Bayang-Bayang Konflik Iran Warnai Kongres FIFA di Vancouver

Jumat, 01 Mei 2026, 00:15 WIB

VANCOUVER, KANADA — Isu geopolitik dan kesiapan Piala Dunia membayangi agenda FIFA yang menggelar Kongres ke-76 di Vancouver, Kanada, Jumat (1/5). Pertemuan elite sepak bola dunia ini berlangsung kurang dari dua bulan sebelum Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah digelar di tiga negara tuan rumah: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Sekitar 1.600 delegasi dari lebih 200 asosiasi anggota hadir dalam forum berisiko tinggi ini, dengan sejumlah isu krusial mendominasi pembahasan, mulai dari konflik Iran, persoalan logistik turnamen, hingga ketidakpastian status larangan Russia di pentas internasional.

Ket. Foto: Ilustrasi FIFA. — Sumber: AFP

Ketidakhadiran Iran langsung mencuri perhatian. Delegasi FFIRI dilaporkan meninggalkan Kanada secara mendadak setelah tiba di Toronto awal pekan ini, membatalkan perjalanan lanjutan ke Vancouver.

Media Iran menyebut Presiden FFIRI, Mehdi Taj, mantan anggota IRGC, bersama dua rekannya pulang setelah merasa “dihina” oleh petugas imigrasi Kanada. Pemerintah Kanada, yang menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris pada 2024, menegaskan bahwa individu yang memiliki keterkaitan dengan kelompok tersebut tidak diizinkan masuk.

“Pemerintah telah jelas dan konsisten: pejabat IRGC tidak dapat diterima di Kanada dan tidak memiliki tempat di negara ini,” demikian pernyataan otoritas imigrasi Kanada.

Situasi ini semakin memperkeruh status Iran menuju Piala Dunia, yang sebelumnya sudah dibayangi ketegangan di Timur Tengah sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Bulan lalu, pejabat sepak bola Iran sempat mengusulkan agar tiga laga fase grup mereka dipindahkan dari Amerika Serikat ke Meksiko. Namun, usulan tersebut langsung ditolak Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Infantino menegaskan Iran akan tetap bermain sesuai hasil undian. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan para pemain Iran tetap disambut untuk berkompetisi, meski membuka kemungkinan pembatasan bagi anggota delegasi yang memiliki hubungan dengan IRGC.

Di tengah kompleksitas tersebut, Infantino juga menghadapi sorotan tajam menjelang kongres. Kritik mengemuka terkait melonjaknya harga tiket Piala Dunia serta kedekatannya dengan Presiden AS, Donald Trump.

FIFA pada Selasa mengumumkan peningkatan distribusi dana Piala Dunia menjadi hampir 900 juta dolar AS, naik dari 727 juta dolar AS yang diumumkan sebelumnya pada Desember. Langkah ini diambil setelah sejumlah tim peserta dilaporkan khawatir mengalami kerugian akibat tingginya biaya perjalanan, pajak, dan operasional.

Kelompok hak asasi manusia juga mendesak Infantino memberikan jaminan keamanan bagi penggemar, jurnalis, dan komunitas lokal di tengah kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Trump.

“Presiden FIFA belum menjelaskan bagaimana pengunjung akan aman dari penahanan sewenang-wenang, deportasi massal, dan pembatasan kebebasan berekspresi,” ujar perwakilan Amnesty International, Steve Cockburn.

Infantino juga mendapat tekanan untuk menghapus FIFA Peace Prize, penghargaan yang diberikan kepada Trump saat undian Piala Dunia Desember lalu di Washington. Presiden federasi sepak bola Norwegia, Lise Klaveness, menyatakan penghargaan tersebut tidak sejalan dengan mandat FIFA.

Selain itu, Kongres FIFA berpotensi membahas kembali larangan terhadap Rusia, yang diberlakukan sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Infantino sebelumnya menyuarakan dukungan untuk membuka kembali jalan bagi Russia.

“Kita harus mempertimbangkan itu. Larangan ini tidak mencapai apa pun, hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian,” kata Infantino dalam wawancara dengan Sky News.

Dengan berbagai isu yang saling berkelindan, Kongres FIFA kali ini tidak hanya menjadi forum administratif, tetapi juga panggung bagi dinamika politik global yang turut memengaruhi arah sepak bola dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.