Bank Indonesia Makin Keteteran Menahan Depresiasi Rupiah

Jumat, 24 Apr 2026, 01:10 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) makin keteteran menahan depresiasi rupiah, sehingga nilainya sudah undervalue, tepatnya berada di posisi 17.304 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4) siang, melemah 123 poin atau 0,72 persen dibanding penutupan perdagangan Rabu yang berada di level 17.181 per dollar AS.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengakui jika rupiah saat ini undervalue karena pengaruh faktor eksternal, khususnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Otoritas moneter itu pun sudah melakukan berbagai langkah antisipasi, namun hasilnya belum menunjukkan kestabilan kurs, malah sebaliknya semakin sulit dikendalikan.

Ket. Foto: Sumber: Bank Indonesia — Sumber: koran jakarta /ones

Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu (22/4) mengatakan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sudah dinaikkan dalam sebulan terakhir untuk mendorong aliran modal masuk (inflow) dengan harapan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kebijakan tersebut jelasnya telah mendorong inflow portofolio asing, tidak hanya ke SRBI melainkan juga ke Surat berharga Negara (SBN), sehingga turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat ketahanan eksternal terhadap dampak dinamika global.

Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan yang cukup signifikan ini disebabkan gagalnya perundingan antara AS dengan Iran.

“Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” jelasnya dalam rekaman suara di Jakarta, Kamis.

Dampaknya ke Indonesia yaitu kenaikan harga minyak Brent saat ini menyentuh 103 dollar AS per barel dan harga West Texas Intermediate (WTI) sebesar 98 dollar AS per barel, membuat defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan melebar.

Masalah lainnya ialah kapal tanker Pertamina yang belum bisa keluar dari Selat Hormuz akibat gejolak konflik di kawasan Asia Barat. “Kita melihat kebutuhan impor minyak Indonesia itu adalah 1,5 juta barel per hari. Kita harus tahu kebutuhan minyak mentah di Indonesia dalam satu hari itu adalah 2,1 juta barel per hari, sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan minyak tersebut,” kata Ibrahim.

Sentimen dari domestik juga berasal dari utang pemerintah yang saat ini mendekati jatuh tempo yang begitu besar, sehingga mempengaruhi kinerja dari pemerintah sendiri.

Seiring keadaan itu, subsidi pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Pertalite dinilai akan semakin besar, mengingat keputusan kenaikan BBM hanya terhadap Pertamax Turbo dan BBM non subsidi lainnya.

“Tidak menaikkan harga BBM subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran-anggaran dari departemen-departemen (kementerian) lain untuk membantu subsidi terhadap Pertalite. Ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran,” katanya.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menegaskan, pelemahan rupiah sebesar 0,72 persen memberi tekanan bersih pada APBN, bukan keuntungan. Meski penerimaan negara dari migas dan komoditas berbasis dolar naik sekitar 2-3,5 triliun rupiah, namun beban belanja justru membengkak lebih besar berkisar 6-11 triliun rupiah.

Kenaikan belanja itu didorong oleh subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri yang sangat sensitif terhadap kurs.

“Secara bersih APBN justru tertekan, dengan potensi pelebaran defisit sekitar 3-6 triliun rupiah jika kurs tinggi ini bertahan. Ini menegaskan kerentanan klasik fiskal Indonesia, pelemahan rupiah lebih cepat membebani belanja daripada memperkuat penerimaan,” ujarnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.