Para Dokter Swedia Terkejut dengan Khasiat Aspirin dalam Melawan Kanker Usus Besar

Senin, 27 Apr 2026, 00:02 WIB

STOCKHOLM - Bagaimana jika obat penghilang rasa sakit yang murah dan umum digunakan sehari-hari dapat membantu mencegah kanker kambuh setelah operasi? Hasil uji klinis terbaru menunjukkan bahwa untuk beberapa pasien kanker kolorektal (kanker usus besar), aspirin mungkin dapat melakukan hal tersebut.

Dari SciTechDaily, sebuah penelitian yang dipimpin oleh para ahli di Karolinska Institutet dan Rumah Sakit Universitas Karolinska di Swedia, pasien kanker kolorektal yang mengonsumsi aspirin dosis rendah setiap hari setelah operasi jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kekambuhan penyakit mereka, tetapi hanya jika tumor mereka membawa perubahan genetik tertentu.

Ket. Foto: Sebuah uji klinis besar menunjukkan obat sederhana dapat memiliki peran tak terduga. Para peneliti menemukan pengurangan risiko kambuh yang signifikan, menunjukkan pendekatan pengobatan yang lebih terarah dan berbasis biologi. — Sumber: Istimewa

Studi ini berfokus pada perubahan jalur pensinyalan PI3K, yang membantu mengontrol bagaimana sel tumbuh dan bertahan hidup. Ketika jalur ini terganggu oleh mutasi, hal itu dapat memicu perkembangan kanker. Sekitar 37 persen pasien dalam uji klinis memiliki perubahan genetik ini, sehingga mereka memenuhi syarat untuk analisis yang ditargetkan.

Hasil Uji Coba dan Risiko Kekambuhan

Para peserta secara acak ditugaskan untuk mengonsumsi 160 mg aspirin setiap hari atau plasebo selama tiga tahun setelah operasi. Hasilnya menunjukkan manfaat yang jelas. Di antara pasien dengan mutasi PIK3CA utama, kanker kambuh pada 7,7 persen pasien yang mengonsumsi aspirin, dibandingkan dengan 14,1 persen pada kelompok plasebo. Pasien dengan perubahan genetik terkait menunjukkan hasil serupa, dengan tingkat kekambuhan 7,7 persen dibandingkan dengan 16,8 persen. Secara keseluruhan, aspirin mengurangi risiko kekambuhan sekitar setengahnya.

Uji klinis yang dikenal sebagai ALASCCA ini melibatkan lebih dari 3.500 pasien yang dirawat di 33 rumah sakit di Swedia, Norwegia, Denmark, dan Finlandia. Ini adalah salah satu studi acak pertama yang mengkonfirmasi petunjuk sebelumnya dari penelitian observasional bahwa aspirin mungkin dapat meningkatkan hasil setelah diagnosis kanker kolorektal.

Kanker kolorektal tetap menjadi tantangan kesehatan global yang besar, dengan hampir dua juta kasus baru didiagnosis setiap tahunnya. Bahkan setelah operasi, banyak pasien menghadapi risiko signifikan bahwa penyakit tersebut akan kambuh, terutama jika sel kanker telah menyebar di luar tumor aslinya.

“Aspirin sedang diuji di sini dalam konteks yang sama sekali baru sebagai pengobatan kedokteran presisi. Ini adalah contoh nyata bagaimana kita dapat menggunakan informasi genetik untuk mempersonalisasi pengobatan dan pada saat yang sama menghemat sumber daya dan penderitaan,” kata penulis utama Anna Martling, profesor di Departemen Kedokteran Molekuler dan Bedah, Karolinska Institutet, dan konsultan ahli bedah senior di Rumah Sakit Universitas Karolinska.

Bagaimana Aspirin Dapat Bekerja

Para peneliti percaya bahwa aspirin bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling tumpang tindih. Aspirin dapat mengurangi peradangan, membatasi aktivitas trombosit yang dapat membantu penyebaran kanker, dan mengganggu pertumbuhan tumor. Secara bersamaan, efek-efek ini dapat mempersulit sel kanker yang tersisa untuk berkembang setelah operasi.

“Meskipun kita belum sepenuhnya memahami semua keterkaitan molekuler, temuan ini sangat mendukung dasar biologisnya dan menunjukkan bahwa pengobatan ini mungkin sangat efektif pada subkelompok pasien yang ditentukan secara genetik,” kata Anna Martling.

Studi ini juga menunjukkan peningkatan angka kelangsungan hidup bebas penyakit, dengan hampir 89 persen pasien yang diobati dengan aspirin tetap bebas kanker setelah tiga tahun, dibandingkan dengan sekitar 79 hingga 81 persen pada kelompok plasebo. Namun, pengobatan ini bukannya tanpa risiko. Efek samping yang parah dilaporkan pada 16,8 persen pasien yang mengonsumsi aspirin, dibandingkan dengan 11,6 persen pasien yang menerima plasebo.

Manfaat, Risiko, dan Aksesibilitas

Yang membuat temuan ini sangat penting adalah aksesibilitas pengobatannya. Aspirin sudah tersedia secara luas di seluruh dunia dan harganya jauh lebih murah daripada sebagian besar terapi kanker modern. Jika pedoman di masa mendatang mengadopsi pendekatan ini, pengujian genetik dapat membantu mengidentifikasi pasien mana yang paling mungkin mendapat manfaat dari penambahan aspirin ke rencana pengobatan mereka.

“Aspirin adalah obat yang mudah didapatkan secara global dan harganya sangat murah dibandingkan dengan banyak obat kanker modern, yang merupakan hal yang sangat positif,” kata Anna Martling.

Penelitian ini sebagian didanai oleh Dewan Riset Swedia dan Perhimpunan Kanker Swedia. Para peneliti menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.