Cuma Lihat Judul Langsung Ambil Kesimpulan? Sosiolog Sebut Ini Sangat Berbahaya

Jumat, 14 Agu 2026, 06:00 WIB

Jakarta - Sosiolog politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyoroti kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda, yang hanya membaca judul berita tanpa memahami isi secara utuh. Menurut dia, kebiasaan tersebut dapat memicu kesimpulan prematur dan membahayakan kualitas pemahaman publik terhadap berbagai persoalan.

“Itu adalah kondisi di mana orang tidak mau secara serius dan mendalam memahami sesuatu. Cukup melihat permukaan, lalu langsung menarik kesimpulan. Itu sangat berbahaya,” kata Ubedilah kepada wartawan dalam pelatihan jurnalistik tematik yang diselenggarakan Dewan Pers di Jakarta, Kamis (13/8).

Ket. Foto: Sosiolog politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun memberikan keterangan kepada wartawan dalam pelatihan jurnalistik tematik yang diselenggarakan oleh Dewan Pers di Jakarta, Kamis (13/8). — Sumber: Antara

Ia mengatakan masyarakat, terutama generasi muda, perlu membangun kebiasaan membaca secara utuh, berdiskusi, serta menelaah informasi sebelum mengambil kesimpulan.

“Bagaimana kemudian kita melahirkan generasi yang mau sabar mendalami sesuatu hal, mau berdiskusi secara mendalam, dan mau meneliti, bukan generasi yang hanya membaca judul berita, lalu langsung membuat kesimpulan,” ujarnya.

Ubedilah menilai fenomena tersebut sudah terjadi di Indonesia sehingga perlu mendapat perhatian serius. Menurut dia, peningkatan kemampuan literasi tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat lebih sering membaca, tetapi juga membangun kemampuan memahami, memeriksa, dan mengkritisi informasi.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis hak asasi manusia (HAM) Haris Azhar menilai peran media arus utama dan jurnalis semakin penting di tengah berkembangnya berbagai kanal informasi di luar media konvensional.

Menurut Haris, media harus tetap menjalankan fungsi jurnalistik dengan mengutamakan fakta, kejelasan sumber, serta konsistensi dalam mengawal sebuah informasi hingga tuntas.

“Kalau menurut saya, tugasnya the real media enterprise, ya, kerja dengan standar jurnalistik. Yang pertama dan utama adalah mengandalkan fakta. Mengandalkan fakta, otentik arah sumbernya atau sumber informasinya, dan secara berkesinambungan terus-terusan mengawal tuntas suatu informasi,” katanya.

Ia mengakui kerja jurnalistik yang mengedepankan konteks dan verifikasi terkadang tidak sepopuler informasi singkat yang beredar di media sosial. Namun, menurut Haris, media arus utama tetap memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi yang faktual dan dapat dipertanggungjawabkan.

Haris juga menilai banyak influencer yang menyampaikan informasi di media sosial pada akhirnya tetap menggunakan berita media arus utama sebagai salah satu rujukan.

“Begitu mereka jeblos, yang dicari siapa? Media-media kalian. Bahwa media kalian kadang-kadang enggak populis di tengah masyarakat, biarkan saja. Yang penting, Anda menghadirkan fakta, mengedukasi warga, dan mengawal demokrasi,” ujarnya.

Literasi Masyarakat

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan peningkatan minat baca di kalangan generasi muda perlu dimanfaatkan untuk memperkuat literasi masyarakat secara berkelanjutan.

Menurut dia, para pemangku kepentingan perlu menyiapkan langkah strategis agar peningkatan minat baca tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami dan mengolah informasi.

“Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia,” kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta.

Anggota Komisi X DPR RI itu menyoroti hasil survei Jejak Pendapat (Jakpat) pada semester kedua 2025 yang menunjukkan aktivitas membaca Gen Z atau kelompok usia 14-29 tahun lebih tinggi dibandingkan Generasi Milenial dan Gen X.

Berdasarkan survei tersebut, aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen, sedangkan Generasi Milenial sebesar 20 persen dan Gen X sebesar 18 persen.

Data tersebut menunjukkan adanya peluang untuk memperkuat budaya literasi di kalangan generasi muda. Namun, peningkatan aktivitas membaca perlu diikuti kemampuan memahami informasi secara utuh agar masyarakat tidak sekadar mengonsumsi judul, tetapi mampu menilai konteks, sumber, dan kebenaran informasi sebelum menarik kesimpulan.

  • Karakter Generasi Muda

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.