Pengendara Ceroboh Sering Terobos Rel

Rabu, 29 Apr 2026, 01:15 WIB

BEKASI – Pengemudi mobil atau pengendara motor sering ceroboh dengan menyerobot meski sudah ada kereta mau lewat. “Mobil pasti mogok kalau nekat nyelonong karena getaran lokomotif sangat kuat. Semua mobil pasti mogok, apalagi ini mobil listrik,” tegas Komisaris Utama PT KAI, Said Aqil Siradj, Selasa.

Jumlah korban jiwa kecelakaan kereta di Bekasi mencapai 15 orang. Ini terjadi saat taksi Green nyelonong mau melintasi rel, padahal sudah mau ada kereta lewat. Akhirnya taksi tertabrak KRL Komuter. KRL lalu berhenti, tak lama kemudian, datang kereta Argo Bromo Anggrek dengan kecepatan tinggi dan menyeruduk KRL. Karena gerbong paling belakang khusus untuk wanita, maka 15 korban meninggal adalah wanita semua.

Ket. Foto: Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir-Surabaya di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4). Terdapat 15 korban jiwa dan 84 luka dalam kecelakaan tersebut. Korban meninggal dibawa ke RS Polri, sedangkan korban luka dirawat di beberapa rumah sakit di Bekasi. — Sumber: Koran Jakarta/Wahyu AP

Untuk mengatasi kasus serupa terulang, Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembangunan flyover di Bekasi. Sedangkan

Polda Metro Jaya menyebutkan korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur,  Senin (27/4) malam, saat ini 10 jenazah sudah di RS Polri.

“Tiga jenazah di RSUD Bekasi, satu jenazah di RSU Bella, dan satu jenazah di RS Mitra Keluarga,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto. Untuk korban luka-luka sebanyak 76 orang, namun Budi belum merincikan untuk jenis lukanya.

Sementara itu, tujuh keluarga korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) telah melapor ke posko identifikasi korban (Disaster Victim Identification/DVI) Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Sudah ada tujuh keluarga yang melaporkan kehilangan anggota. Mereka melapor ke posko sebelum kematian,” kata Kepala RS Polri Kramat Jati, Prima Heru Yulihartono. Data dari keluarga sangat dibutuhkan untuk mencocokkan identitas korban dari kantong jenazah yang saat ini masih ditangani tim forensik.

Prima menjelaskan, RS Polri telah menerima 10 kantong jenazah sejak dini hari. Seluruh jenazah tersebut diketahui berjenis kelamin perempuan dan masih dalam proses identifikasi oleh tim DVI. Proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan data ante mortem dari keluarga dengan data setelah kematian (post mortem) hasil pemeriksaan forensik. 

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.