia dapat mengambil posisi strategis dalam industri AI global.

Melalui pendekatan kolaboratif, industri AI tetap dapat bertumbuh di Indonesia tanpa bergantung pada kontrol penuh negara, namun tetap menjaga kepentingan nasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.