- Home
-
- Luar Negeri
-
- Asean Sepakat Dorong Angga...
Asean Sepakat Dorong Anggaran Ketahanan Iklim di Kawasan
Selasa, 05 Mei 2026, 16:57 WIBJAKARTA - Negara-negara ASEAN menyerukan perlunya pergeseran besar dalam pembiayaan iklim, mengingat dampaknya yang tidak hanya merupakan tantangan lingkungan tetapi menjadi guncangan fiskal yang membutuhkan respons bersama.
Isu ini secara khusus dibahas dalam diskusi panel yang diselenggarakan Filipina sebagai ketua ASEAN tahun ini, bekerjasama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP).
Filipina menyajikan contoh nasional dan pembelajaran regional tentang pentingnya beralih dari hibah jangka pendek ke investasi jangka panjang berskala besarâguna melindungi masyarakat dan perekonomian.
âGuncangan iklim adalah guncangan fiskal,â kata Wakil Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) Filipina Analiza Rebuelta-Teh dalam laman resmi Keketuaan Filipina untuk ASEAN 2026, Senin (4/5).
Wakil Menteri Keuangan Filipina Joven Balbosa kemudian menegaskan perlunya kementerian keuangan setiap negara memimpin upaya pembiayaan, jika dampak iklim mengikis produktivitas dan membengkaknya utang publik, hingga mengancam ketahanan fiskal.
Dalam diskusi tersebut, para panelis menyoroti bagaimana kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC) dapat beralih dari pernyataan kebijakan menjadi sinyal investasi yang menarik modal global.
âNDC harus diposisikan ulang sebagai portofolio investasi,â kata Wakil Tetap UNDP di Filipina Christophe Bahuet, dengan alasan bahwa manajemen keuangan publik yang berintegritas tinggi memberikan kepastian kepada investor.
Contoh-contoh konkret dari negara-negara lain menggarisbawahi pesan tersebut. Sistem Penandaan Pengeluaran Perubahan Iklim (CCET) Filipina dipuji sebagai model untuk melacak anggaran iklim.
Wakil Ketua dan Direktur Eksekutif (VCED) Robert E.A. Borje dari Komisi Perubahan Iklim Filipina (CCC) menyebut CCET sebagai "titik terang" yang membawa transparansi pada pengeluaran iklim domestik, sambil mendesak analisis data lebih lanjut untuk membuat informasi tersebut dapat ditindaklanjuti.
Pergeseran Indonesia dari pelaporan manual ke "Dashboard Terhubung" juga menunjukkan bagaimana sistem digital dapat menutup kesenjangan informasi.
"Kerja sama yang lancar antara kementerian keuangan dan lingkungan hidup sangat penting," kata Deputi Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kemenkeu RI Irwan Dharmawan.
Ia menjelaskan bagaimana pelacakan otomatis membantu meluruskan informasi dan mempercepat adopsi transparansi data secara nasional. Dashboard tersebut juga dapat mendukung Laporan Transparansi Dua Tahunan dan meningkatkan pengambilan keputusan.
Sementara itu, Naeeda Crishna Morgado dari Asian Development Bank memperkenalkan Platform Kebijakan Keuangan Iklim ASEAN (2025â2027) sebagai mekanisme pembelajaran antarnegara untuk memperkuat kementerian keuangan di seluruh negara anggota.
âKetahanan iklim harus diterjemahkan ke dalam instrumen fiskal,â katanya, menguraikan kerangka kerja operasional untuk membantu kementerian keuangan secara sistematis menilai, mengelola, dan memobilisasi dana iklim.
Para pembicara juga menyoroti perlunya pemantauan dan verifikasi yang lebih baik. Sesi tersebut merekomendasikan digitalisasi dan otomatisasi pelacakan iklimâmeniru Connect Dashboard Indonesia dan memperluas CCET Filipinaâuntuk mengurangi asimetri informasi, memaksimalkan dampak anggaran, dan memperlihatkan hasil nyata bagi investor.
Sesi tersebut tidak menghasilkan komitmen yang mengikat tetapi menetapkan peta jalan yang jelas, yaitu melembagakan pembiayaan seluruh perekonomian, memposisikan NDC sebagai portofolio siap investasi, memperluas akses langsung bagi pemerintah daerah, dan memanfaatkan alat pelacakan digital untuk memungkinkan transparansi dan kepercayaan investor.
Diskusi panel tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa ASEAN harus segera bertindak untuk menyelaraskan kebijakan, sistem data, dan aliran keuangan sehingga ketahanan iklim menjadi bagian integral dari anggaran nasional, bukan pos anggaran terpisah. Ant
- ASEAN
- Philippines
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Impor dari India, Ini Spesifikasi Mahindra Scorpio yang Bakal Jadi Mobil Operasional Koperasi Merah Putih
-
Bandara Pangkalpinang Buka Ruang Tunggu Baru Hadapi Arus Mudik
-
Nadiem Makarim Minta Maaf, Akui Kurang Pahami Budaya Birokrasi.
-
Karhutla Mengancam Natuna, Lanud RSA Aktifkan Posko Udara Siaga Darurat
-
Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain Rayakan Idul Fitri pada Jumat 20 Maret
-
Sinergi Asean: Filipina dan Singapura Resmikan Kerangka Kerja Pengurangan Emisi Karbon
-
Gubernur Khofifah Ingatkan BPBD Siap Siaga Hadapi Fenomena Godzilla El Nino
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.