- Home
-
- Luar Negeri
-
- IMF: Guncangan Perang Iran...
IMF: Guncangan Perang Iran Memperburuk Prospek Perekonomian Global
Rabu, 01 Apr 2026, 01:00 WIBWASHINGTON DC â Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) pada Senin (30/3), memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah telah menimbulkan gangguan serius terhadap perekonomian negara-negara garis depan serta memperburuk prospek global yang sebelumnya mulai pulih dari krisis.
Dalam sebuah blog yang ditulis oleh para ekonom terkemuka IMF, disebutkan bahwa konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menciptakan guncangan global yang bersifat asimetris, di mana dampaknya berbeda-beda di setiap kawasan. Namun secara umum, kondisi tersebut menyebabkan pengetatan keuangan dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Dikutip dari The Strait Times, salah satu faktor utama yang memperburuk situasi adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), sekitar 25 hingga 30 persen pasokan minyak global serta 20 persen gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Penutupan dan kerusakan infrastruktur energi di kawasan itu disebut sebagai gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dan diperkirakan mencatat kenaikan bulanan tertinggi hingga akhir Maret. Lonjakan ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merambat ke berbagai sektor lain melalui kenaikan biaya produksi, transportasi, dan logistik.
IMF menilai dampak konflik ini akan sangat bergantung pada durasi perang, luas wilayah terdampak, serta tingkat kerusakan terhadap infrastruktur dan rantai pasok global. Oleh karena itu, IMF mendesak negara-negara untuk berhati-hati dalam merumuskan kebijakan dan langkah respons guna mengelola dampak krisis secara efektif.
Lembaga tersebut juga menegaskan kesiapan untuk memberikan dukungan kepada negara-negara anggotanya, baik melalui rekomendasi kebijakan maupun bantuan keuangan, serta terus berkoordinasi dengan komunitas internasional guna menjaga stabilitas ekonomi global.
Peringatan IMF ini sejalan dengan sikap negara-negara anggota G7 yang menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil âsemua langkah yang diperlukanâ guna menjaga stabilitas pasar energi dan meminimalkan dampak ekonomi yang lebih luas dari gejolak yang terjadi.
Selain itu, sebanyak 32 negara anggota IEA telah sepakat untuk melepas cadangan strategis minyak hingga 400 juta barel pada awal Maret sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak dunia.
Kerawanan Pangan
Namun, di tengah berbagai upaya tersebut, IMF menyoroti risiko besar yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah. Kenaikan harga energi, pangan, dan pupuk berpotensi memicu kerawanan pangan yang serius, terutama ketika dukungan internasional dari negara maju cenderung menurun.
"Meskipun perang dapat membentuk ekonomi global dengan cara yang berbeda, semua jalan mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat," tulis para ekonom IMF.
Mereka juga mencatat bahwa negara-negara importir energi besar di Asia dan Eropa akan menanggung beban paling berat akibat lonjakan harga bahan bakar. Sementara itu, negara-negara di Afrika dan sebagian Asia menghadapi kesulitan dalam memperoleh pasokan energi, bahkan ketika harga sudah melonjak tinggi.
Dalam jangka panjang, konflik yang berkepanjangan berpotensi membuat harga energi tetap tinggi, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut juga dapat memperkuat ekspektasi inflasi jangka panjang, yang pada akhirnya memicu kenaikan upah dan harga secara berkelanjutan.
IMF menyatakan akan merilis analisis lebih komprehensif dalam laporan World Economic Outlook yang dijadwalkan terbit pada 14 April dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington.
Jika tren kenaikan harga energi dan pangan terus berlanjut, IMF memperingatkan bahwa dunia berisiko menghadapi kombinasi tekanan inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemahâsebuah kondisi yang dapat memperumit upaya pemulihan ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kerja Bakti Massal DKI, Gubernur Pramono: Tak Mau Masuk Gorong-gorong yang Bekerja Pikiran dan Otaknya
-
La Liga Spanyol: Vinicius Cetak Dua Gol, Real Madrid Gusur Barcelona di Puncak Klasemen
-
Kratom Indonesia Tembus Dunia, Ekspor Rp17,45 Miliar Meluncur ke Amerika dan Eropa
-
Bansos Dicabut, 20 Warga Cilegon Terdata Bermain Judi Online
-
Mentan Amran Copot 192 Pejabat dan 2.300 Distributor Pupuk karena Ganggu Pertanian serta Upaya Swasembada Pangan
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
-
Liga Inggris: West Ham United vs Manchester United, Duel Dua Tim yang Sama-Sama Bangkit di London Stadium
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.