Waspada Predator Incar Anak, IDAI Bongkar 6 Tahap Licik Child Grooming yang Jarang Disadari Orang Tua

Rabu, 01 Apr 2026, 03:00 WIB

JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman child grooming, sebuah modus manipulasi psikologis sistematis yang bertujuan mengeksploitasi anak secara seksual.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes menyampaikan tahapan aksi yang biasanya dilakukan oleh pelaku kejahatan child grooming.

Ket. Foto: Arsip Foto - Kampanye upaya pelindungan anak dari tindak kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, dan pelecehan seksual. — Sumber: ANTARA

Istilah child grooming digunakan untuk menyebut upaya manipulasi psikologis yang ditujukan untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap anak atau remaja.

Dalam seminar yang diikuti via daring dari Jakarta pada Selasa, Ariani mengatakan bahwa kejahatan child grooming bisa dilakukan secara daring melalui platform digital seperti media sosial, gim daring, atau aplikasi perpesanan.

"Pelaku menggunakan identitas palsu seringnya, atau menyamar dengan foto, identitas orang lain," katanya.

Selain itu, ada pelaku kejahatan child grooming yang beraksi langsung di lingkungan tempat anak berada. Menurut Ariani, pelaku child grooming di dunia nyata biasanya berasal dari lingkungan terdekat anak.

Pelaku kejahatan child grooming, ia mengatakan, juga ada yang memulai pendekatan secara daring dan kemudian mengajak korban untuk bertemu dan berinteraksi langsung.

Ariani menjelaskan, pelaku kejahatan child grooming biasanya melakukan aksi secara bertahap, memulainya dengan memilih anak yang dinilai bisa menjadi sasaran kejahatannya.

Menurut dia, pelaku child grooming biasanya mengincar anak yang kesepian, kurang percaya diri, atau berasal dari keluarga yang kurang harmonis.

"Pelaku menyasar yang lebih berisiko," katanya.

Meskipun demikian, ia mengatakan, anak dan remaja yang tampak baik-baik saja dan tidak memiliki faktor risiko juga bisa menjadi sasaran pelaku kejahatan child grooming.

Ariani mengemukakan bahwa remaja dalam fase aktualisasi diri biasanya memiliki keinginan untuk dipuji, dihargai, dan diistimewakan. Kondisi yang demikian membuat mereka rentan menjadi incaran pelaku child grooming.

"Jadi tidak menutup kemungkinan anak yang baik-baik saja itu bisa juga sebagai target," katanya.

Setelah memilih dan mendekati sasaran, Ariani menjelaskan, pelaku kejahatan child grooming akan berupaya membangun kepercayaan.

Pada tahapan ini, Ariani melanjutkan, pelaku tidak hanya berusaha mendekati anak yang menjadi sasarannya, tetapi juga berusaha meyakinkan orang tua supaya mengizinkan anak berinteraksi lebih jauh dengan dia.

"Pelaku mengambil hati yang awal dulu, memperkenalkan rahasia juga. Si anak mulai dikenalkan 'ini rahasia ya, kamu jangan bicara ke siapa-siapa'. Akhirnya si anak mau melakukan sesuatu yang tidak diizinkan oleh orang tua," katanya.

Setelah mendapatkan kepercayaan dari anak dan orang tua, pelaku kejahatan akan masuk ke tahapan yang disebut fulfilling a need, memenuhi kebutuhan.

Berdasarkan informasi yang sudah dikumpulkan tentang anak maupun orang tuanya, pelaku child grooming akan membanjiri sasaran dengan perhatian, kasih sayang, dan hadiah.

Pelaku setelah itu akan melakukan isolasi, berusaha menanamkan doktrin bahwa dialah satu-satunya yang memahami korban dengan menawarkan berbagai "bantuan."

Selanjutnya, pelaku child grooming akan memulai tahapan yang disebut sexualizing the relationship.

Menurut Ariani, pelaku awalnya akan melakukan sentuhan nonseksual yang bisa membuat anak menjadi kurang peka serta kemudian menormalisasi dan tidak menolak sentuhannya.

"Mungkin di awal korban merasa risih 'ini kenapa seperti ini’. Tetapi si pelaku membuat normalisasi 'ini loh tanda kalau orang dewasa sayang sama kamu seperti ini enggak usah takut'. Akhirnya lama-lama ke arah sentuhan yang lebih seksual, misalnya mau memegang area tubuh yang sensitif," ia menjelaskan.

Setelah korban berada dalam kendali pelaku, Ariani melanjutkan, manipulasi akan terus dilakukan untuk mempertahankan kendali.

Pada tahapan yang disebut maintaining control ini, dia mengatakan, pelaku child grooming akan menggunakan ancaman seperti menyebarkan foto atau video kepada orang tua dan teman jika korban menolak keinginannya.

Selain itu, pelaku kejahatan berupaya menumbuhkan rasa bersalah pada korban dan membuat korban merasa tidak bisa keluar dari lingkaran kejahatan yang melingkupinya.

"Tetap si anak dipaksa untuk merahasiakan. Jika si anak mulai tidak nyaman, mulail ah lagi diberikan perhatian, diberikan hadiah-hadiah. Jadi si anak merasa tidak bisa keluar dari lingkaran grooming ini," kata Ariani.

  • idai
  • kesehatan anak
  • child grooming
  • predator anak
  • parenting digital

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

Berita Terbaru

Dinkes Lebak Mencatat Pelaksanaan CKG Capai 47,52 Persen dari Jumlah Penduduk

Incar Dana Segar, Perusahaan Milik Kampus UGM Siap IPO di Pasar Modal

BPBD Sulteng: Sanksi Pidana Akan Diberikan Terkait Pembakaran Lahan dan Hutan

BMKG: Kabut Asap Selimuti Pekanbaru dengan Kualitas Udara Berbahaya

Chelsea Menang 3-2 atas Fulham pada Pertandingan Pertama Liga Inggris

Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumsel.

Karhutla Riau Meluas, TNI Kerahkan Satgas Khusus untuk Percepat Penanganan.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Dampingi Pangkodau II Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan.

Liga Italia: AS Roma Hancurkan Fiorentina 4-0, Donyell Malen Cetak Hattrick

BMKG Prakirakan Cuaca Sebagian Besar Daerah di Wilayah Indonesia Cerah hingga Berawan Tebal

Jangan Biarkan Karhutla Meluas! KSP Minta Penanganan Cepat dan Tegas

NBA Rilis Jadwal Musim 2026-27, Laga Ulangan Final dan Reuni Para Bintang Jadi Sorotan

BMKG Beberkan Cuaca Hari Ini, Mayoritas Wilayah Diprediksi Cerah hingga Berawan

Butter Baby Hadirkan Klepon Donut, Jajanan Tradisional Indonesia dalam Semangat Kemerdekaan.

Calon Penumpang Tak Sabara Tunggu Operasi LRT dari Kelapa Gading ke Manggarai Mulai Besok

Manchester United Bersaing dengan Aston Villa dan Benfica untuk Boyong Alejandro Balde

Utang Whoosh Rp116 Triliun Disorot, Pemerintah Diminta Uji Risiko APBN

Busyet… 150 Roda Dua Dikandangkan dari Balap Liar di Jambi

Pelatih Mengeklaim, Tim Panahan Masih Bisa Bersaing di Asian Games Jepang

Jaga Elang Jawa, PGE Raih Penghargaan dari Kementerian Kehutanan di HKAN 2026.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.