- Home
-
- Luar Negeri
-
- Perang di Timur Tengah Aka...
Perang di Timur Tengah Akan Percepat Pengembangan EBT
Rabu, 08 Apr 2026, 00:00 WIBParis â Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan mempercepat pengembangan energi terbarukan (EBT), energi nuklir, serta kendaraan listrik di berbagai negara.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa krisis saat ini jauh lebih serius dibandingkan krisis energi sebelumnya.
Dalam wawancara dengan surat kabar Le Figaro yang terbit Selasa (7/4), Birol mengatakan krisis energi saat ini âlebih serius daripada krisis tahun 1973, 1979, dan 2022 jika digabungkanâ.
Meski terjadi lonjakan harga bahan bakar akibat blokade de facto Iran di Selat Hormuz, ia menilai tetap ada peluang positif terhadap perubahan sistem energi global.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa transformasi tersebut tidak akan terjadi secara instan.
âIni akan memakan waktu bertahun-tahun. Ini bukan solusi untuk krisis saat ini, tetapi geopolitik energi akan mengalami transformasi mendalam,â kata Birol.
Menurutnya, beberapa teknologi akan berkembang lebih cepat dibandingkan lainnya, terutama energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
âHal itu berlaku untuk energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, yang dapat dipasang dengan sangat cepat. Kita akan segera beralih ke energi terbarukan, mungkin dalam beberapa bulan ke depan,â ujarnya.
Di sisi lain, Birol mengingatkan negara-negara untuk tetap berhati-hati dalam mengelola konsumsi energi dalam jangka pendek. Ia bahkan memperingatkan potensi terjadinya âApril hitamâ jika kondisi tidak membaik.
âJika selat tersebut memang tetap tertutup sepanjang April, kita akan kehilangan minyak mentah dan produk olahan dua kali lebih banyak daripada yang terjadi pada bulan Maret,â katanya.
Paling Rentan
Birol menambahkan bahwa Selat Hormuz juga merupakan jalur penting bagi distribusi komoditas lain, termasuk pupuk, sehingga dampaknya bisa meluas ke sektor pangan.
Ia menilai negara-negara maju seperti di Eropa, Jepang, dan Australia akan terdampak, namun negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan menghadapi krisis ini.
Menurutnya, negara berkembang berpotensi mengalami tekanan berat akibat kenaikan harga minyak dan gas, lonjakan harga pangan, serta percepatan inflasi secara umum.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, negara-negara anggota IEA telah sepakat untuk melepaskan sebagian cadangan energi strategis sejak Maret, dan proses tersebut masih berlangsung.
Krisis ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuzâjalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi tersebut memicu lonjakan harga energi global sekaligus mempercepat perubahan arah kebijakan energi di berbagai negara.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Bantuan logistik untuk penyintas gempa di Pulau Batang Dua
-
Cleveland Cavaliers Gilas Dallas Mavericks dengan Skor 138-105
-
Rupiah Menguat Dipengaruhi Komitmen Kerja Sama AS-Indonesia
-
Konflik Timur Tengah dapat Picu Ambisi Energi Nuklir di Asia Tenggara
-
Bapanas Dorong Diversifikasi Protein Hewani Berbasis Ikan
-
Gandeng PBB, Wagub Rano Hadirkan SDGs Corner di Museum Bahari Jakarta
-
Musrenbang Usulkan Angkutan Antarpulau
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.