Produksi Beras Banten Dinilai Sangat Sukses, Masuk 8 Besar
Rabu, 06 Mei 2026, 07:33 WIBSERANG - Â Hasil panen padi melimpah, sehingga memproduksi beras sangat banyak di Banten. Maka, produksi beras Banten masuk 8 besar secara nasional. Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan bahwa Provinsi Banten kini masuk delapan besar nasional dalam produksi beras, yang sekaligus memperkokoh posisi daerah tersebut dalam kategori ketahanan pangan tangguh.
"Syukurlah, pada tahun 2025, luas panen padi di Provinsi Banten mencapai 345.421 hektare dengan total produksi mencapai 1,8 juta ton," ujar Andra Soni saat menghadiri Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kota Serang, Selasa.
Andra menjelaskan, capaian tersebut selaras dengan pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di Banten yang mencatatkan angka tertinggi sebesar 9,60 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia optimistis penerapan sistem pertanian modern PM-AAS dari Kementerian Pertanian (Kementan) mampu mendongkrak produktivitas secara signifikan, dari rata-rata 3,25-4,5 ton menjadi 10 ton per hektare pada kondisi optimal.
"Sistem pertanian modern ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya produksi sehingga pada akhirnya mendongkrak kesejahteraan petani," tuturnya.
Selain itu, peningkatan produksi ini diproyeksikan untuk menyokong kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi sekitar 3,5 juta penerima manfaat di Banten, di mana 85 persen komponennya berasal dari sektor pertanian dan peternakan.
Sementara itu, Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan, Husnain, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan model pertanian berbasis teknologi tinggi yang mengedepankan efisiensi dan presisi melalui mekanisasi serta digitalisasi.
Saat ini, Kementan melaksanakan program percontohan PM-AAS seluas 100 hektare di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, yang melibatkan empat kelompok tani. Banten menjadi lokasi tahap ketiga dari 15 lokasi percontohan yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia.
Ketua Kelompok Tani Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal, mengakui bahwa mekanisasi pertanian sangat membantu petani di tengah minim nya minat generasi muda. Menurutnya, penggunaan alat mesin mampu memangkas biaya tanam dari Rp2 juta menjadi hanya sekitar Rp200.000 per hektare.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Kepala Puskesmas Moro Jalani Asesmen Narkoba di BNNP Kepri
-
PT KAI: Pengguna LRT Jabodebek Maret 2026 Meningkat
-
Dirut Bulog Segera Koordinasikan Temuan Cabai Rp140 Ribu/Kg ke Asosiasi
-
Produksi Naik Tapi Tipis! BPS Ingatkan Waspada Cuaca di Triwulan II
-
Solok Punya Peran Strategis, Produksi Bawang 500 Ton Per Hari, Surplus 16 Juta Ton Beras
-
Italia Tarik Pasukan Perdamaian dari Timur Tengah
-
Bayern dan Kane Kejar Rekor, Gladbach Datang di Saat yang Salah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.