- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Beri Izin Khusus: Jutaa...
AS Beri Izin Khusus: Jutaan Barel Minyak Rusia yang Terjebak di Laut Kini Boleh Dijual
Jumat, 06 Mar 2026, 19:45 WIBJAKARTA - Amerika Serikat untuk sementara melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Russia guna memungkinkan jutaan barel minyak mentah yang terjebak di laut dijual ke India. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Kantor Pengawasan Aset Asing mengeluarkan lisensi khusus berdurasi 30 hari yang mengizinkan pengiriman dan penjualan minyak mentah serta produk minyak Russia yang telah dimuat ke kapal hingga 5 Maret 2026. Kebijakan tersebut memungkinkan transaksi berlangsung hingga 3 April, termasuk untuk kapal yang sebelumnya masuk dalam daftar sanksi.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan langkah tersebut hanya bersifat sementara untuk meredakan tekanan pasar energi. Ia menekankan kebijakan itu bukan berarti Washington melonggarkan sikap terhadap pemerintah Russia.
"Langkah yang sengaja bersifat jangka pendek ini tidak akan memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi pemerintah Russia karena hanya mengizinkan transaksi yang melibatkan minyak yang sudah terperangkap di laut," kata Bessent.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap tekanan yang muncul di pasar energi global.
"Pengecualian tersebut dirancang untuk meredakan tekanan yang disebabkan oleh upaya Iran untuk menyandera energi global," ujarnya.
Sejumlah sumber industri menyebutkan kilang minyak India mulai membeli kargo dari lebih dari 15 juta barel minyak mentah Russia yang saat ini berada di kapal tanker di sekitar wilayah tersebut. Lebih dari selusin kapal dilaporkan menganggur di kawasan Laut Arab dan Teluk Benggala karena sebelumnya tidak memiliki pembeli.
Selain itu, delapan kapal tanker lainnya yang berada di lepas pantai Singapura diperkirakan dapat mencapai pelabuhan India dalam beberapa hari ke depan. Kapal tambahan yang saat ini berada di kawasan Mediterania dan Terusan Suez juga diperkirakan tiba di India dalam waktu sekitar satu bulan.
Langkah Washington tersebut datang pada saat krusial bagi keamanan energi India. Negara itu selama ini mengimpor sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, jalur utama perdagangan energi yang kini terganggu akibat konflik di Asia Barat.
Kondisi tersebut membuat ketahanan energi India berada dalam posisi rentan karena cadangan domestik negara itu diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar 25 hari. Situasi ini membuat kilang minyak memiliki ruang yang sangat terbatas untuk menghadapi gangguan pasokan.
Dalam beberapa bulan terakhir, India sebenarnya telah mengurangi secara signifikan pembelian minyak mentah dari Russia. Penurunan ini terjadi setelah tekanan dari Amerika Serikat agar New Delhi membatasi aliran pendapatan energi yang masuk ke Moskow.
Data perdagangan menunjukkan impor minyak Russia oleh India turun menjadi sekitar 1,04 juta barel per hari pada Februari 2026, yang merupakan level terendah sejak November 2022. Penurunan tersebut juga terjadi setelah Washington memberikan konsesi tarif terhadap sejumlah produk India dengan syarat negara tersebut mengurangi pembelian minyak dari Russia.
Penurunan tajam tersebut membuat banyak kapal tanker yang membawa minyak Russia tertahan di laut tanpa pembeli dalam beberapa waktu terakhir. Kebijakan lisensi sementara dari Amerika Serikat kini membuka peluang agar kargo minyak tersebut dapat segera dipasarkan dan mengurangi tekanan pasokan di pasar energi global.
- India
- Minyak Mentah
- minyak
- Minyak Bumi
- Minyak Dunia
- Amerika Serikat
- Russia
- sanksi AS
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Arus Balik Lebaran 2026 Capai Puncak Hari Ini, Jasa Marga Siapkan Strategi Khusus di GT Cileunyi
-
AS Cabut Larangan, Rajungan Gillnet RI Bebas Masuk Pasar AS Lagi
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Kemhan Bantah Amerika Serikat Bebas Lintas Udara di MDCP: Kedaulatan RI Jadi Prioritas
-
Amerika Serikat dan Vietnam Bersatu, Dominasi Tiongkok di Industri Chip Terancam Runtuh
-
AS Membentuk Komando Pasukan Khusus Penjaga Pantai untuk Mendukung Kebutuhan Penyitaan Kapal Musuh
-
Kehidupan Masyarakat Kuba Terhantam Dampak Krisis Energi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.