Stimulus Ekonomi Diminta Sasar ‘Supply’ dan ‘Demand’

Senin, 06 Apr 2026, 01:00 WIB

Pemerintah perlu fokus menjaga stabilitas makroekonomi serta menahan dampak guncangan global terhadap ekonomi domestik.

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia menilai kebijakan dan stimulus ekonomi di tengah tekanan geopolitik global harus menyasar sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand) secara seimbang.

Ket. Foto: Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan dari sisi supply, pemerintah perlu menjaga biaya usaha tetap terkendali, arus kas sehat, serta kepastian berusaha. — Sumber: istimewa

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan dari sisi supply, pemerintah perlu menjaga biaya usaha tetap terkendali, arus kas sehat, serta kepastian berusaha.

“Dari sisi supply, diperlukan kebijakan yang mampu menjaga biaya usaha tetap terkendali, arus kas tetap sehat, dan kepastian usaha tetap terjaga,” kata Shinta di Jakarta, Sabtu (4/4).

Sementara itu, dari sisi demand, penguatan daya beli masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

“Sementara, dari sisi demand diperlukan penguatan daya beli masyarakat,” ujarnya menambahkan.

Dalam jangka pendek, Apindo menilai pemerintah perlu fokus menjaga stabilitas makroekonomi serta menahan dampak guncangan global terhadap ekonomi domestik. Langkah tersebut mencakup pengendalian harga energi, stabilitas nilai tukar, serta kelancaran logistik dan rantai pasok.

“Kebijakan juga perlu bersifat adaptif, terukur, dan berbasis pemetaan sektor, serta didukung komunikasi yang jelas kepada dunia usaha,” kata Shinta.

Ia menambahkan, penguatan konsumsi domestik dan pemberian stimulus yang tepat sasaran, khususnya bagi industri padat karya, menjadi sangat penting.

“Di saat yang sama, penguatan konsumsi domestik dan pemberian stimulus yang lebih terarah, khususnya bagi industri padat karya, menjadi penting, disertai upaya menjaga daya saing melalui dukungan likuiditas, deregulasi, serta pengurangan high cost economy,” imbuhnya.

Untuk jangka menengah hingga panjang, Apindo mendorong strategi struktural guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Langkah tersebut meliputi percepatan ketahanan energi, pengembangan energi alternatif, serta penguatan sektor hulu domestik agar tidak bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, reformasi subsidi energi juga dinilai perlu dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga daya beli masyarakat dan efisiensi dunia usaha.

Shinta menegaskan pentingnya semangat kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menghadapi tekanan global.

“Dunia usaha memandang penting adanya ruang dialog yang konstruktif dan berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha guna mengidentifikasi serta memitigasi potensi dampak kebijakan sejak tahap perumusan hingga implementasi,” ujarnya.

Konsolidasi Pengusaha Muda

Sementara itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menilai Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi pengusaha muda dalam menghadapi dinamika global.

Ketua Umum HIPMI Akbar Buchari menegaskan Munas bukan sekadar agenda organisasi, melainkan langkah strategis memperkuat peran pengusaha muda sebagai motor ekonomi nasional.

“Munas HIPMI 2026 bukan sekadar proses regenerasi kepemimpinan, tetapi momentum strategis untuk memperkuat posisi pengusaha muda sebagai motor penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengusaha muda perlu bersatu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Justru saat inilah momentum untuk bersatu, berkolaborasi, dan menjadi kekuatan kolektif yang memperkuat stabilitas serta pertumbuhan ekonomi nasional. Waktunya konsolidasi hadapi tantangan geopolitik,” kata Akbar.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal HIPMI Anggawira berharap Munas 2026 dapat memperkuat peran pengusaha muda dalam mendorong investasi dan pembangunan nasional.

“Munas HIPMI 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi pengusaha muda Indonesia, sekaligus mempertegas arah organisasi ke depan dalam menciptakan lebih banyak pengusaha muda baru,” ucapnya.

Munas HIPMI 2026 dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026, bertepatan dengan Hari Kewirausahaan Nasional, sebagai simbol penguatan peran kewirausahaan dalam perekonomian Indonesia.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Hati-hati! Obesitas Bukan Cuma Soal Penampilan, Ini Masalah Kesehatan Serius!

Rusak 10 Tahun, Bendung Irigasi Ampek Jirek Padang Pariaman Direhabilitasi Rp979,6 Juta.

Khofifah: Pasar Murah Jadi Strategi Jaga Inflasi dan Dekatkan Pangan ke Masyarakat.

Wamenlu Iran Tegas: Selat Hormuz Tak Bisa Direbut Hanya dengan Cuitan atau Kapal Induk.

Gempa M7,7 Guncang NTT, Kodam IX/Udayana Bantu Evakuasi Warga Terdampak.

Saat Utang Jadi Beban, Pengusaha Ungkap Strategi Menyelamatkan Bisnis

Momen Spesial, 118 Pendaki dari Berbagai Daerah akan Rayakan HUT ke-81 RI di Puncak Gunung Kerinci

Puluhan Wisatawan Asing di Pulau Padar Viewpoint Terekam Panik saat Gempa NTT Mengguncang

Gubernur NTT: Korban Meninggal Akibat Gempa M7,7 di Flores Bertambah

Pascagempa M7,7 di NTT, Kepala BNPB dan Menko PMK Segera ke Wilayah Terdampak

Menteri Pertahanan Jepang Kunjungi Kuil Yasukuni, PM Takaichi Tak Hadir

Sabtu, SIM Keliling Tetap Buka Layanan, Cek Jadwal dan Lokasinya!

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini, Jual Rp2.675.000 per Gram, Buyback Rp2.525.000 per Gram

Liga Inggris: Era Guardiola Berakhir, Maresca Dituntut Jaga Dominasi Manchester City

Gempa M7,7 di NTT Akibat Sesar Naik Busur Belakang Flores

Jepang Buka Peluang Kerja Sama Baru dengan Indonesia dalam Tiga Bidang

Netflix Batal Garap Serial Squid Game versi Amerika, Apa Penyebabnya?

Trump Berlakukan Tarif hingga 100 Persen untuk Drone Impor

Gempa Dahsyat M7,7 di Flores NTT Memicu Evakuasi Massal

BMKG NTT Tegaskan Isu Gempa Besar 15 Agustus 2026 Tidak Benar, Jangan Panik!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.