Klub-klub Sepak Bola Eropa Genjot Pendapatan Lewat Pembangunan Stadion Baru

Kamis, 12 Mar 2026, 06:15 WIB

LIVERPOOL, INGGRIS – Di kawasan bekas dermaga yang dulu terbengkalai di kota pelabuhan Liverpool, para pendukung Everton kini memadati restoran dan bar di sekitar stadion baru klub menjelang pertandingan Liga Inggris.

Fenomena ini mencerminkan tren yang sedang berkembang di sepak bola Eropa. Ketika pendapatan dari hak siar televisi domestik, yang selama ini menjadi sumber utama pemasukan, mulai stagnan bahkan menurun di beberapa negara, klub-klub besar memilih merombak stadion lama atau membangun arena baru yang lebih besar.

Ket. Foto: Stadion kandang Everton, Hill Dickinson Stadium — Sumber: AFP

Langkah tersebut terbukti mampu mendongkrak pendapatan melalui fasilitas hospitality yang lebih baik, kontrak sponsor tambahan, serta peningkatan penjualan tiket, termasuk kursi premium. Hal itu terungkap dalam laporan terbaru dari UEFA.

Bagi klub-klub elite seperti Manchester United, Barcelona, Real Madrid, Paris Saint-Germain, serta dua raksasa Milan, AC Milan dan Inter Milan, proyek stadion bernilai miliaran euro ini dianggap penting agar tetap berada di jajaran klub terkaya dunia.

Sementara bagi klub lain seperti Leeds United dan Getafe, ekspansi stadion menjadi langkah vital untuk tetap kompetitif di liga besar yang dipenuhi biaya transfer pemain dan gaji yang sangat tinggi.

Everton resmi pindah pada bulan Agustus lalu ke stadion baru mereka, Hill Dickinson Stadium, yang dibangun dengan biaya sekitar 800 juta pound sterling (sekitar 16 triliun rupiah). Kepindahan ini mengakhiri 133 tahun kebersamaan klub dengan stadion lama, Goodison Park.

“Ini peningkatan yang sangat besar,” kata Dave Brown (71), pendukung Everton, kepada AFP saat bersiap menyaksikan laga melawan Burnley.

Stadion baru yang berkapasitas hampir 53.000 penonton itu jauh lebih besar dibanding Goodison Park yang hanya menampung kurang dari 40.000 penonton.

“Sayangnya Goodison sudah mulai usang. Ada beberapa tempat di mana Anda tidak bisa melihat seluruh lapangan,” ujarnya.

Beberapa jam sebelum pertandingan malam dimulai, para suporter berbaju biru khas Everton sudah memadati kawasan stadion yang menghadap River Mersey, menikmati makanan, minuman, dan hiburan musik di area luar seperti Budweiser Plaza.

Direktur real estat dan regenerasi Everton, Colin Chong, mengatakan stadion baru ini dirancang sebagai pusat kegiatan sepanjang tahun.

“Kami memiliki peluang menjadikannya venue yang aktif 365 hari dalam setahun,” ujar Chong.

Selain pertandingan sepak bola, stadion tersebut juga akan digunakan untuk acara olahraga internasional, konferensi, hingga konser. Proyek ini juga memperhatikan aspek lingkungan dan kualitas akustik.

Menurut Chong, keputusan pindah stadion adalah langkah penting untuk masa depan klub.

“Jika kami tidak pindah, kami tidak akan bisa menjalankan rencana pertumbuhan yang dibutuhkan klub untuk kembali bersaing di level teratas,” katanya.

Everton juga telah mengamankan kesepakatan hak penamaan stadion senilai sekitar 10 juta pound per tahun dengan firma hukum lokal Hill Dickinson. Kehadiran stadion baru tersebut turut mendorong pembangunan kawasan sekitar, termasuk apartemen baru, pusat ritel, dan fasilitas hiburan.

Manuel Gutierrez, wakil presiden pembiayaan aset Eropa di Morningstar DBRS, mengatakan pembangunan stadion kini semakin penting karena situasi hak siar televisi yang tidak lagi berkembang pesat.

Sebagai contoh, Premier League memang berhasil mengamankan kontrak domestik baru senilai 6,7 miliar pound untuk periode hingga musim 2028-2029. Namun peningkatan nilai kontrak tersebut jauh lebih kecil dibanding kesepakatan sebelumnya.

Faktor seperti berkurangnya persaingan antarpenyiar dan maraknya pembajakan digital disebut menjadi penyebabnya.

Di Eropa, kondisi hak siar juga tidak merata. La Liga berhasil memperoleh kenaikan yang cukup baik untuk kontrak berikutnya, sementara Ligue 1 justru mengalami penurunan tajam pendapatan siaran, yang sebagian dikaitkan dengan dominasi Paris Saint-Germain F.C. di kompetisi domestik.

Selain faktor ekonomi, pembangunan stadion juga dipengaruhi perubahan kebiasaan suporter.

“Para penggemar kini semakin tertarik pada pengalaman stadion. Mereka ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sana,” kata Gutierrez.

Contoh nyata terlihat pada Tottenham Hotspur, yang sejak pindah ke stadion baru pada 2019 mencatat lonjakan pendapatan tiket lebih dari 300 persen dalam 11 tahun hingga 2025, didorong oleh paket premium, VIP, dan hospitality.

Tren renovasi besar-besaran juga terlihat di berbagai klub top Eropa. Rival sekota Everton, Liverpool , baru saja merampungkan perluasan stadion Anfield yang kini berkapasitas lebih dari 61.000 penonton.

Sementara itu Manchester United tengah merancang stadion baru berkapasitas 100.000 penonton dengan nilai proyek sekitar 2 miliar pound.

Di Spanyol, Real Madrid dan Barcelona sama-sama melakukan renovasi besar terhadap stadion Santiago Bernabéu Stadium dan Camp Nou dengan total investasi sekitar 1,5 miliar euro.

Di Italia, AC Milan dan Inter Milan juga tengah merencanakan pembangunan ulang San Siro, sementara Paris Saint-Germain menyiapkan stadion baru yang berpotensi melampaui kapasitas Stade de France yang mencapai 80.000 kursi.

Meski fasilitas semakin modern, bagi para suporter pengalaman menonton tetap bergantung pada satu hal utama: hasil pertandingan.

Untungnya bagi pendukung Everton, kemenangan 2-0 atas Burnley menjadi kemenangan pertama klub di stadion baru mereka tahun ini.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.