Tak Banyak yang Sadar, 3 Titik Lemah Ini Bikin Indonesia Rawan Dihantam Krisis Energi Global

Kamis, 07 Mei 2026, 08:32 WIB

JAKARTA – Eskalasi krisis energi global akibat perang dan konflik geopolitik menempatkan Indonesia dalam posisi rentan, baik dari sisi ekonomi maupun energi. 

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menuturkan ketergantungan tinggi pada impor minyak serta letak geografis di jalur pelayaran vital dunia menjadi faktor utama kerawanan tersebut. 

Ket. Foto: Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang (Dir. eksekutif Indef) Esther Sri Astuti, menuturkan ketergantungan tinggi pada impor minyak serta letak geografis di jalur pelayaran vital dunia menjadi faktor utama kerawanan tersebut — Sumber: istimewa

"Indonesia sangat rentan secara ekonomi dan energi akibat ketergantungan impor minyak dan posisinya yang berada di jalur pelayaran global yang vital," ujar Esther, Selasa (6/5).

Tiga Aspek Kerentanan Indonesia  

Menurut Esther, kerentanan Indonesia terhadap dampak perang dapat dijabarkan ke dalam tiga aspek:

Pertama, kerentanan ekonomi dan energi.

 Dari sisi krisis bahan bakar minyak (BBM), Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan BBM, terutama dari wilayah konflik seperti Timur Tengah. Gejolak perang di sana memicu lonjakan harga minyak dunia. “Lonjakan ini langsung menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui pembengkakan subsidi energi,” jelasnya.

Selain itu, dari sisi inflasi dan nilai tukar rupiah. Kenaikan biaya energi dan logistik global secara otomatis memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. “Inflasi naik, dan nilai tukar rupiah ikut tertekan karena kebutuhan dolar untuk impor energi melonjak,” tambahnya.

Kedua, posisi geopolitik rawan strategis.  

Selain energi, posisi geografis Indonesia juga menyimpan kerawanan. Indonesia memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III yang merupakan jalur pelayaran internasional. “Jika terjadi konflik besar, misalnya antara negara-negara adidaya di kawasan Asia-Pasifik, jalur ini sangat rentan dilalui oleh kapal perang asing, yang menuntut kewaspadaan tingkat tinggi,” kata Esther.

Ketiga, ancaman ke ketahanan pangan.  

Krisis global juga mengancam ketahanan pangan nasional. Ketergantungan Indonesia pada impor bahan pangan tertentu, seperti gandum, dari negara-negara yang terlibat dalam rantai pasok global bisa berujung masalah. “Gangguan akibat perang dapat memicu kelangkaan dan lonjakan harga pangan nasional,” ujarnya.

Dorong Transisi Energi Masif

Menurut Esther, kombinasi ketergantungan impor energi, tekanan inflasi, posisi ALKI yang strategis, hingga risiko pangan membuat Indonesia harus waspada. Pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi dan pangan domestik serta mempercepat transisi energi untuk mengurangi eksposur terhadap gejolak global.

“Tanpa mitigasi serius, krisis energi global bisa langsung menghantam APBN, daya beli masyarakat, dan stabilitas ekonomi nasional,” pungkas Esther. Untuk keluar dari tekanan eksternal, ia mendorong pemerintah serius dan masif melakukan transisi energi.

Dunia Hadapi Krisis Terparah  

Kekhawatiran serupa disuarakan Uni Eropa. Dunia menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah global akibat konflik di Timur Tengah, kata Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen, Selasa (5/5).

"Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita," kata Jorgensen dalam konferensi pers di Brussels, Belgia.

Mantan Menteri Pertanian Denmark itu menyebut negara-negara Uni Eropa telah mengeluarkan dana 30 miliar euro atau sekitar Rp611 triliun untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik di Timur Tengah dimulai, tanpa memperoleh tambahan pasokan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.