KIE Jakarta Summit Soroti Inovasi Berbasis Masyarakat untuk Perkuat Ketangguhan Energi
Rabu, 29 Apr 2026, 19:02 WIBJAKARTA â Isu volatilitas harga energi global yang berdampak pada perekonomian berbagai negara menjadi momentum penting untuk mempercepat transisi energi. Dalam konteks itu, Indonesia menegaskan target mencapai emisi net zero pada 2050, atau 10 tahun lebih cepat dari rencana sebelumnya. Namun, perubahan kebijakan energi dinilai harus dilakukan secara hati-hati karena berimplikasi luas terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit yang digelar di Jakarta, Selasa (29/4). Forum ini menyoroti pentingnya inovasi berbasis masyarakat dalam mendukung ketangguhan energi nasional, mulai dari kebijakan transisi energi yang adil hingga penerapan teknologi di tingkat lokal.
Transisi Energi Harus Adil dan Inklusif
Akademisi dari Australian National University, Budy Resosudarmo, menilai kebijakan lingkungan dan energi perlu dilandasi pemodelan yang mampu mengukur dampaknya terhadap masyarakat.
Melalui riset kolaboratif AustraliaâIndonesia, tim peneliti menggunakan model terbuka yang menggabungkan Global Change Analysis Model (GCAM) dan mikrosimulasi berbasis estimasi Almost Ideal Demand System (AIDS). Hasilnya menunjukkan bahwa percepatan transisi menuju net zero emission berpotensi menekan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan angka kemiskinan jika tidak disertai kebijakan pendukung.
Kelompok rumah tangga rentan disebut paling terdampak, terutama keluarga dengan kepala rumah tangga perempuan, anggota keluarga penyandang disabilitas, lansia, maupun anak-anak.
Peneliti dari Universitas Indonesia, Alin Halimatussaidah, mengatakan hasil riset tersebut menegaskan pentingnya prinsip keadilan dalam transisi energi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya efektif secara teknokratis, tetapi juga berkeadilan secara sosial.
 âTemuan kami tentang ketimpangan kesejahteraan bagi kelompok rentan menegaskan perlunya transisi energi yang adil. Intervensi pemerintah melalui stimulus fiskal dan daur ulang pendapatan dari penerapan harga karbon yang efektif dapat mengembalikan kesejahteraan rumah tangga rentan seperti semula,â ujarnya pada kesempatan tersebut.
Pemerintah Apresiasi Masukan Riset
Koordinator Rencana dan Laporan Sekretariat Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Widya Adi Nugroho, menyambut positif hasil penelitian tersebut. Menurutnya, pemerintah saat ini mendorong transisi energi yang berkeadilan sehingga kebijakan tidak bisa hanya dilihat dari sisi energi semata.
âSaat ini pemerintah mendorong transisi energi yang berkeadilan. Untuk mencapainya, kebijakan yang dirancang harus melihat dampaknya terhadap ekonomi dan sosial masyarakat,â kata Widya.
Teknologi Lokal untuk Energi dan Air Bersih
Selain membahas kebijakan, sesi Energy Resilience in the Time of Crisis dalam KIE Jakarta Summit juga menampilkan berbagai inovasi teknologi yang diterapkan langsung di masyarakat. Salah satu riset terapan dilakukan oleh University of Newcastle bersama Universitas Trunojoyo Madura, RMIT University, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kolaborasi tersebut mengembangkan prototipe teknologi berbasis Organic Rankine Cycle (ORC) dan Seawater Reverse Osmosis (SWRO) di Madura, wilayah yang masih menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan dengan tingkat kemiskinan sekitar 20 persen.
Akademisi Universitas Trunojoyo, Wahyudi Agustiono, menjelaskan masyarakat sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan dari pengolahan garam tradisional. Kini, sistem baru memungkinkan bak penampungan air laut dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut, sekaligus menghasilkan air bersih dan energi surya secara bersamaan.
âJadi ada tiga teknologi yang digunakan. Ini masih tahap penelitian awal dan perlu penyempurnaan desain, tetapi kami berharap dapat direplikasi di daerah lain,â ujarnya.
Hasil Awal Menjanjikan
Prototipe tersebut mampu menghasilkan daya surya sebesar 1.764 hingga 3.016 watt, memproduksi sekitar dua liter air layak minum per menit, serta memanfaatkan kembali tujuh hingga delapan liter air pekat per menit untuk mendukung produksi garam berbasis tenaga surya.
Chief Technology and Sustainability Officer PLN, Evy Haryadi, yang turut hadir dalam forum tersebut mengapresiasi solusi teknologi itu. Namun, ia menekankan bahwa perluasan implementasi ke skala lebih besar harus mempertimbangkan model pendanaan yang berkelanjutan, baik bagi PLN maupun masyarakat.
Kolaborasi Jadi Kunci
KIE Jakarta Summit menegaskan bahwa ketangguhan energi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan makro, tetapi juga inovasi konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan komunitas dinilai menjadi kunci agar transisi energi berjalan adil, inklusif, dan berkelanjutan.
- Madura
- Perubahan Iklim
- transisi energi
- Net Zero Emission
- Ekonomi Masyarakat
- energi terbarukan
- energi berkeadilan
- panel surya
- Air Bersih
- Keberlanjutan
- Inovasi Teknologi
- ketahanan energi
- KONEKSI
- Australia Indonesia
- riset kolaboratif
- KIE Jakarta Summit
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ekosistem Pembayaran Digital Kian Kuat, UMKM Didorong Naik Kelas di Era Ekonomi Digital
-
BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Sultra Hari Ini
-
Pelumasan Sintetis Dorong Produktivitas dan Daya Saing Industri Plastik
-
Mendorong Prestasi 23 Peserta MTQ Tingkat Provinsi NTT
-
Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3, Targetkan 20 Ribu Peserta
-
Diskon Tumbler Estetik di Jakarta Fair 2026, Lock n Lock Obral Potongan hingga 85 Persen
-
PT KAI Ungkap Sembilan Stasiun Hidupkan Ekonomi dengan 184.136 Pelanggan Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.