Warga Kuba Was-was Akan Kemungkinan Serangan Amerika dalam Waktu Dekat

Minggu, 03 Mei 2026, 11:46 WIB

JAKARTA – Saat ini masyarakat Kuba terus cemas akan potensi serangan militer Amerika Sebab tekanan terus dilakukan Presiden Donald Trump. Presiden Miguel Diaz-Canel Bermudez mengatakan ancaman militer Amerika Serikat terhadap Kuba telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi.

"Presiden Amerika Serikat (Donald Trump) meningkatkan ancaman agresi militernya terhadap Kuba hingga ke tingkat yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya. Komunitas internasional harus mencatat dan bersama rakyat Amerika Serikat, menentukan apakah langkah kriminal semacam itu diizinkan,” jelas Diaz-Canel.

Ket. Foto: kekhawatiran akan serangan militer — Sumber: ist

Itu dinilai hanya demi memuaskan kepentingan sebuah kelompok kecil yang kaya dan berpengaruh, didorong oleh keinginan membalas dendam dan mendominasi.

Dia menambahkan penyerang di Kuba akan menghadapi rakyat yang memiliki tekad penuh untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka.

Sebelumnya, Presiden Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif berisi pembatasan terhadap institusi keuangan asing yang bertransaksi untuk individu atau perusahaan di Kuba dan harus tunduk pada sanksi AS.

Merespons pembatasan baru tersebut, Diaz-Canel menyebutnya sebagai cerminan akan kemelaratan moral Pemerintah AS.

Dia juga menyebut pengetatan embargo itu menyebabkan kerusakan cukup signifikan akibat intimidasi dan arogansi kekuatan militer terbesar di dunia.

Pada 29 Januari lalu, Presiden Trump meneken perintah eksekutif untuk memberlakukan tarif impor terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba serta menyatakan keadaan darurat dengan dalih ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Pemerintah Kuba menyebut AS memanfaatkan embargo energi untuk mencekik ekonomi nasional dan membuat kondisi kehidupan yang semakin tak tertahankan bagi masyarakat setempat.

Klausul Iran

Sementara itu, Iran telah menyerahkan usulan rencana perdamaian yang terdiri dari 14 poin, termasuk ganti rugi dan "mekanisme pelayaran baru" di Selat Hormuz demi menghentikan perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Adapun IRNA melaporkan bahwa pada 30 April usulan perdamaian dari Teheran tersebut telah diserahkan kepada Pakistan.

Menurut laporan kantor berita Tasnim, AS mengusulkan gencatan senjata selama dua bulan, tetapi Iran bersikukuh agar semua isu diselesaikan dalam 30 hari supaya fokusnya menjadi mengakhiri perang secara penuh alih-alih sekadar memperpanjang gencatan senjata.

Tuntutan utama Teheran antara lain ganti rugi, jaminan agresi militer tak akan terjadi lagi, serta penarikan mundur pasukan AS dari sekeliling Iran.

Terkait Selat Hormuz, Iran mendesak agar blokade diakhiri serta mengatakan akan menetapkan "mekanisme baru" terkait lalu lintas perkapalan di sana. Iran juga menuntut pencairan semua asetnya di luar negeri serta pencabutan sanksi.

Pada 28 Februari AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran yang menyebabkan lebih dari 3.000 orang tewas. Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 8 April.

  • Serangan Militer AS di Laut Karibia
  • hubungan as-kuba

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.