Gueye Siap ‘Kembalikan’ Medali Piala Afrika Demi Redakan Ketegangan Senegal–Maroko
Senin, 23 Mar 2026, 07:00 WIBPARIS, PRANCIS â Gelandang Idrissa Gueye menyatakan kesiapannya untuk âmengembalikan medaliâ Africa Cup of Nations (AFCON-Piala Afrika) kepada Maroko, jika langkah tersebut dapat meredakan ketegangan antara kedua negara.
Pernyataan itu muncul di tengah polemik besar yang menyelimuti final AFCON edisi Januari lalu. Saat itu, Senegal mengalahkan Moroko dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu di Rabat. Namun, pekan lalu Confederation of African Football (CAF) menjatuhkan sanksi kepada Senegal akibat aksi walk-off selama 15 menit dalam pertandingan tersebut. Hasil laga pun dianulir dan kemenangan 3-0 diberikan kepada tuan rumah Maroko, sekaligus mengalihkan gelar juara.
âSaya pribadi siap mengumpulkan medali dan mungkin memberikannya kembali kepada Maroko jika itu bisa meredakan ketegangan antara kedua negara,â ujar Gueye kepada Canal+ usai membawa Everton menang 3-0 atas Chelsea dalam lanjutan Liga Inggris, Minggu (22/3) dini hari WIB.
Meski demikian, pemain berusia 34 tahun itu menegaskan bahwa Senegal tetap merasa sebagai juara yang sah. âIni konyol⦠pertandingan sepak bola dimenangkan di lapangan, dan itulah yang kami lakukan di Maroko,â tegasnya. âKami melakukan apa yang harus dilakukan di lapangan dan kami memenangi pertandingan itu. Kami pantas menjadi juara Afrika. Bagi kami, kami adalah juara Afrika. Gelar dimenangkan di lapangan, bukan di kantor.â
Dalam laga final yang berlangsung pada 18 Januari tersebut, Gueye yang menjadi kapten menggantikan Kalidou Koulibaly yang absen, juga menyoroti keputusan federasi sepak bola negaranya yang mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS).
âJika itu keputusan saya, saya akan meminta federasi untuk tidak mengajukan banding,â ujar mantan pemain Paris Saint-Germain tersebut.
Final yang seharusnya menjadi puncak sepak bola Afrika itu berubah menjadi kacau pada penghujung waktu normal. Para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes setelah Maroko mendapat penalti kontroversial di masa injury time babak kedua.
Pertandingan sempat terhenti selama 15 menit di tengah situasi tegang, bahkan suporter Senegal dilaporkan melempar benda dan mencoba memasuki lapangan. Setelah laga dilanjutkan, Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti, sebelum Senegal akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu.
Kontroversi ini kini menjadi salah satu episode paling panas dalam sejarah AFCON, dengan implikasi yang melampaui lapangan hijau hingga ke ranah politik dan hubungan antarnegara.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Menteri PPPA Peringati Hari Ibu Lewat Bakti Sosial di Muara Angke
-
Piala Afrika 2025: Mali secara Dramatis Lolos ke Perempat Final Ikuti Jejak Senegal
-
Tes Kemampuan Akademik Siswa SD Dijadwalkan April 2026
-
Bek Senior Timnas Inggris Kieran Trippier Putuskan Tinggalkan Newcastle di Akhir Musim
-
Pertamina Internasional EP Lepas Pengapalan Perdana 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair ke Indonesia
-
Piala Afrika: Mesir Singkirkan Juara Bertahan Pantai Gading, Nigeria Tantang Maroko di Semifinal
-
Menteri PPPA Dorong Kaum Perempuan Berpartisipasi Awasi Jalannya Pemilu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.