• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dari Tak Berguna Menuju Be...

Dari Tak Berguna Menuju Benteng Pertahanan Medis

Rabu, 11 Mar 2026, 07:19 WIB

SELAMA lebih dari satu abad, usus buntu atau apendiks kerap dipandang sebelah mata dalam dunia medis. Berangkat dari catatan Charles Darwin dalam The Descent of Man, organ kecil ini dicap sebagai peninggalan sisa-sisa (vestigial) yang tidak lagi berguna bagi manusia modern. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap kisah yang jauh lebih heroik: usus buntu bukanlah kesalahan alam, melainkan sebuah inovasi evolusi yang terus dipertahankan.

Darwin awalnya menduga usus buntu adalah sisa dari sekum (bagian awal usus besar) yang menyusut karena nenek moyang manusia beralih dari pola makan pemakan tumbuhan yang masif ke pola makan yang lebih mudah dicerna. Namun, para biolog modern menemukan sebuah anomali yang mematahkan tesis tersebut.

Ket. Foto: Seorang pria duduk di tempat tidur karena sakit perut dan menekan perutnya dengan kedua tangannya. — Sumber: foto Freepik

Berdasarkan studi perbandingan terhadap 361 spesies mamalia, usus buntu ditemukan telah berevolusi secara independen setidaknya 32 kali di berbagai garis keturunan mulai dari primata, marsupial seperti koala, hingga hewan pengerat.

Fenomena tersebut dikenal sebagai evolusi konvergen. Dalam hukum alam, jika sebuah organ terus muncul berulang kali di berbagai spesies yang berbeda, hal itu menandakan bahwa organ tersebut memberikan keuntungan adaptif yang signifikan bagi kelangsungan hidup.

‘Safe House’ bagi Mikrobioma

Pertanyaan besarnya kemudian muncul: apa gunanya organ yang seringkali hanya manusia ingat saat ia meradang? Jawabannya terletak pada ekosistem bakteri di dalam perut.

Para peneliti, termasuk Profesor Phil Starks dari Universitas Tufts, mengusulkan teori “Safe House” atau tempat perlindungan. Usus buntu berfungsi sebagai bunker rahasia bagi bakteri baik. Di dalamnya, terdapat lapisan biofilm yang menjaga koloni mikrobioma tetap aman.

Ketika tubuh terserang infeksi saluran pencernaan yang parah seperti diare akut yang menyapu bersih isi usus besar bakteri baik yang bersembunyi di usus buntu tetap selamat. Setelah badai infeksi berlalu, mereka akan keluar dari bunker tersebut untuk melakukan repopulasi atau mengisi kembali usus dengan bakteri bermanfaat. Ini adalah mekanisme pemulihan alami yang krusial untuk mencegah malnutrisi dan peradangan berkepanjangan.

Meski memiliki masa lalu yang cemerlang, nasib usus buntu di abad ke-21 tampak ironis. Di lingkungan leluhur yang minim sanitasi, usus buntu adalah pahlawan yang meningkatkan harapan hidup. Namun, di dunia modern dengan air bersih, antibiotik, dan standar higienitas yang tinggi, tekanan evolusi untuk mempertahankan fungsi “bunker” ini berkurang drastis.

Kini, risiko medis dari usus buntu seperti apendisitis atau radang akut seringkali dianggap lebih besar daripada manfaatnya. Inilah yang disebut dalam kedokteran evolusioner sebagai ketidaksesuaian (mismatch) antara adaptasi masa lalu dengan lingkungan saat ini. hay

  • Usus Buntu

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

AS Beri Sanksi Ekonomi ke Iran dengan Targetkan Lima Sektor

Kasus Yogi ‘Starlink’ di Mentawai, Menkomdigi Pilih Jalur Pembinaan Ketimbang Pidana

Disperpusip Lebak Sebut Perpustakaan Keliling Tumbuhkan Minat Baca Warga

Antisipasi Banjir Susulan, BPBD Parimo Percepat Normalisasi Sungai

Produk UMKM Banyumas Raya Dilirik Buyer Afrika hingga AS, Peluang Ekspor Makin Terbuka

PLN Corner Hadir di Festival Musik Lapanada 2026, Kenalkan Beragam Layanan PLN.

Dorong Produktivitas Warga, PLN Mulai Pembangunan Jaringan Listrik Desa di Pedalaman Rote Ndao

Maulid Nabi, Brimob Polda Sumut Bagikan Bantuan Pangan untuk Dhuafa dan Anak Yatim di Medan Tembung

Kinerja Keuangan BTN Juli 2026: Laba Bersih Merekah Rp2,51 Triliun berkat Efisiensi Bebas Bunga

AI Makin Canggih, Bukti Video dan Foto di Pengadilan Kini Jadi Sorotan

Polisi Berhasil Menangkap Tiga Pelaku Karhutla di OKU Timur

Polisi Tangkap Tiga Pelaku Karhutla di OKU Timur

Lestarikan Tradisi, Pemprov Babel Jadikan Nganggung sebagai Wisata Budaya

Dorong Kunjungan Wisata, Pasaman Barat Bina Pokdarwis untuk Beri Pelayanan Terbaik ke Wisatawan

Petenis Putri Indonesia Aldila Sutjiadi Terhenti di Laga Pembukanya

Cegah Gagal Panen, BWS Sumatera VI Alirkan Air ke Lahan Pertanian Terdampak Kekeringan di Sarolangun Jambi

Kepala Bapanas: 80-90% Beras Fortifikasi di Ritel Diduga Palsu

Permintaan Pasar Nusantara Stabil, Harga Ternak Sapi di Gorontalo Utara Tetap Tinggi

Dinas Ketahanan Pangan Kota Mataram Siapkan 3 Ton Beras Cadangan Bencana

Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Serempak Naik pada Selasa Ini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.