- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Umumkan Misi Kapal d...
Trump Umumkan Misi Kapal di Teluk, Iran Keluarkan Peringatan Keras
Selasa, 05 Mei 2026, 01:00 WIBTEHERAN -Â Militer Iran pada Senin (4/5), menyampaikan peringatan terkait potensi masuknya kekuatan militer asing ke wilayah Selat Hormuz, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai rencana pengawalan kapal-kapal komersial di jalur perairan strategis tersebut.
Dilansir dari Channel NewsAsia, pernyataan ini muncul di tengah masih berlanjutnya ketegangan diplomatik antara Iran dan AS, yang menurut berbagai pihak belum menemukan titik temu sejak gencatan senjata dalam konflik regional yang melibatkan sejumlah pihak diberlakukan pada 8 April. Salah satu isu utama yang masih menjadi perhatian adalah keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Presiden Trump sebelumnya mengumumkan sebuah operasi maritim yang ia sebut âProyek Kebebasanâ. Ia menyebut operasi tersebut sebagai upaya untuk mendukung keselamatan pelayaran di kawasan yang dinilai memiliki risiko gangguan logistik bagi kapal-kapal komersial.
âKami akan melakukan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan selamat dari Selat tersebut. Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai area tersebut aman untuk navigasi,â kata Trump dalam unggahan di platform Truth Social.
Pernyataan tersebut juga menyinggung kondisi kapal-kapal dagang yang disebut masih berada dalam situasi sulit di kawasan tersebut. Setelah pengumuman itu, harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan lebih dari satu dolar AS per barel, mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Teluk.
Menanggapi hal tersebut, komando militer Iran menegaskan bahwa setiap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz harus dikoordinasikan dengan otoritas Iran, terutama terkait keamanan jalur strategis tersebut.
âKami memperingatkan bahwa setiap kekuatan bersenjata asing â terutama militer AS â jika mereka berniat mendekati atau memasuki Selat Hormuz, akan menjadi sasaran dan diserang,â kata Mayor Jenderal Ali Abdollahi dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Di sisi diplomasi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa Teheran telah mengajukan rencana 14 poin yang disebut berfokus pada upaya penghentian konflik. Ia juga menyebut adanya komunikasi tidak langsung melalui jalur mediasi.
Sementara itu, Trump mengungkapkan bahwa komunikasi diplomatik masih berlangsung antara berbagai pihak.
âSaya sepenuhnya menyadari bahwa perwakilan saya sedang melakukan diskusi yang sangat positif dengan negara Iran, dan bahwa diskusi ini dapat menghasilkan sesuatu yang sangat positif bagi semua pihak,â kata Trump.
Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait isi rencana 14 poin yang sebelumnya disebutkan oleh pihak Iran.
Aktivitas Militer
Di tengah situasi tersebut, aktivitas militer di kawasan Teluk dilaporkan meningkat. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebutkan keterlibatan sejumlah aset militer, termasuk kapal perusak, pesawat tempur, serta ribuan personel dalam operasi pengamanan jalur pelayaran.
âDukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global,â kata Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM.
Data dari perusahaan intelijen maritim AXSMarine menunjukkan masih terdapat ratusan kapal komersial yang terpantau beroperasi di kawasan Teluk, meski jumlahnya mengalami penurunan dibandingkan periode awal ketegangan.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa menyerukan agar jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka melalui pendekatan diplomatik. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menekankan pentingnya penyelesaian damai dan transparansi dalam isu keamanan kawasan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan pentingnya koordinasi internasional untuk memastikan jalur pelayaran tetap dapat digunakan secara aman dan stabil.
Harga minyak global saat ini masih berada di atas level sebelum ketegangan meningkat, dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Sejumlah pengamat menilai situasi di Selat Hormuz masih berada dalam kondisi sensitif, dengan peluang diplomasi yang tetap terbuka di tengah peningkatan aktivitas militer dan keamanan di lapangan. Perkembangan ke depan diperkirakan sangat bergantung pada keberlanjutan dialog antara pihak-pihak terkait.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Alarm Pangan Berbunyi! Perpres Penyelamatan Segera Diterbitkan
-
Potensi Terjadi Hujan Deras di Jakarta Saat Idul Fitri
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
PDIP: Gugurnya 8 Prajurit TNI di Lebanon Momentum PBB untuk Bersikap Lebih Tegas
-
Indonesia Usul Sidang Darurat DK PBB Gandeng Prancis Terkait Gugurnya Pasukan UNIFIL
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
PAPPSI Diharapkan Menjadi Motor Penggerak Pembangunan Tabagsel
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.