- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bertemu Trump: Takaichi Se...
Bertemu Trump: Takaichi Sebut AS-Jepang Sepakat Bangun Reaktor Nuklir
Jumat, 20 Mar 2026, 15:34 WIBWASHINGTON DC - Jepang dan Amerika Serikat, Kamis, mengumumkan rencana untuk membangun reaktor nuklir modular kecil sebagai salah satu dari tiga proyek bisnis baru senilai total 73 miliar dolar AS (Rp1.236 triliun).
Rencana pembangunan tersebut merupakan salah satu proyek bisnis di bawah komitmen Tokyo sebesar 550 miliar dolar AS (Rp9.316 triliun) yang dibuat tahun lalu sebagai imbalan atas pengurangan tarif.
Kelompok proyek bersama kedua, yang diumumkan setelah pertemuan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dengan Presiden AS Donald Trump di Washington, juga mencakup pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam di Pennsylvania dan Texas.
Meski Mahkamah Agung AS membatalkan tarif besar-besaran pemerintahan Trump bulan lalu, Jepang tetap berpegang pada ketentuan kesepakatan perdagangan yang dicapai kedua negara pada Juli.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Jepang telah berkomitmen 550 miliar dolar AS untuk proyek-proyek berbasis di AS di industri strategis melalui investasi, pinjaman, dan jaminan pinjaman hingga akhir masa jabatan kedua Trump, terlepas dari ketidakpastian yang timbul dari pendekatan agresif dan transaksional pemerintahannya terhadap hubungan internasional.
Pada pertengahan Februari, Jepang dan AS mengumumkan tiga proyek pertama, termasuk pembangunan fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar gas di Ohio, yang terbesar di jenisnya dalam sejarah AS, untuk memasok daya bagi pusat data kecerdasan buatan.
Pada Kamis, kedua negara mengatakan pembangunan reaktor modular kecil oleh GW Vernova Inc. dan Hitachi Ltd. di Tennessee dan Alabama, yang diperkirakan menelan biaya hingga 40 miliar dolar AS (Rp677,5 triliun), akan menjadi "terobosan" di AS.
Mereka mengatakan itu akan berfungsi sebagai "sumber daya listrik stabil generasi berikutnya yang luar biasa," yang mengarah pada harga listrik yang lebih stabil bagi warga Amerika dan peningkatan kepemimpinan mereka dalam persaingan teknologi global.
Secara terpisah, Jepang dan AS sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang mineral kritis. Dengan latar belakang dominasi Tiongkok dalam logam tanah jarang, yang sangat penting untuk berbagai kegiatan ekonomi dan keamanan nasional, mereka telah menetapkan rencana aksi.
Di antara banyak tujuan lainnya, kedua sekutu itu mengatakan mereka akan menjajaki kerangka perdagangan plurilateral terkait mineral kritis dengan harga dasar yang disesuaikan dengan perbatasan atau langkah-langkah lain untuk membantu memastikan rantai pasokan tidak rentan terhadap gangguan, termasuk "pemaksaan ekonomi."
Mereka juga menandatangani nota kesepahaman untuk memajukan upaya bersama dalam mengembangkan sumber daya mineral laut dalam.
Dengan membentuk kelompok kerja, area kerja sama yang dipertimbangkan termasuk berbagi informasi tentang proyek Jepang di dekat Pulau Minamitori, di mana baru-baru ini berhasil mengumpulkan lumpur yang mengandung unsur tanah jarang dari dasar laut pada kedalaman sekitar 5.600 meter. Ant/Kyodo
- Reaktor Nuklir
- japanese yen
- sanae takaichi
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Disdukcapil Rejang Lebong Membuka Layanan pada Sabtu dan Minggu
-
John Herdman Puji Kualitas Marselino Ferdinan di Pemusatan Latihan Timnas Indonesia
-
Jacob Roulstone Gantikan Mario Aji di Moto2 Hungaria
-
Danantara Ungkap Rencana Likuidasi 14 Anak Usaha PT Telkom Indonesia Tbk TLKM
-
Persepsi Investor Bergantung Kepastian dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan BI
-
Asik, Sambut Libur Sekolah PELNI Berikan Diskon Tarif Tiket Kapal Hingga 30 Persen
-
Anggota TNI AU Hadapi Aksi Teror Bom di Pesawat dalam Latihan Kesiagaan I Kodau II "Sikatan Daya" 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.