Rupiah Hari Ini Terkapar, Pasar Global Menahan Napas Jelang Data Inflasi AS
Jumat, 10 Apr 2026, 19:13 WIBJAKARTA â Pelemahan Rupiah belakangan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar global yang cenderung âwait and seeâ menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya Consumer Price Index (CPI).
Dalam konteks ini, CPI menjadi indikator kunci untuk membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve, apakah akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mulai memberi sinyal pelonggaran.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. Penguatan dolar ini secara langsung menekan nilai tukar Rupiah.
Selain itu, ekspektasi bahwa inflasi AS masih relatif tinggi dapat memperkuat narasi âhigher for longerâ, yang berarti imbal hasil obligasi AS tetap menarik dan memperbesar arus modal keluar dari pasar domestik.
Secara analitis, pelemahan Rupiah bukan semata karena faktor domestik, melainkan lebih dipengaruhi sentimen global dan ekspektasi kebijakan moneter AS.
Selama pasar belum mendapatkan kepastian dari data CPI, volatilitas nilai tukar cenderung tetap tinggi, dengan Rupiah bergerak defensif mengikuti dinamika dolar dan arus modal internasional.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (10/4), melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see pasar jelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.
âMeskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat,â katanya di Jakarta.
Data CPI AS diperkirakan meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan menopang penguatan dolar AS.
Di samping itu, lanjutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah.
Melihat sentimen domestik, intervensi Bank Indonesia (BI) disebut menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Dia mengatakan bahwa Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
âSementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore,â kata Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga bergerak melemah ke level Rp17.112 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.082 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Hati-hati! Kurang Tidur Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Hipertensi, Termasuk pada Orang Muda
-
IHSG Melemah, Menkeu Purbaya Enggan Turun Tangan ke Bursa
-
Pemkab Lamandau Alokasikan Rp15,1 Miliar untuk BPJS Kesehatan Gratis Kelas III.
-
Joe Taslim Bakal Bintangi Film Remake Indonesia “The Man From Nowhere”
-
Pemkot Bandung: Inovasi Layanan SIP PISAN Permudah Adminduk Warga Disabilitas
-
Diego Simeone Akui Bangga Atletico Bisa Dua Kali Singkirkan Barcelona di Musim Ini
-
Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Konflik AS–Iran Kembali Guncang Pasar Keuangan Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.