Berpotensi Kembali Melemah, 6 April 2026

Senin, 06 Apr 2026, 09:45 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih rawan melemah usai libur panjang akhir pekan lalu. Pergerakan rupiah di­perkirakan masih dibayangi sentimen eksternal, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak global. 

Kenaikan harga minyak berpotensi menekan nilai tu­kar rupiah melalui pelebaran defisit neraca perdagangan dan dorongan inflasi domestik. Sementara itu, rilis data ekonomi seperti Non-Farm Payrolls tetap diperhatikan, namun dampaknya cenderung sementara dibandingkan dominasi faktor geopolitik yang saat ini lebih menentukan arah pasar.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman Le­ong melihat rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan­nya awal pekan ini. Kurs rupiah terhadap dollar AS da­lam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (6/4), diproyeksikan bergerak melemah di kisaran 16.950-17.050 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Kamis (5/4) sore, melemah 19 poin atau 0,11 persen dari Kamis (2/4), menjadi 17.002 ru­piah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa me­ngatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. “Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dollar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ucapnya di Jakarta.

Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump me­nyampaikan bahwa pihaknya akan meninggalkan Iran da­lam waktu dua-tiga pekan ke depan. Menurut angka resmi dari AS, terdapat 13 anggota militer AS telah tewas sejak perang dimulai.

Konflik antara AS-Zionis Israel dengan Iran juga men­dorong kenaikan harga energi dan mempengaruhi pengi­riman melalui Selat Hormuz, jalur penting global untuk perkapalan minyak dengan sebagian besar pengiriman komoditas tersebut melalui selat tersebut.

“Pernyataan Presiden Donald Trump memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Ketidakjelasan ter­kait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Kondisi ini mendorong penguatan dollar AS dan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” ungkap Amru.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

Berita Terbaru

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.