DPR RI dan Parlemen Inggris Perkuat Kolaborasi di Bidang Konservasi Global
Senin, 06 Apr 2026, 17:29 WIBJAKARTA - DPR RI melalui Kaukus Konservasi menggelar hearing bersama delegasi parlemen Inggris dari APPG on International Conservation, yang didukung oleh The ICCF Group. Isu tata guna lahan menjadi topik utama dalam diskusi yang dilaksanakan di DPR RI, Kamis, 2 April 2026.
Pertemuan ini dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, G Budisatrio Djiwandono, dengan dukungan International Conservation Caucus Foundation Indonesia sebagai sekretariat Kaukus Konservasi.
Hearing tersebut juga menghadirkan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), yang sebelumnya mendampingi kunjungan lapangan delegasi Inggris di Kalimantan Tengah.
Kunjungan tersebut mencakup Taman Nasional Sebangau, pusat rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng, serta interaksi langsung dengan masyarakat lokal. Pengalaman lapangan ini menjadi dasar penting dalam pembahasan kebijakan pada hearing.
Isu tata guna lahan menjadi topik utama dalam diskusi. Anggota Parlemen Inggris, Blake Stephenson, menyoroti kesamaan tantangan antara Inggris dan Indonesia dalam menyeimbangkan kebutuhan ketahanan pangan dengan perlindungan lingkungan.
âBagaimana kita memastikan produksi pangan tetap berjalan tanpa mengorbankan ekosistem?â ujar dia.
Sementara itu, Ketua APPG Barry Gardiner memaparkan rencana Inggris untuk mengembangkan kerangka tata guna lahan nasional.
Menanggapi hal tersebut, anggota DPR RI Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya penguatan kembali kebijakan perlindungan kawasan. Ia mengungkapkan bahwa ketentuan minimal 50 persen kawasan lindung dalam Undang-Undang Penataan Ruang sebelumnya telah dihapus, dan perlu dipertimbangkan untuk dihidupkan kembali.
Dalam hearing ini, DPR RI juga menekankan pentingnya pengembangan skema pembiayaan konservasi yang berkelanjutan. Budisatrio Djiwandono menyampaikan bahwa Indonesia perlu membangun mekanisme kelembagaan yang transparan untuk menyalurkan investasi dari sektor swasta dan filantropi ke sektor konservasi.
Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah, termasuk BOSF, guna memperkuat implementasi konservasi di lapangan. Selain itu, konsep ekowisata turut menjadi pembahasan.
DPR RI menilai model wisata berbasis konservasi dapat menjadi solusi untuk mendukung pembiayaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, pendekatan pariwisata massal dinilai berisiko terhadap keberlanjutan ekosistem.
Sebagai alternatif, Indonesia mempertimbangkan model wisata berbasis kualitas dengan jumlah pengunjung terbatas. Diskusi juga menyoroti peran strategis ekosistem gambut dan mangrove dalam mitigasi perubahan iklim.
Dahuri menyampaikan bahwa kapasitas penyerapan karbon mangrove dapat mencapai empat kali lipat dibandingkan hutan daratan. Ia juga menyinggung komitmen pemerintah untuk merehabilitasi hingga 600.000 hektare mangrove.
Delegasi Inggris menyambut baik upaya tersebut dan menyatakan minat untuk memperkuat kerja sama, khususnya dalam pembiayaan iklim dan pengembangan pasar karbon. Pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi menjadi salah satu poin utama.
Model yang diterapkan BOSF dinilai sebagai praktik baik, di mana masyarakat lokal terlibat langsung sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Konservasi tidak akan berkelanjutan tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat menjadi salah satu kesimpulan diskusi.
Hearing ini juga menegaskan pentingnya kerja sama antar-parlemen dalam mendorong agenda konservasi global. DPR RI dan parlemen Inggris sepakat memperkuat kolaborasi melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan kebijakan, serta peningkatan kapasitas anggota parlemen.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan semakin kuatnya peran parlemen, baik di tingkat nasional maupun internasional, diharapkan upaya konservasi dapat berjalan lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
ASN WFH: DPR Minta Pemerintah Hitung Potensi Penghematan BBM
-
Wapadai Lonjakan Harga, DPR Dorong Pemerintah Perbanyak Pasar Murah
-
Legislator: Konsistensi Digitalisasi Kunci Penyaluran Subsidi BBM Tepat Sasaran, Tidak Perlu Satgas Baru
-
Antisipasi PHK Massal PPPK, Legilastor Minta Pemerintah Longgarkan Kebijakan Alokasi Belanja Pegawai
-
Korlantas Polri Terapkan "One Way" Lokal Jelang Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026
-
Inspektorat Nyatakan Pengadaan Mobiler di Rumah Dinas Wagub Babel Langgar Aturan
-
Berjalan Lancar, Angkutan Laut Lebaran 2026 Layani 2,02 Juta Penumpang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.