Ini yang Harus Dilakukan Bila EV Mati Mendadak
Jumat, 01 Mei 2026, 06:01 WIBJAKARTA â Masih ingat tabrakan bengis kereta KRL dan Argo Bromo Anggrek yang merenggut 16 jiwa? Di sini terlibat mobil listrik (EV). Pakar otomotif Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB), Agus Purwadi menegaskan pentingnya pemahaman prosedur keselamatan yang tepat, terutama saat kendaraan listrik (EV) mati mendadak di perlintasan kereta api maupun jalan raya.
Hal ini ia ungkapkan terkait kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam yang melibatkan satu unit taksi listrik. âPeristiwa ini memang perlu menjadi pelajaran penting bagi kita semua mengenai prosedur keselamatan khususnya terkait kendaraan listrik. Sebagai teknologi yang mengandalkan sistem kontrol elektronik terpusat, penanganan EV saat keadaan darurat memiliki protokol yang sedikit berbeda dibanding mobil konvensional,â kata Agus dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, ketika EV mati mendadak, sistem komputer biasanya otomatis mengaktifkan parking pawl (pengunci transmisi) atau rem parkir elektronik. Kondisi ini membuat kendaraan sulit digerakkan, sehingga respons cepat menjadi kunci keselamatan.
âKetika EV mati mendadak, sistem komputer biasanya akan mengaktifkan parking pawl atau electronic parking brake karena hilangnya daya. Ini membuat mobil sangat sulit didorong,â ujarnya. Dalam situasi paling kritis seperti di perlintasan kereta api, Agus menekankan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama.
âHanya ada satu aturan prioritas, tinggalkan kendaraan segera,â tambahnya. Pakar teknik tenaga listrik dan konversi energi yang aktif meneliti pengembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia ini merinci, penumpang tidak disarankan mencoba menyalakan ulang kendaraan atau mencari mode netral.
âPrioritas nyawa, jangan membuang waktu mencoba men-starter ulang mobil atau mencari tombol neutral. Begitu mobil berhenti di tengah rel dan tidak bisa digerakkan, seluruh penumpang harus segera keluar,â ujar Agus.
Setelah keluar, penumpang diminta menjauh dengan arah yang tepat.
âMenjauh dari rel dan berlari lah ke arah datangnya kereta. Mengapa? Jika kereta menabrak mobil, puing-puingnya akan terlempar ke depan mengikuti arah laju kereta. Dengan berlari ke arah datangnya kereta, kita menghindari zona sebaran puing,â jelasnya.
Sementara itu, pada kondisi di jalan raya, pengemudi masih memiliki peluang melakukan mitigasi. Agus menyarankan agar momentum kendaraan dimanfaatkan untuk menepi ke bahu jalan sebelum sistem benar-benar terkunci.
Ia juga menyoroti pentingnya memahami prosedur emergency neutral agar kendaraan bisa dipindahkan, serta penggunaan lampu hazard dan segitiga pengaman untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan lain.
âBanyak EV memiliki prosedur khusus untuk memindahkan transmisi ke neutral saat daya hilang, biasanya melalui kombinasi tombol atau tuas manual di bawah konsol. Ini penting agar mobil bisa didorong atau diderek.â Jelas Agus.
Ia mengungkap, dalam kondisi baterai 12V alias aki masih berfungsi, sistem elektronik dasar tetap bekerja. âSelalu pastikan kondisi baterai 12V dalam keadaan prima, karena ia adalah jantung dari seluruh otak elektronik mobil listrik,â Agus menambahkan.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Ferrari Perkenalkan Mobil Listrik Pertama, Luce, Segini Harganya!
-
Mobil Listrik Tiba-Tiba Mati di Rel Kereta? Ini Penjelasan Pakar ITB
-
KPK Ungkap Alasan Panggil Staf PBNU Berinisial SB di Kasus Kuota Haji
-
Mobil Listrik Ditinggal Lama? Pakar ITB Sarankan Lepas Terminal Aki dan Jaga Baterai 40–60 Persen
-
Libur Lebaran, Warga Serbu Blok M Naik MRT Jakarta dengan Tarif Rp1
-
Penggantian Baterai Mobil Listrik, Simak Mekanisme dan Perkiraan Biayanya!
-
Polres Metro Tangerang Kota Tingkatkan Patroli Rumah Kosong Selama Masa Mudik Lebaran 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.