Gelombang Panas Ekstrem Ancam Pangan Global

Kamis, 23 Apr 2026, 01:00 WIB

ROMA – Gelombang panas ekstrem mendorong sistem pangan pertanian global ke ambang krisis, mengancam mata pencaharian dan kesehatan lebih dari satu miliar orang. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru dari badan pangan dan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dilansir dari The Straits Times pada Rabu (22/4), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bersama Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan gelombang panas kini terjadi lebih sering, semakin intens, dan berlangsung lebih lama, sehingga berdampak besar terhadap tanaman, ternak, perikanan, dan hutan.

Ket. Foto: Seorang petani menabur benih di sawah di pinggiran Chennai. — Sumber: AFP/R Satish BABU

“Cuaca panas ekstrem mengubah skenario tentang apa yang dapat ditanam oleh petani, nelayan, dan pengelola hutan, serta kapan mereka dapat menanamnya. Dalam beberapa kasus, hal itu bahkan menentukan apakah mereka masih dapat bekerja,” kata Kepala Kantor Perubahan Iklim FAO, Kaveh Zahedi.

“Intinya, laporan ini memberitahu kita bahwa kita menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti,” ujarnya.

Data iklim terbaru menunjukkan pemanasan global terus meningkat, dengan tahun 2025 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Kondisi ini memicu meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Panas ekstrem juga berperan sebagai pengganda risiko, memperparah kekeringan, kebakaran hutan, serta wabah hama, dan secara signifikan menurunkan hasil panen ketika suhu melampaui ambang batas kritis.

Laporan tersebut menyebutkan sebagian besar tanaman utama mulai mengalami penurunan hasil ketika suhu melebihi sekitar 30 derajat Celsius, karena semakin sempitnya batas toleransi bagi tumbuhan, hewan, dan manusia untuk bertahan.

Zahedi mencontohkan kondisi di Maroko, di mana enam tahun kekeringan yang diikuti gelombang panas ekstrem menyebabkan hasil panen serealia turun lebih dari 40 persen.

Peringatan Dini

Selain di darat, gelombang panas laut juga semakin sering terjadi dan mengancam ekosistem perikanan. Pada 2024, sekitar 91 persen lautan dunia mengalami setidaknya satu gelombang panas laut, yang menurunkan kadar oksigen dan membahayakan stok ikan.

Risiko diperkirakan akan meningkat seiring pemanasan global. Intensitas panas ekstrem dapat meningkat hampir dua kali lipat pada kenaikan suhu 2 derajat Celsius, dan hingga empat kali lipat pada kenaikan 3 derajat Celsius, dibandingkan dengan kenaikan 1,5 derajat Celsius.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

De Zerbi Minta Maaf atas Kekalahan Tottenham dari Brentford

IKM Fesyen & Kriya Tumbuh 2x Lipat! Kemenperin Genjot Digital Biar Naik Kelas

Bantu Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade, Kemenpar Siagakan Poltekpar Lombok

Tabrakan Beruntun di Tol Senayan, Dua Orang Alami Luka-luka

Dinas Pertanian Kabupaten Lebak: Panen Durian dan Manggis Serap Ribuan Tenaga Kerja 

Belajar Bisnis dari Kisah Yohanes Membangun PepperJo

Libur Panjang Bikin Stasiun Jakarta Padat, 38.842 Penumpang Berangkat Naik Kereta

Bupati Sintang Imbau Warga untuk Peduli dan Hentikan Bakar Hutan dan Lahan

Kerajinan Badui Banjir Pesanan di Bazar Harkop Harnas, UMKM Lokal Raup Omzet

Senangnya! Cerita Komik "Oki dan Nirmala dari Negeri Dongeng" akan Diangkat ke Layar Lebar!

'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.