• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • PDRC, Revolusi Pendinginan...

PDRC, Revolusi Pendinginan Pasif Tanpa Energi di Tengah Krisis Iklim

Senin, 20 Apr 2026, 07:06 WIB

TEKNOLOGI Passive Daytime Radiative Cooling (PDRC) muncul sebagai terobosan krusial dalam riset energi berkelanjutan di tengah melonjaknya konsumsi energi global untuk sistem pendingin. Dengan merekayasa material yang mampu memantulkan radiasi matahari sekaligus memancarkan panas melalui gelombang inframerah, para ilmuwan berhasil menciptakan pendinginan mandiri yang efektif bahkan di bawah paparan sinar matahari langsung.

Ketika suhu global terus meningkat dan kebutuhan energi untuk pendingin ruangan melonjak tajam, para ilmuwan mulai mengembangkan solusi yang lebih ramah lingkungan: mendinginkan permukaan tanpa listrik, bahkan di bawah terik matahari. Teknologi yang dikenal sebagai Passive Daytime Radiative Cooling (PDRC) itu merupakan sebuah pendekatan berbasis fisika yang kini menjadi sorotan dalam riset energi berkelanjutan.

Ket. Foto: Pejalan kaki yang membawa payung berjalan di hari yang panas di tengah gelombang panas di distrik Shinjuku, Tokyo. — Sumber: Philip FONG / AFP

Berbeda dengan pendingin konvensional seperti AC yang bergantung pada listrik dan berkontribusi terhadap emisi karbon, PDRC memanfaatkan mekanisme alami bumi dalam melepaskan panas. Setiap benda pada dasarnya memancarkan energi dalam bentuk radiasi inframerah. Dalam kondisi tertentu, radiasi ini dapat menembus atmosfer dan dilepaskan ke luar angkasa yang bersuhu sangat rendah. Proses ini dikenal sebagai thermal radiation, yang menjadi dasar kerja teknologi PDRC.

Dari Laboratorium ke ­Dunia Nyata

Konsep PDRC mulai mendapat perhatian luas setelah penelitian tim ilmuwan dari Stanford University yang dipimpin Shanhui Fan dan Aaswath Raman. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2014, mereka berhasil mengembangkan material multilapis yang mampu memantulkan hampir seluruh radiasi matahari sekaligus memancarkan panas ke luar angkasa.

Hasilnya cukup mencengangkan: material tersebut mampu menghasilkan pendinginan hingga sekitar 100 watt per meter persegi di bawah sinar matahari langsung. Penelitian ini menjadi tonggak penting yang membuka jalan bagi pengembangan teknologi PDRC secara global.

Sejak saat itu, berbagai studi lanjutan bermunculan. Tinjauan ilmiah dalam jurnal Renewable and Sustainable Energy Reviews menunjukkan bahwa PDRC memiliki potensi besar untuk mengurangi konsumsi energi pendinginan bangunan secara signifikan, terutama di wilayah tropis.

Kunci Teknologi PDRC

Perkembangan PDRC sangat bergantung pada inovasi material. Salah satu terobosan penting datang dari tim peneliti di Purdue University yang dipimpin Xiulin Ruan. Mereka mengembangkan cat berbasis partikel barium sulfat (BaSO₄) yang mampu memantulkan hingga 97–98% sinar matahari. Dalam uji coba, permukaan yang dilapisi cat ini dapat memiliki suhu beberapa derajat lebih rendah dibanding suhu lingkungan, bahkan di bawah sinar matahari langsung.

Selain itu, peneliti dari University of Colorado Boulder juga mengembangkan material berbasis polimer berpori yang ringan dan fleksibel, dengan kemampuan pendinginan yang tinggi. Material ini dinilai lebih mudah diproduksi dalam skala besar dan berpotensi diterapkan secara komersial.

Riset terbaru pada tahun 2025–2026 bahkan mulai mengeksplorasi material berbasis biomaterial dan struktur nano yang lebih ramah lingkungan. Pencapaian itu sekaligus mempertahankan performa pendinginan tinggi.

Dari Rumah hingga Kota

Teknologi PDRC kini mulai diuji dalam berbagai aplikasi nyata. Pada sektor bangunan, pelapis atap berbasis PDRC terbukti mampu menurunkan suhu ruangan secara signifikan, sehingga mengurangi ketergantungan pada AC.

Di kota-kota besar, teknologi ini juga berpotensi mengurangi efek urban heat island fenomena di mana kawasan perkotaan menjadi lebih panas akibat dominasi beton dan minimnya ruang hijau. Dengan menerapkan material PDRC pada atap dan permukaan bangunan, suhu lingkungan perkotaan dapat ditekan secara alami.

Selain itu, PDRC juga mulai diterapkan pada panel surya untuk menjaga suhu operasional tetap rendah sehingga meningkatkan efisiensi energi. Dalam bidang pertanian, teknologi ini berpotensi digunakan untuk penyimpanan hasil panen tanpa listrik, bahkan untuk menghasilkan air melalui proses kondensasi di daerah kering.

Tantangan Implementasi

Meski menjanjikan, penerapan PDRC dalam skala luas masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya produksi material canggih, daya tahan terhadap cuaca ekstrem, serta integrasi dengan desain bangunan menjadi beberapa faktor yang perlu diatasi.

Selain itu, sebagian besar material PDRC saat ini berwarna putih atau terang untuk memaksimalkan refleksi cahaya, yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan estetika arsitektur modern. Namun, penelitian terbaru mulai mengembangkan material berwarna dengan performa serupa.

Di tengah krisis iklim dan meningkatnya kebutuhan energi, PDRC menawarkan solusi yang tidak hanya efisien, tetapi juga selaras dengan alam. Dengan memanfaatkan prinsip dasar fisika tanpa konsumsi energi tambahan, teknologi ini berpotensi menjadi bagian penting dari strategi global dalam mengurangi emisi karbon. hay

  • Krisis Iklim

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.