Sinner Kian Matang di Tanah Liat, Tantang Dominasi Carlos Alcaraz Menuju Prancis Open

Kamis, 23 Apr 2026, 06:00 WIB

MADRID — Jannik Sinner kini bukan lagi sekadar spesialis lapangan keras. Petenis Italia itu menjelma menjadi ancaman utama di lapangan tanah liat, berkat transformasi signifikan dalam aspek kesabaran dan kontrol permainan, dua elemen yang sebelumnya dianggap bukan kekuatan utamanya.

Peraih empat gelar Grand Slam tersebut dulu diprediksi akan lebih dominan di permukaan cepat, terutama dalam rivalitasnya dengan Carlos Alcaraz. Dalam narasi lama, Sinner diyakini unggul di lapangan keras, sementara Alcaraz menjadi raja di tanah liat.

Ket. Foto: Jannik Sinner. — Sumber: AFP

Namun, peta persaingan mulai bergeser. Alcaraz, juara bertahan Prancis Open, memang masih menjadi kekuatan besar di lapangan tanah liat. Tetapi kekalahannya dari Sinner di final Monte Carlo, ditambah cedera pergelangan tangan yang mengganggu persiapannya menuju Paris, membuka peluang baru bagi rivalnya itu.

Sinner kini melanjutkan momentumnya di turnamen Madrid, yang dikenal memiliki karakter unik. Berada di dataran tinggi, kondisi di ibu kota Spanyol membuat bola melaju lebih cepat dibandingkan venue tanah liat lain di Eropa. sebuah tantangan yang justru disambut positif oleh petenis berusia 24 tahun itu.

“Di sini gaya bermainnya sangat berbeda. Ketinggiannya ekstrem dan kadang berangin, jadi cukup sulit. Tapi setiap jenis lapangan tanah liat membantu saya berkembang sebagai pemain,” ujar Sinner.

Perkembangan Sinner tidak hanya terlihat dari teknik, tetapi juga dari pendekatan mentalnya. Dalam dua tahun terakhir, hasil turnamen besar antara dirinya dan Alcaraz terbilang seimbang. Namun, menurut mantan pemain sekaligus psikolog olahraga Jeff Greenwald, ada perbedaan halus yang kini mulai menentukan.

“Sinner memiliki ketenangan luar biasa, bahkan melebihi Alcaraz. Itu lahir dari kecintaan mendalam terhadap proses,” kata Greenwald.

“Ia adalah representasi sempurna dari mentalitas ‘mastery’—keinginan untuk terus berkembang, yang mengalahkan obsesi jangka pendek terhadap kemenangan instan.”

Pendekatan tersebut kini menjadi senjata utama Sinner di lapangan tanah liat. Disiplin taktis dan kemampuannya menghadapi ketidakpastian menjadikannya unggul dalam pertarungan panjang yang melelahkan, ciri khas pertandingan di Roland Garros.

Turnamen Prancis Open yang akan dimulai 24 Mei mendatang pun menjadi panggung pembuktian berikutnya. Namun, tantangan Sinner bukan hanya lawan di lapangan, melainkan juga ekspektasi yang kini melekat padanya sebagai unggulan utama.

Greenwald menilai tekanan ekspektasi bisa menjadi distraksi terbesar bagi atlet, bahkan bagi pemain elite sekalipun. Meski demikian, ia melihat Sinner memiliki keunggulan unik.

“Banyak pemain mencoba fokus pada proses untuk menghindari tekanan, tapi tetap rentan. Sinner berbeda, mentalitas itu sudah tertanam sejak awal pembentukannya,” jelasnya.

“Label favorit tidak akan mengganggunya. Justru akan memperkuat kepercayaan diri, ketahanan mental, dan kegembiraan yang ia bawa ke setiap pertandingan.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.