Penembakan Massal Terjadi di Perumahan Lousiana AS, 8 Anak Tewas, Pelaku adalah Ayah Korban

Senin, 20 Apr 2026, 13:35 WIB

LOUISIANA — Seorang ayah di Louisiana, Amerika Serikat menembak mati delapan anak, termasuk tujuh anaknya sendiri, dalam serangan terhadap keluarganya pada Minggu (19/4) pagi yang terjadi di dua rumah di lingkungan Shreveport.

Menurut juru bicara Departemen Kepolisian Shreveport, Chris Bordelon, dua wanita, termasuk istri pelaku penembakan yang merupakan ibu dari anak-anak mereka, juga tertembak dan terluka parah. Para pejabat mengatakan anak-anak tersebut—yang semuanya tewas di rumah yang sama—berusia antara 3 hingga 11 tahun.

Ket. Foto: Polisi berjaga di luar lokasi penembakan massal, Minggu, 19 April 2026, di Shreveport, Louisiana. — Sumber: AP

Pelaku penembakan, yang diidentifikasi sebagai Shamar Elkins (31) tewas setelah diburu polisi dan berakhir petugas menembaknya, menurut Bordelon. Pihak berwenang tidak mengatakan apa yang memicu kekerasan tersebut, tetapi Bordelon mengatakan para detektif yakin penembakan itu "sepenuhnya merupakan insiden domestik."

Serangan itu merupakan penembakan massal paling mematikan di AS dalam lebih dari dua tahun.

“Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa, hati saya sangat terkejut,” kata Kepala Kepolisian Shreveport, Wayne Smith. “Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kejadian seperti ini bisa terjadi.”

Bordelon mengatakan polisi mengenal Elkins, yang pernah ditangkap dalam kasus senjata api tahun 2019, tetapi dia tidak diketahui memiliki masalah kekerasan dalam rumah tangga.

Polisi mengatakan serangan itu dimulai sebelum matahari terbit di sebuah lingkungan di selatan pusat kota Shreveport ketika tersangka menembak seorang wanita di sebuah rumah dan kemudian berkendara ke lokasi lain "di mana tindakan keji ini dilakukan."

Tujuh anak tewas di dalam rumah kedua, dan satu ditemukan tewas di atap setelah mencoba melarikan diri, kata Bordelon. Anak lainnya melompat dari atap dan diperkirakan akan selamat setelah dibawa ke rumah sakit.

Anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian, Tammy Phelps, mengatakan beberapa anak mencoba melarikan diri melalui pintu belakang. “Saya bahkan tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya dihadapi oleh petugas polisi dan tim tanggap darurat ketika mereka tiba di sini hari ini,” katanya dalam konferensi pers.

Peristiwa itu merupakan penembakan massal paling mematikan di AS sejak delapan orang tewas di pinggiran kota Chicago pada Januari 2024, menurut data yang dikelola oleh The Associated Press dan USA Today bekerja sama dengan Northeastern University.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.