Pemkab Bogor Coba Trayek Baru BTS, Bojonggede–Sentul Jadi Rute Perdana

Jumat, 03 Apr 2026, 23:00 WIB

BOGOR – Ngomongin skema Buy The Service (BTS) di angkutan massal, sebenarnya konsepnya cukup sederhana tapi dampaknya bisa besar. Intinya, pemerintah “membeli layanan” dari operator transportasi, bukan sekadar membiarkan semuanya berjalan murni mengikuti mekanisme pasar.

Dengan skema ini, operator tetap menjalankan bus atau angkutan, tapi pendapatannya tidak lagi sepenuhnya bergantung dari jumlah penumpang. Pemerintah memberikan pembayaran berdasarkan layanan yang diberikan—misalnya jarak tempuh atau jumlah armada yang beroperasi. Jadi, operator bisa lebih fokus menjaga kualitas layanan, bukan sekadar mengejar setoran.

Ket. Foto: Bus listirk trayek Bojonggede–Sentul yang belum lama diluncurkan Pemkab Bogor, Jabar. — Sumber: Istimewa.

Buat penumpang, efeknya terasa di kenyamanan dan kepastian. Jadwal jadi lebih teratur, armada lebih terawat, dan tarif biasanya lebih terjangkau karena sudah ada subsidi dari pemerintah. Harapannya, masyarakat jadi lebih tertarik beralih ke transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.

Di sisi lain, skema BTS juga membantu pemerintah mengatur sistem transportasi secara lebih terintegrasi. Rute bisa disesuaikan dengan kebutuhan, layanan bisa dijaga standarnya, dan konektivitas antarwilayah jadi lebih rapi.

Intinya, BTS ini semacam cara baru mengelola angkutan massal supaya lebih tertib, nyaman, dan berkelanjutan. Operator tetap jalan, masyarakat dapat layanan yang lebih baik, dan pemerintah punya kendali untuk memastikan semuanya berjalan sesuai tujuan.

Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menguji coba trayek Bojonggede–Sentul sebagai langkah awal mengkaji penerapan skema Buy The Service (BTS) pada angkutan massal.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Bayu Ramawanto mengatakan uji coba tersebut belum bersifat penambahan trayek permanen, melainkan untuk melihat respons masyarakat serta efektivitas layanan.

“Ini masih uji coba. Kalau hasilnya bagus, baru kita tentukan apakah akan menggunakan skema BTS atau tidak,” ujar Bayu di Cibinong, Jumat (3/4).

Ia menjelaskan trayek yang diuji coba berangkat dari Terminal Bojonggede melalui Sky Bridge, melintasi sejumlah titik di kawasan Cibinong, hingga menuju Sentul.

Rute tersebut antara lain melewati Tegar Beriman, kawasan Bambu Kuning, hingga akses menuju Sentul melalui jalur lingkar dan kawasan Mayor Oking.

Menurut Bayu, uji coba itu sekaligus untuk melihat kebutuhan layanan angkutan massal di koridor tersebut, termasuk potensi integrasi dengan simpul transportasi yang sudah ada.

Selain itu, hasil uji coba juga akan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan armada serta skema pembiayaan yang akan digunakan.

“Kalau menggunakan BTS, konsekuensinya ada subsidi dan penambahan armada. Itu yang sedang kita kaji,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan skema BTS memungkinkan pemerintah memberikan subsidi operasional kepada operator angkutan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

Namun demikian, Dishub juga mempertimbangkan agar pengembangan trayek baru tidak berbenturan dengan angkutan yang sudah ada, seperti angkutan kota (angkot) yang saat ini masih mendominasi di sejumlah ruas jalan.

“Makanya kita uji coba dulu, supaya tidak terlalu banyak bersinggungan dengan trayek angkot yang sudah berjalan,” ujar dia.

Bayu mengatakan uji coba tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat beralih ke angkutan massal yang lebih tertata dan terintegrasi.

“Semangatnya memang ke arah angkutan massal. Uji coba ini untuk melihat apakah sistemnya nanti bisa kita lanjutkan atau tidak,” kata Bayu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.