Misi Kemanusiaan Praja IPDN di Aceh Tamiang: Dari Situs Sejarah Hingga Rumah Warga

Sabtu, 04 Apr 2026, 18:07 WIB

JAKARTA - Penerjunan ratusan praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri ke Aceh Tamiang tidak hanya difokuskan pada pembersihan lumpur pascabanjir. Penugasan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi calon aparatur negara dalam menghadapi situasi krisis di lapangan.

Sebanyak 731 praja IPDN gelombang ketiga diterjunkan untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak. Mereka menjalankan tugas pembersihan lingkungan sekaligus memahami dinamika penanganan bencana secara nyata.

Ket. Foto: Penerjunan ratusan praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri ke Aceh Tamiang tidak hanya difokuskan pada pembersihan lumpur pascabanjir. Penugasan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi calon aparatur negara dalam menghadapi situasi krisis di lapangan. — Sumber: Istimewa

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menekankan pentingnya memanfaatkan momentum ini sebagai pengalaman berharga. Para praja diminta tidak hanya bekerja secara fisik, tetapi juga menyerap pembelajaran dari kondisi di lapangan.

"Target utamanya adalah menyelesaikan persoalan yang masih terkena lumpur, termasuk yang sudah mengeras. Selain itu juga mencakup situs sejarah, rumah warga, hingga drainase karena dampak banjir di Aceh Tamiang cukup berat," ujarnya.

Menurutnya, Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling berat akibat endapan lumpur yang mencapai beberapa meter. Kondisi tersebut menuntut kesiapan fisik sekaligus mental para praja dalam menjalankan tugas.

Penugasan ini menjadi lanjutan dari dua gelombang sebelumnya yang telah lebih dulu diterjunkan. Setiap gelombang memiliki fokus berbeda sesuai kebutuhan pemulihan di lapangan.

Pada tahap awal, praja difokuskan membersihkan area perkantoran pemerintahan yang lumpuh akibat bencana. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi pelayanan publik secepat mungkin.

Selanjutnya, pada gelombang kedua, fokus diperluas ke lingkungan masyarakat. Pembersihan dilakukan pada fasilitas umum dan sosial yang menjadi pusat aktivitas warga.

Memasuki gelombang ketiga, penanganan diarahkan pada titik-titik tersisa di kawasan permukiman. Total terdapat 42 lokasi yang menjadi target pembersihan selama masa penugasan.

Rinciannya meliputi rumah warga, drainase, jalan desa, hingga fasilitas umum. Target tersebut dirancang agar seluruh sisa dampak lumpur dapat ditangani secara bertahap dan menyeluruh.

"Kalau lebih cepat mereka akan digeser ke tempat lainnya yang memerlukan bantuan," katanya.

Selain tugas teknis, para praja juga diingatkan untuk menjaga etika dan nama baik institusi selama bertugas. Hal ini penting karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat terdampak.

Pengalaman ini dinilai sebagai bentuk pendidikan praktis yang tidak didapat di ruang kelas. Praja diharapkan mampu memahami persoalan riil sekaligus melatih kepekaan sosial mereka.

Kunjungan pimpinan Satgas PRR ke lokasi juga menjadi bagian dari pemantauan langsung progres pemulihan. Pemerintah memastikan proses rehabilitasi berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.

Sejumlah pejabat pusat dan daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan. Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Melalui penugasan ini, praja IPDN tidak hanya berkontribusi dalam pemulihan lingkungan. Mereka juga dipersiapkan menjadi aparatur yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.