Benahi Pelabuhan Gerbang IKN, Penajam Butuh Dana Rp200 Miliar

Jumat, 03 Apr 2026, 22:10 WIB

PENAJAM PASER UTARA – Menata kawasan pelabuhan penyeberangan itu sebenarnya bukan cuma soal bikin tampilan jadi lebih rapi. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana membuat pengalaman orang yang datang dan pergi jadi lebih nyaman, tertib, dan efisien.

Bayangkan suasana pelabuhan saat ramai—kendaraan antre, penumpang hilir-mudik, informasi kadang simpang siur. Nah, lewat penataan yang lebih baik, semua itu coba diurai. Jalur kendaraan dipisah lebih jelas, area pejalan kaki dibuat lebih aman, dan alur naik-turun penumpang diatur supaya nggak saling tumpang tindih.

Ket. Foto: Pelabuhan penyebrangan kapal kayu dan kapal cepat di Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara, Kaltim ditata dan dibenahi sebagai salah satu pintu gerbang menuju IKN. — Sumber: ANTARA/ Nyaman Bagus Purwaniawan

Fasilitas juga jadi perhatian. Ruang tunggu yang lebih nyaman, papan informasi yang mudah dibaca, hingga sistem tiket yang makin digital bikin prosesnya terasa lebih simpel. Nggak perlu lagi bingung harus ke mana atau antre terlalu lama.

Di sisi lain, penataan ini juga berdampak ke lingkungan sekitar. Kawasan pelabuhan yang tertata rapi bisa mengurangi kemacetan, meningkatkan kebersihan, bahkan membuka peluang usaha bagi warga setempat—mulai dari kuliner sampai jasa transportasi.

Intinya, pelabuhan penyeberangan bukan sekadar titik transit, tapi juga “wajah pertama” sebuah daerah. Kalau tertata dengan baik, kesan pertama yang didapat pun jadi positif—dan itu penting banget buat mendukung mobilitas sekaligus pariwisata.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, membutuhkan dana sekitar Rp200 miliar untuk menata kawasan pelabuhan penyeberangan di Kelurahan Penajam yang menjadi salah satu pintu gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).

"Penataan pelabuhan butuh proses, saat ini sudah berjalan mulai tahap awal," ujar Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor ketika ditanya mengenai rencana revitalisasi pelabuhan penyeberangan kapal cepat (speedboat) dan kapal kayu (klotok) di Penajam, Jumat (3/4).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tahapan dimulai dari pendataan kepemilikan lahan dan kondisi sosial, sebelum masuk ke tahap berikutnya.

Menurut dia, penataan kawasan pelabuhan penyeberangan di Kecamatan Penajam dilakukan secara bertahap, dimulai dari pendataan hingga perencanaan teknis sebelum masuk ke tahap pembangunan fisik.

Pemkab, lanjut dia, berupaya mencari berbagai sumber pendanaan penataan kawasan pelabuhan tersebut, yang diperkirakan membutuhkan dana mencapai sekitar dari Rp200 miliar.

Kabupaten Penajam Paser Utara yang berhadapan langsung dengan Kota Balikpapan serta berdekatan dengan IKN, sebagai daerah penyangga ibu kota negara baru Indonesia, menurut dia, perlu menyesuaikan diri agar wajah kabupaten terlihat lebih baik.

Penataan pelabuhan penyeberangan mengarah pada pengembangan kawasan modern, sehingga pelabuhan dapat menjadi wajah daerah yang lebih representatif, lanjut Mudyat Noor.

Penataan pelabuhan yang dilakukan tersebut pembenahan fisik dan juga aspek sosial, kata dia, sehingga dilakukan pendataan terhadap kepemilikan lahan dan aktivitas masyarakat di kawasan sekitar.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, ujar dia, membentuk tim khusus untuk mempercepat penertiban dan penataan kawasan pelabuhan penyeberangan yang sudah 23 tahun tidak ada pembenahan.

Luas lahan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara untuk kawasan pelabuhan kapal kayu dan kapal cepat, menurut Mudyat, sekitar tiga hektare dan sedang dilakukan pendataan seluruh aset dan aktivitas di kawasan pelabuhan tersebut.

Ia mengatakan kondisi pelabuhan saat ini tampak sempit dan tidak tertata, bangunan pelabuhan terlihat usang, serta kawasan sekitar dipenuhi kendaraan parkir sembarangan yang mengganggu kelancaran aktivitas pelabuhan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.