Muhammadiyah Semarang Siapkan Lokasi-lokasi Shalat Idul Fitri Jumat

Selasa, 17 Mar 2026, 06:12 WIB

SEMARANG – Sementara MUI masih akan menunggu hasil sidang isbat untuk menentukan Idul Fitri, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang telah menyiapkan 50 lokasi Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah yang akan dilaksanakan pada hari Jumat (20/3).

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang Fachrur Rozi di Semarang, Senin, mengatakan puluhan tempat Shalat Id disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan umat Islam di Kota Semarang dalam melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Ia menyebut penentuan lokasi Shalat Id mencakup area strategis, seperti lapangan, halaman sekolah, hingga area parkir perkantoran.

Ia menambahkan koordinasi dengan aparat penegak hukum juga dilakukan untuk memastikan kesiapan secara teknis.  "Diharapkan kelancaran dan kenyamanan warga tetap terjaga baik," katanya.

Menurut dia, kemungkinan perbedaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah harus disikapi sebagai bagian dari toleransi. Ia menjelaskan Muhammadiyah berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang disusun secara presisi.

Ia mengatakan jika memang terjadi perbedaan perayaan Lebaran maka diharapkan seluruh warga Muhammadiyah dan umat Muslim dapat bersikap dewasa dengan tetap menghargai perbedaan dan menjaga ukhuwah.  "Warga Muhammadiyah untuk tidak berlebihan dalam merayakannya dan tetap menghormati saudaranya yang masih berpuasa," katanya.

Tunggu Sidang Isbat

Ket. Foto: menjelang idul fitri — Sumber: ist

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam menunggu hasil keputusan Sidang Isbat yang digelar oleh pemerintah pada Kamis 19 Maret 2026, seiring dengan adanya potensi perbedaan antara ketetapan pemerintah dan organisasi keagamaan.

“Penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan Sidang Isbat pemerintah,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis di Jakarta, Senin. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat di Kantor Kemenag Thamrin, Jakarta Pusat.

Kiai Cholil menjelaskan posisi hilal secara umum di Indonesia berdasarkan perhitungan ilmu falak, pada Kamis 19 Maret 2026 atau 29 Ramadhan terjadi ijtima' (pertemuan matahari dan bulan) pada pukul 08.25 WIB.

Setelah matahari terbenam pada hari itu, kata dia, hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih rendah. Di banyak wilayah Indonesia tinggi hilal hanya sekitar 1-2 derajat dan bertahan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam, sehingga secara umum sangat sulit untuk terlihat dengan mata.

“Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh, dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," kata Kiai Cholil. Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan hal tersebut menandakan bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari juga sudah mulai terbuka.

“Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis,” kata dia. Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan saat ini di Indonesia menggunakan imkanur rukyat MABIMS, yakni standar penentuan awal bulan Hijriyah baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam kriteria imkanur rukyah MABIMS, minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° agar secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat. Sementara di Aceh, hasil hisab menunjukkan tinggi 2,51° dan elongasi 6,09°, sehingga masih sedikit di bawah kriteria tersebut. “Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," kata dia.

Dengan demikian secara hisab, Kiai Cholil mengatakan hilal sudah berada di atas ufuk, namun hampir di seluruh Indonesia masih rendah. Bahkan di Aceh yang paling tinggi pun masih sedikit di bawah batas kriteria imkanur rukyah. Menyikapi potensi perbedaan ini, umat Islam juga diajak untuk saling menghormati.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.