Ancaman Mundurnya Iran dari Piala Dunia Bikin FIFA Siapkan Skenario Darur

Jumat, 13 Mar 2026, 07:30 WIB

ZURICH — Ancaman mundurnya tim nasional Iran dari Piala Dunia 2026 membuat FIFA mulai mempertimbangkan berbagai opsi darurat menjelang turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada pada awal Juni mendatang.

Pernyataan Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, Kamis (12/3) menjadi sinyal paling kuat sejauh ini bahwa Iran berpotensi tidak ambil bagian dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut. Jika benar terjadi, situasi itu bisa menjadi penarikan diri pertama dari Piala Dunia di era modern.

Ket. Foto: Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali. — Sumber: AFP

Donyamali menyatakan Iran tidak mungkin berpartisipasi dalam turnamen yang salah satu tuan rumahnya adalah Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul setelah serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel pada tanggak 28 Februari menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah yang hingga kini belum mereda.

Meski ketegangan geopolitik meningkat, FIFA sebelumnya masih berharap tim berjuluk Team Melli tetap tampil di turnamen tersebut. Bahkan, beberapa jam sebelum pernyataan Donyamali muncul, Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah memberikan jaminan bahwa Iran “dipersilakan untuk berkompetisi” di turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat.

Iran sendiri dijadwalkan memainkan pertandingan pertama fase grup melawan tim nasional Selandia Barudi Los Angeles pada tanggal 15 Juni.

Jika Iran benar-benar mundur, keputusan tersebut akan diatur oleh Pasal 6 regulasi Piala Dunia. Aturan itu tidak hanya memuat potensi sanksi finansial bagi federasi yang menarik diri, tetapi juga memberi FIFA kewenangan penuh untuk menentukan bagaimana slot kosong tersebut diisi.

“Tidak ada preseden modern untuk situasi seperti ini dan berdasarkan regulasi turnamen FIFA, mereka memiliki kebebasan penuh untuk menentukan langkah apa pun jika sebuah tim mundur,” kata mantan Direktur Regulasi Sepak Bola FIFA, James Kitching, kepada Reuters.

Menurut Kitching, pengganti Iran tidak harus berasal dari konfederasi yang sama. Bahkan secara teori, FIFA juga memiliki opsi untuk tidak menggantinya sama sekali, meski secara politik hal itu bisa menimbulkan kontroversi.

Regulasi juga memungkinkan FIFA menjatuhkan sanksi disipliner kepada federasi yang timnya mundur. Namun Kitching menilai kecil kemungkinan hukuman dijatuhkan jika penarikan diri terjadi karena konflik bersenjata.

Iran sebenarnya memastikan tiket ke Piala Dunia untuk keempat kalinya secara beruntun setelah menjadi juara Grup A pada putaran ketiga kualifikasi Asia tahun lalu.

Jika FIFA memutuskan mencari pengganti, kandidat dari Asian Football Confederation (AFC) kemungkinan besar akan menjadi pilihan utama, mengingat Iran lolos melalui jalur Asia.

Beberapa nama mulai disebut, termasuk tim nasional Irak yang dijadwalkan mengikuti playoff antarkonfederasi di Meksiko bulan ini untuk memperebutkan tiket ke putaran final.

Namun situasi konflik di Timur Tengah juga berdampak pada persiapan Irak. Pembekuan perjalanan di kawasan tersebut menyulitkan tim untuk berangkat ke Meksiko menghadapi pemenang duel antara timnas Bolivia dan timnas Suriname pada 31 Maret.

Pelatih Irak, Graham Arnold, bahkan mengusulkan agar FIFA menunda pertandingan playoff tersebut hingga mendekati turnamen utama.

“Biarkan Bolivia bermain melawan Suriname bulan ini. Lalu seminggu sebelum Piala Dunia kami menghadapi pemenangnya di Amerika Serikat,” kata Arnold kepada Australian Associated Press.

Menurutnya, skenario tersebut tidak hanya memberi keadilan bagi Irak tetapi juga memberi waktu bagi FIFA untuk menunggu kejelasan sikap Iran.

Dalam skenario lain, timnas United Arab Emirates juga disebut sebagai kandidat potensial setelah sebelumnya tersingkir oleh Irak pada fase eliminasi kualifikasi.

Sejauh ini FIFA belum memberikan komentar resmi atas pernyataan pemerintah Iran. Sementara itu, sumber di Konfederasi Sepak Bola Asia menyatakan pihaknya terus memantau situasi dan berkomunikasi dengan FIFA.

“Masalah terkait Piala Dunia berada di bawah kewenangan FIFA. Pada tahap ini terlalu dini untuk berspekulasi lebih jauh,” kata sumber tersebut.

Dengan babak playoff terakhir zona Eropa baru akan selesai pada akhir Maret, para pengamat memperkirakan FIFA baru akan mengambil keputusan pada awal April.

Kitching menilai badan sepak bola dunia itu kemungkinan akan memilih pendekatan pragmatis.

“Saya memperkirakan keputusan tidak akan dibuat sampai seluruh playoff selesai,” katanya. “FIFA kemungkinan akan mengambil langkah yang realistis dan konsultatif sebelum menentukan keputusan akhir.”

  • Piala Dunia 2026
  • Imbas Konflik Timur Tengah

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.