Karhutla Bromo Belum Sepenuhnya Aman, Kemenhut Lakukan Pendinginan dan Penyisiran Bara
Senin, 17 Agu 2026, 17:40 WIBProbolinggo, Jawa Timur - Kementerian Kehutanan terus melakukan pendinginan dan penyisiran area bekas terbakar (mopping up) di area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali memicu kebakaran.
"Pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas agar bara benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke bagian kawasan yang belum terdampak," kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima di Probolinggo, Senin (17/8).
Setelah hampir dua pekan operasi, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) bersama dengan Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat masih melakukan pemantauan serta pembasahan pada area bekas terbakar.
"Kewaspadaan tetap dijaga karena kebakaran sebelumnya melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, serta lapisan serasah yang cukup tebal," tuturnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut memungkinkan bara bertahan meskipun kobaran api tidak lagi terlihat. Tim juga mewaspadai pusaran angin lokal (dust devil) yang dapat mengangkat material ringan dan berpotensi membawa bara ke area lain, serta penanganan kebakaran di Bromo memberikan pelajaran penting untuk memperkuat pencegahan karhutla menghadapi musim kemarau.
"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak, dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran tetapi juga dalam pengelolaan taman nasional," katanya.
Menurutnya, masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan kawasan, sering kali menjadi yang pertama mengetahui adanya gangguan, sekaligus yang paling terdampak ketika terjadi kebakaran, sehingga melindungi hutan harus dilakukan bersama masyarakat.
"Pemerintah tahun ini memang tengah memperkuat pengendalian karhutla menghadapi musim kemarau, termasuk kesiapan Manggala Agni, deteksi dini, patroli, dan koordinasi lintas sektor," ujarnya.
Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono yang memantau langsung kegiatan melalui apel siaga pengendalian kebakaran hutan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang telah bekerja selama hampir dua pekan dalam operasi tersebut.
"Personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala," katanya.
Kementerian Kehutanan menempatkan pengendalian karhutla sebagai bagian penting dari kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk melindungi hutan dan keselamatan masyarakat. Pengalaman penanganan kebakaran di Bromo menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan pencegahan menghadapi musim kemarau.
Langkah yang dilakukan menempatkan deteksi dini, respons cepat, serta kekuatan kolaborasi di tingkat tapak sebagai kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas. Penguatan kesiapan personel dan peralatan Manggala Agni juga menjadi perhatian Menteri Kehutanan dalam menghadapi karhutla 2026.
- Hotspot Karhutla Bromo
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.