Konflik Timur Tengah Menguji Hubungan Trump–Infantino di Tengah Persiapan Piala Dunia
Kamis, 12 Mar 2026, 06:00 WIBPARIS â Konflik perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut menjadi ujian serius bagi hubungan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kurang dari tiga bulan menjelang Piala Dunia. Meski demikian, para analis menilai kepentingan ekonomi yang besar kemungkinan membuat aliansi keduanya tetap bertahan.
Infantino dan Trump telah lama menampilkan hubungan dekat mereka secara terbuka sejak keduanya pertama kali terpilih pada 2016. Kedekatan itu semakin menguat setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, tepat ketika persiapan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memasuki tahap krusial.
Presiden FIFA tersebut bahkan diundang menghadiri upacara pelantikan Trump dan beberapa kali terlihat mengunjungi Gedung Putih. Ia juga mengikuti kunjungan resmi pemerintahan AS ke Qatar dan Saudi Arabia, memperlihatkan kedekatan yang sering disebut sebagai âbromanceâ politik antara keduanya.
Dalam salah satu momen simbolis, ketika peluang Trump meraih Nobel Peace Prize dinilai kecil, FIFA bahkan menciptakan penghargaan sendiri bernama Peace Prize. Infantino menyerahkan penghargaan tersebut kepada Trump menjelang undian Piala Dunia di Washington pada Desember lalu.
Raphael Le Magoariec, ilmuwan politik asal Prancis yang meneliti hubungan olahraga dan geopolitik di kawasan Teluk, menilai langkah Infantino sangat dipengaruhi kepentingan ekonomi.
âYang terpenting bagi Infantino adalah geopolitiknya sendiri, yang dipandu oleh keuntungan ekonomi. Hal-hal yang bertentangan dengan hak asasi manusia atau hukum internasional tidak mengganggu strateginya,â kata Le Magoariec.
Namun ia menilai narasi yang selama ini dibangun Infantino dalam hubungannya dengan Trump,yang sering dianggap sebagai upaya menyenangkan ego sang presiden, kini berpotensi bertabrakan dengan dinamika geopolitik terbaru.
Seorang sumber yang dekat dengan FIFA, yang enggan disebutkan namanya, bahkan menyebut sikap pragmatis Infantino sebagai sesuatu yang ânyaris konyolâ.
âNamun saya rasa itu juga rasional. Dia ingin Piala Dunia berjalan sukses, dan dia percaya membutuhkan Trump untuk mewujudkannya,â ujar sumber tersebut.
Turnamen tahun ini, yang diperluas dari 32 menjadi 48 tim, diperkirakan menjadi Piala Dunia paling menguntungkan sepanjang sejarah. FIFA memproyeksikan pendapatan mencapai sekitar 11 miliar dolar AS (sekitar 178 triliun rupiah) untuk siklus 2023â2026, yang sebagian besar akan dibagikan kepada federasi anggotanya.
âYang diinginkan para pemilih FIFA di masa depan hanyalah uang. Jika Piala Dunia menjadi sukses secara komersial, mereka akan mendapatkannya,â kata sumber yang sama.
Dengan satu tahun tersisa dalam masa jabatannya, Infantino dinilai tidak mengambil risiko besar dengan tetap berada di pihak Trump.
Namun eskalasi konflik Iran yang melibatkan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi membuat Infantino harus berjalan di atas garis tipis.
Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, sementara Qatar sebelumnya sukses menyelenggarakan Piala Dunia 2022.
âPerang yang dijalankan Donald Trump sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan negara-negara Arab di kawasan tersebut yang tengah menjalankan kebijakan pengaruh global. Mereka menghadapi situasi yang sangat sulit karena konflik ini mengancam proyek yang telah mereka bangun selama dua dekade,â kata Le Magoariec.
Meski begitu, para pakar menilai konflik di Timur Tengah kecil kemungkinan akan mengubah peta aliansi olahraga internasional, terutama karena Iran tidak memiliki pengaruh besar dalam panggung olahraga global.
Simon Chadwick, pakar geopolitik olahraga dari EM Lyon Business School, menilai jika Iran mundur dari kompetisi internasional sekalipun dampaknya tidak akan signifikan.
âDari sisi komersial, ekonomi, maupun politik, pengaruhnya relatif kecil,â ujarnya.
Sebaliknya, menurut Chadwick, menghilangkan satu lawan justru bisa memberi ruang bagi pemerintahan Trump untuk menampilkan citra dan nilai yang ingin mereka proyeksikan.
âBagi FIFA, menjaga hubungan dengan Donald Trump mungkin dianggap lebih penting, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan Iran,â ujar Le Magoariec.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Ceko vs Meksiko: Tuan Rumah Bidik Sapu Bersih, Ceko Berjuang Hidupkan Peluang Lolos
-
Piala Dunia, Hujan Deras Membuat Laga Seru Prancis dan Irak Harus Ditunda
-
Turki vs Paraguay: Laga Hidup Mati Demi Menjaga Asa di Piala Dunia 2026
-
Hasil Piala Dunia: Mesir Petik Kemenangan Perdana, Tundukkan Selandia Baru 3-1
-
Aturan Tak Tertulis Berpakaian Anggota Kabinet, Ternyata Trump Tidak Menyukai Sepatu Coklat
-
Kolombia vs Kongo DR: Los Cafeteros Bidik Tiket 32 Besar, Leopards Incar Sejarah Baru
-
Lamine Yamal Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026, Lampaui Rekor Lionel Messi Usai Bobol Arab Saudi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.